Essay: Berpikir Bebas Bersama Kegilaan Saya, Kamu Takut?

Berpikir Bebas Bersama Kegilaan Saya, Kamu Takut?

Sebagaimana yang disampaikan Forum Muda Paramadina, Himpunan Mahasiswa Falsafah dan Agama (HIMAFA) Universitas Paramadina, dan Soetrisno Bachir Foundation tentang perlombaan esai, maka topik yang akan saya lombakan adalah Berpikir Bebas Bersama Kegilaan Saya, Kamu Takut? Pertama-tama mungkin langkah yang perlu dilakukan adalah mencoba memahami apa yang dimaksud dengan kalimat Berpikir Bebas Bersama Kegilaan Saya, Kamu Takut? Kalimat tersebut mengandung pengertian yang luas oleh banyak pihak. Ahmad Wahib mengatakan akal bebasku yang berkata, akal bebas yang meronta-ronta untuk berani berpikir tanpa disertai ketakutan akan dimarahi Tuhan. Dengan pemikiran tersebut, saya pikir tidak banyak pemikir bebas dalam semua agama dan kepercayaan; tetapi saya pikir ini bukan pemikiran yang benar dari kalimat ini, seandainya hanya karena kalimat ini menyebabkan semua orang yang bukan kelompok pemikir bebas—semua pemikir-pemikir bebas—tidak berusaha menjalani kehidupan yang baik. Saya tidak mengartikan pemikir bebas sebagai seseorang yang mencoba hidup dengan benar menurut agama dan kepercayaannya. Saya pikir kita mesti mempunyai sejumlah keyakinan tertentu yang baku sebelum kita berhak mengatakan Berpikir Bebas. Pernyataan ini tidak mempunyai makna yang pasti sekarang ini, berbeda dengan masa Pra-Sokrates. Di masa itu, bangsa Yunani yang pertama kali berusaha menggunakan akal untuk berpikir. Kegemaran bangsa Yunani merantau secara tidak langsung menjadi sebab meluasnya tradisi berpikir bebas yang dimiliki bangsa Yunani. Saya pikir di jaman ini, jika seseorang dikatakan bahwa ia adalah seorang berpikir bebas maka yang dimaksud sudah jelas. Kita menerima semua kumpulan orang-orang yang menjalankan kemanusiaan itu sendiri, yang terlahir dengan segenap hak kebebasannya. Ketika saya membaca tema Berpikir Bebas Bersama Ahmad Wahib, Siapa Takut? Muncul pertanyaan apakah Ahmad Wahib sudah termasuk kumpulan orang-orang yang menjalankan kemanusiaan itu sendiri, yang terlahir dengan segenap hak kebebasannya? Apakah saya dapat mengenal Ahmad Wahib melalui pikiran-pikirannya dalam bentuk catatan harian? Sudah barang tentu saya dapat berpikir bebas bukan lantaran catatan, pendapat, dan penangkapan Ahmad Wahib tentang masalah-masalah yang ia pikirkan. Saya berpikir bebas atas kesadaran menjalankan kemanusiaan itu sendiri, yang terlahir dengan segenap hak kebebasannya.
Sebab otak saya dan otak Ahmad Wahib adalah sama ciptaan Tuhan. Hanya saat ini, kata “Tuhan” tersebut tidak begitu jelas. Kita mempunyai pengertian yang agak kabur akan Tuhan. Tetapi saya pikir ada dua hal berbeda yang sangat penting bagi kata Tuhan. Yang pertama terkait dengan dogma—yaitu kita harus percaya pada Tuhan. Jika kita tidak percaya pada Tuhan, saya pikir kita tidak bisa menyebut diri kita sebagai BerTuhan. Kemudian, sebagai kelanjutan dari yang pertama, sebagaimana tersirat dari kata Tuhan, kita harus percaya pada Tuhan Kristus bagi umat Kristen. Umat Muslim, misalnya, juga percaya pada Tuhan, tetapi mereka tidak menyebut Tuhannya, Tuhan Kristus. Saya pikir sedikitnya kita harus mempunyai keyakinan bahwa Tuhan Kristus dan Tuhan umat Muslim, jika bukan Tuhan, paling tidak adalah manusia terbaik dan paling bijaksana. Jika kita tidak percaya dengan Tuhan Kristus dan Tuhan umat Muslim, saya pikir kita tidak berhak menyebut diri kita sebagai Kristen atau Islam. Tentu saja ada pengertian lain yang kita temukan, di mana umat Kristen, Muslim, Budha, Yahudi, dan penyembah berhala sekalipun; dan dalam pengertian ini kita semua tidak menyadari kemanusiaan itu sendiri, yang terlahir dengan segenap hak kebebasannya. Oleh karenanya ketika saya berkata kepada Anda mengapa saya bukan seorang Kristen, Islam, Yahudi, Budha, dan penyembah berhala sekalipun, saya mesti mengatakan kepada Anda dua hal yang berbeda, mengapa saya tidak percaya pada Tuhan umat Kristen, Tuhan umat Islam, Tuhan umat Budha, dan seterusnya; kedua, mengapa saya tidak menganggap bahwa para utusan-utusan itu adalah manusia terbaik dan paling bijaksana, meskipun saya mengakuinya para utusan-utusan itu memiliki kebaikan moral yang sangat tinggi.
Tetapi untuk upaya yang berhasil dalam membebaskan otak saya atau jangan-jangan saya tidak mampu membebaskan otak saya dari kumpulan orang-orang yang menjalankan kemanusiaan itu sendiri, yang terlahir dengan segenap hak kebebasannya dan saya tidak bisa mengambil definisi yang begitu dominan akan kebebasan berpikir. Sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, Pra-Sokrates mempunyai pengertian yang jauh lebih dominan. Misalnya, menurut Barthelemy, kebebasan berpikir bangsa Yunani disebabkan di Yunani sebelumnya tidak pernah ada agama yang didasarkan pada kitab suci. Sedangkan Livingstone berpendapat bahwa adanya kebebasan berpikir bangsa Yunani dikarenakan kebebasan mereka dari agama dan politik secara bersamaan. Di negara kita, sebagaimana yang kita ketahui, kebebasan berpikir tidak lagi menjadi bagian penting karena agama dan politik memainkan peran. Saya tidak tahu apakah kebebasan berpikir dapat membebaskan diri dari belenggu agama, politik dan mampu melebur nilai-nilai agama dan moral tradisional tanpa menggantikannya dengan sesuatu yang substansial.
Apakah lantas saya menyerah semata-mata ketidaktahuan dalam membebaskan diri dari belenggu agama, politik dan mampu melebur nilai-nilai agama dan moral tradisional tanpa menggantikannya dengan sesuatu yang substansial? Saya kira tidak demikian. Tidak tahu belum tentu tidak menghasilkan yang sehat. Tidak tahu itu bermacam-macam, sehingga kita mudah mengetahui tidak tahu mana yang paling sehat. Otak saya ini, sebagai contoh, dapat berpikir bebas mengetahui tidak tahu-tidak tahu lain dalam melepaskan diri dari nilai-nilai atau dogma-dogma agama. Berpikir bebas adalah berpikir rasional. Berpikir bebas menyebabkan Anda bebas memakai jalan pikiran Anda sendiri. Sebuah cara berpikir yang dinamis, bebas dari segala kendala ortodoks dan bebas pula pikiran Anda untuk diuji. (Freethought is reasonable. Freethought allows you to do your own thinking. A plurality of individuals thinking, free from restraints of ortodoxy, allows ideas to be tested, discarded, or adopted ). Dan, kebebasan berpikir saya bukan karena Ahmad Wahib, Albert Einstein, Charles Darwin, Thomas Edison, Bertrand Russell, Sigmund Freud, dan Friedrich W. Nietzche. Cara berpikir bebas saya seperti ini merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai kebenaran dan satu-satunya instrumen atau alat bagi para pencari kebenaran sejati guna mewujudkan gagasannya secara realistis; teruji dan nyata. Ortodoksi merupakan penjara berpikir, sebuah perbudakan yang nelangsa yang harus dimusnahkan di muka bumi ini. Ortodoksi merupakan sumber konflik dan eksploitasi yang bertentangan dengan hak asasi manusia. Logikanya, apabila kita mengetahui bilangan tiga bahwa ia lebih besar dari dua dan lebih kecil dari lima manakala kita yakin akan kenyataan itu, meski guru kita atau orang yang kita anggap karismatik mengatakan sebaliknya, toh kita tetap pada pendirian kita. Jika pendapat yang berlawanan itu menyebabkan kita ragu, berarti kita tidak mengetahui bilangan tiga. Inilah kegilaan saya mengotak-atik kebebasan berpikir:

1. Kitab suci
Hanya karena sesuatu dituliskan bukan berarti ia benar. Ini berlaku untuk Injil, Al Quran dan kitab suci lainnya. Adalah penalaran sirkuler untuk mencoba membuktikan Tuhan ada dengan kitab suci sebagai bukti itu sendiri. Mereka yang percaya kitab suci suatu agama biasanya tidak percaya pada kitab suci agama lain pula.
2. Wahyu
Semua agama mengklaim telah di wahyukan, biasanya lewat orang yang disebut nabi. Namun wahyu adalah sebuah pengalaman pribadi. Bahkan bila wahyu ini benar-benar datang dari Tuhan, tidak ada jalan untuk membuktikannya. Seperti yang Rhomas Paine katakan, ia hanya menjadi wahyu untuk orang pertama, setelah itu hanya menjadi cerita. Orang beragama biasanya tidak percaya wahyu yang datang dari agama lain pula.
3. Kesaksian
Ini terjadi saat Anda secara pribadi merasakan wahyu atau perasaan bahwa Tuhan ada. Walau bila Tuhan benar-benar ada, sebuah perasaan bukanlah bukti, baik Anda maupun perasaan orang lain.
4. Bagian Tuhan di otak
Sebagian orang beragama berargumen bahwa Tuhan mestilah ada, bila tidak mengapa kita harus punya sebuah bagian dalam otak kita yang dapat mengenali Tuhan? Lalu apa guna bagian otak itu bila Tuhan tidak ada? Walau demikian, imajinasi adalah penting bagi kita agar mampu meramalkan masa depan, dan berarti membantu pertahanan hidup kita. Kita dapat membayangkan segala hal yang tidak benar. Ini merupakan hasil sampingan dari kemampuan membayangkan hal-hal yang mungkin benar. Sebagai fakta, ilmuwan telah mulai mempelajari mengapa sebagian orang memiliki keyakinan agama sedangkan yang lain tidak, dari sudut pandang biologi. Mereka menemukan zat-zat kimia tertentu yang muncul dalam otak yang dapat memberi kita pengalaman religius. Dalam studi mengenai agama dan otak, sebuah bidang baru yang disebut neuroteologi, telah menemukan daerah temporal lobe sebagai tempat dalam otak yang dapat membangkitkan pengalaman religius. Bagian lain dari otak yang mengatur naluri sesseorang atas diri dapat di matikan secara sadar selama meditasi, memberikan sang meditator (yang kehilangan naluri batasan pribadinya) perasaan kesatuan dengan alam.
5. Hati terbuka
Tidak ada manfaatnya meminta atheist untuk membuka hatinya dan menerima Tuhan. Bila kami menyingkirkan sikap skeptis kita, kita dapat merasakan pengalaman inspirasional. Namun ini akan merupakan pengalaman emosional dan, seperti sebuah wahyu, kita tidak memiliki jalan untuk memverifikasi apakah Tuhan benar-benar berbicara dengan kita atau kita hanya berhalusinasi.
6. Kisah keajaiban
Banyak agama memiliki kisah mukjizat. Dan sama halnya orang yang percaya pada satu agama biasanya skeptik pada mukjizat yang dikisahkan agama lain, atheist skeptis pada semua kisah mukjizat. Pesulap yang hebat dapat melakukan trik yang mirip mukjizat. Hal-hal dapat di ukur salah dan diterjemahkan salah. Sebuah mukjizat medis dapat diberikan pada kekurangtahuan kita pada kerja tubuh manusia. Kenapa tidak ada keajaiban yang tak terkalahkan, seperti sebuah tangan yang terpotong kembali tumbuh? Mengenai kebangkitan, atheist tidak akan menganggap kisah membangkitkan orang mati sebagai sesuatu yang meyakinkan. Ada banyak legenda seperti itu dalam sastra kuno dan, kembali, kebanyakan umat beragama menolak kisah kebangkitan agama lain. Kisah kebangkitan modern selalu tampak terjadi di negara dunia ketiga di bawah kondisi non ilmiah. Walau demikian, ada ribuan orang di rumah sakit modern yang terhubung dengan mesin yang menyatakan kematian mereka saat mereka mati. Kenapa tidak ada satupun yang bangkit?
7. Rasa Takut akan kematian/surga
Atheist tidak senang dengan fakta bahwa kita semua akan mati seperti halnya orang beragama pula. Walau begitu, rasa takut ini tidak membuktikan bahwa hidup sesudah mati itu ada – hanya bahwa kita berharap ada kehidupan sesudah mati. Namun berharap bukan berarti ini benar. Tidak ada alasan meyakini kesadaran kita bertahan setelah otak kita mati. Pikiran bukanlah sesuatu yang terpisah dengan tubuh. Perubahan kimiawi dan kerusakan fisik pada otak kita dapat merubah pikiran kita. Sebagian orang yang mendapat penyakit alzheimer di akhir hidup mereka. Kerusakan tak dapat balik dari otak mereka dapat dideteksi dengan scan otak. Orang-orang ini kehilangan kemampuan mereka berpikir, tapi masih tetap hidup. Bagaiamana, satu detik setelah orang-orang ini mati, apakah pikiran kembali (dalam ruh)?
8. Takut dengan neraka
Gagasan adanya neraka menyerang atheist sebagai sebuah usaha menjadikan orang percaya lewat rasa takut pada apa yang mereka tidak dapat percayai lewat nalar dan bukti. Satu-satunya cara mendekati ini secara logis adalah menemukan agama yang menghukum Anda paling buruk bila ingkar, dan kemudian percaya pada agama itu. Ok, Anda akan menyelamatkan diri Anda dari hukuman terburuk yang ada—bila agama itu yang benar. Namun bila agama tersebut (dengan hukumannya) tidak merupakan agama yang benar—bila agama yang memiliki hukuman terburuk kedua atau ketiga untuk orang ingkar yang ternyata agama yang benar—maka Anda tidak beruntung. Jadi, neraka agama mana yang merupakan neraka sejati? Tanpa bukti, kita tidak pernah tahu.
9. Timbangan Pascal /Keimanan
Singkatnya, timbangan pascal mengatakan bahwa kita memiliki segalanya untuk diperoleh (keabadian di surga) dan tidak ada ruginya dengan percaya Tuhan. Di sisi lain, kekafiran akan membawa keluar dari surga (yaitu neraka). Kita telah mencatat bahwa surga adalah harapan kosong dan neraka adalah kebohongan, maka mari kita bahas masalah keimanan. Timbangan Pascal menganggap seseorang dapat memenuhi dirinya sendiri dengan memiliki keimanan. Ini bukanlah kenyataannya, khususnya pada kasus atheist. Haruskah atheist berpura-pura beriman. Namun menurut sebagian besar definisi Tuhan, tidakkah Tuhan tahu kalau atheist berpura-pura? Akankah Tuhan membalas ini? Bagian dari timbangan Pascal menyatakan bahwa Anda ‘tidak kehilangan apa-apa’ dengan beriman. Namun seorang atheist tidak akan setuju. Dengan beriman pada syarat ini, Anda menerima semacam keimanan. Dengan kata lain, Anda mengatakan Anda mau mengabaikan bukti sebagai landasan Anda menilai kenyataan. Keimanan tidak begitu indah bila dinyatakan demikian bukan?
10. Menyalahkan korban
Banyak agama menghukum orang yang tidak beriman. Walau demikian, keimanan membutuhkan keyakinan, dan sebagian orang, seperti atheist, tidak mampu menerima keyakinan. Pikiran mereka hanya mau menerima bukti. Maka, apakah atheist mesti disalahkan karena tidak beriman saat Tuhan tidak menyediakan cukup bukti?
11. Akhir dunia
Seperti konsep neraka, ini menyerang atheist dengan taktik keTakutan agar orang percaya lewat rasa Takut apa yang mereka tidak dapat percayai lewat nalar dan bukti. Telah ada ramalan-ramalan bahwa dunia akan berakhir berabad-abad yang lalu. Pertanyaan yang Anda dapat ajukan pada diri Anda sendiri, bila Anda mendasarkan keyakinan agama Anda pada ini, berapa lama Anda harus menunggu—berapa lama waktu yang akan meyakinkan Anda bahwa dunia tidak akan berakhir?
12. Makna dari kehidupan
Ini adalah gagasan yang, tanpa keyakinan dalam Tuhan, kehidupan akan tidak memiliki arti. Bahkan bila ini benar, ia hanya membuktikan bahwa kita ingin adanya Tuhan agar hidup kita berarti, bukan bahwa Tuhan sesungguhnya benar-benar ada. Namun fakta dasar bahwa atheist dapat menemukan makna hidup mereka tanpa keyakinan pada Tuhan menunjukkan bahwa keyakinan pada Tuhan tidak diperlukan.
13. Tuhan tidak dapat dipersepsi, seperti cinta
Cinta tidaklah ilusif. Kita dapat mendefinisikan cinta baik sebagai perasaan dan sebagai sesuatu yang ditunjukkan oleh tindakan. Tidak seperti Tuhan, cinta adalah benda fisik. Kita tahu zat-zat kimia yang bertanggung jawab atas perasaan cinta. Juga, cinta tergantung pada struktur otak–seseorang yang menderita lobotomi atau tipe lain kerusakan otak tidak dapat merasakan cinta. Lebih lanjut, bila cinta bukanlah hal nyata, ia tidak akan ada dalam otak fisik kita. Kita akan menduga adanya entitas gaya yang disebut cinta mengambang di udara.
14. Moralits/etika
Ini adalah gagasan bahwa tanpa Tuhan kita tidak punya landasan moralitas. Walau demikian, sebuh hukum moral sekuler ada sebelum Injil: undang-undang Hammurabi. Dalam dialog karya Plato yang disebut Euthyphro, Socrates bertanya seorang laki-laki bernama Euthyphro apakah sesuatu itu baik karena Tuhan mengatakannya, atau apakah Tuhan menyatakan sesuatu itu baik karena memiliki kebaikan instrinsik? Bila sesuatu itu baik karena Tuhan mengatakannya, maka Tuhan dapat merubah pikirannya mengenai apa itu baik. Maka, tidak ada moralitas mutlak. Nilai Tuhan hanya mengumumkan sesuatu itu baik karena ia memiliki kebaikan intrinsik, maka kita akan mampu menemukan kebaikan intrinsik ini dalam diri kita sendiri, tanpa butuh keyakinan pada Tuhan. Umat kristen bahkan tidak saling setuju mengeni moral saat hal ini berkaitan dengan masturbasi, seks pra nikah, homoseksualitas, perceraian, kontrasepsi, aborsi, riset sel batang embrionik, euthanasia dan hukuman mati. Umat kristen menolak beberapa hukum moral dalam Injil, seperti membunuh anak yang tidak taat atau orang yang bekerja pada hari sabbath. Maka, umat kristen mesti menerapkan standar etika mereka sendiri dari luar Injil agar mampu mengenali perintah ini dalam Injil sebagai sesuatu yang tidak etis. Moralitas adalah sesuatu yang berevolusi dari kita sebagai mahluk sosial. Ia berlandaskan pada keuntungan yang kita dapat dari kerjasama dan akibatnya.
15. Kehendak bebas
Sebagian orang berpendapat bahwa tanpa Tuhan tidak akan ada kehendak bebas, bahwa kita kan hidup dalam alam semesta deterministik dari sebab dan akibat dan kita hanyalah robot. Sesungguhnya, ada jauh lebih sedikit kehendak bebas dari pada yang orang pikirkan. Situasi dan kondisi kita (keinginan biologis kita untuk bertahan hidup dan maju, dikombinasi dengan pengalaman kita) membuat pilihan-pilihan pasti jauh lebih sering daripada yang lain. Bagaimana lagi kita menjelaskan kemampuan kita, dalam banyak kasus, untuk meramalkan perilaku manusia? Percobaan telah menunjukkan bahwa otak kita membuat sebuah keputusan untuk bertindak sebelum kita sadar mengenainya! Sebagian percaya bahwa kehendak bebas yang kita miliki hanyalah untuk memeriksa sebuah veto kesadaran pada tindakan-tindakan yang disarankan oleh pemikiran kita. Sebagian besar atheist tidak bermasalah dalam mengakui bahwa kehendak bebas mungkin hanyalah ilusi. Isu ini juga membawa sebuah pertanyaan: Bila Tuhan yang menciptakan kita tahu mengenai masa depan, bagaimana dapat kita memiliki kehendak bebas? Pada akhirnya, bila kita menikmati hidup kita, apakah bermasalah bila kehendak bebas itu nyata atau ilusi? Bukankah hanya ego kita – kepercayaan diri kita yang sehat yang menguntungkan bagi pertahanan hidup – yang telah dikondisikan untuk percaya bahwa kehendak bebas nyata adalah sesuatu yang lebih baik daripada kehendak bebas yang khayal?
16. Kesulitan dari agama
Kadang diargumenkan bahwa karena ritual agama tertentu sulit untuk diikuti, tidak ada yang akan melakukannya bila Tuhan tidak ada. Walau demikian, adalah keyakinan adanya Tuhan yang memotivasi orang. Tuhan tidak mesti ada agar ini terjadi. Kesulitan akan bertindak sebagai ritus awal sebagai yang terpilih. Lagi pula, bila setiap orang dapat diselamatkan, maka tidak ada tujuannya memiliki agama. Pada akhirnya, penghargaan atas kepatuhan dijanjikan oleh sebagian besar agama—sebuah surga—jauh melebihi segala kesulitan yang ditampilkan agama.
17. Dikotomi yang salah
Ini disajikan dengan proposisi ‘atau’, dimana Anda hanya diberikan dua alternatif kemungkinan saat, pada kenyataannya, ada lebih banyak kemungkinan. Ini sesuatu yang banyak orang Kristen akrab: “Apakah Yesus gila atau ia Tuhan. Karena Yesus mengatakan hal-hal bijaksana, ia tidak gila. Maka, ia pasti Tuhan, seperti kata-katanya.” Namun itu bukan dua kemungkinan saja yang ada. Pilihan ketiga adalah, ya, adalah mungkin untuk mengatakan hal-hal bijaksana dan sekaligus berdelusi bahwa engkau adalah Tuhan. Kemungkinan ke empat adalah Yesus tidak mengatakan apa-apa yang dinisbahkan padanya dalam Injil. Mungkin ia tidak benar mengatakan hal-hal bijaksana itu, namun sang penulis Injil mengatakan ia mengatakannya. Atau mungkin ia tidak pernah mengklaim sebagai Tuhan, namun para penulis mengubahnya menjadi Tuhan setelah ia mati. Kemungkinan ke lima adalah bahwa Yesus adalah karakter fiksi dan ini berarti semuanya di karang oleh para penulis. Ini contoh lain dari dikotomi yang salah : “Tidak ada yang mati demi kebohongan. Orang Kristen awal mati untuk kristen. Maka, Kristen pasti benar.” Apa yang tersisa adalah tidak ada bukti bahwa siapapun yang pernah mengenal Yesus secara pribadi (bila ia memang ada) menjadi martir. Kita hanya punya cerita-cerita tentang para martir. Penjelasan lain adalah bahwa para pengikut telah dibodohi, dengan sengaja atau tidak, untuk memikirkan kalau Yesus itu Tuhan, sehingga mereka bersedia mati demi kebohongan (yang mereka pikir benar.) Point lain adalah bahwa bila Anda yakin Anda akan berakhir di surga setelah Anda mati, maka martir bukanlah hal yang terlalu bermasalah. Pada akhirnya, apakah fakta bahwa pengebom 9/11 bersedia mati demi keyakinan mereka membuktikan bahwa Islam benar?
18. Tuhan pengisi celah (kedokteran, kehidupan, alam semesta)
Argumen Tuhan pengisi celah mengatakan bahwa bila kita tidak tahu jawaban ilmiah saat ini mengenai sesuatu, maka “Tuhan melakukannya”. Tuhan pengisi celah dipakai dalam banyak bidang, namun saya akan fokus dalam tiga yang utama: pengobatan, kehidupan dan alam semesta. Anda akan menemukan bahwa Tuhan tidak pernah mesti membuktikan dirinya ada dalam argumen ini. Adalah selalu diasumsikan bahwa ia selalu menang secara default. Ini adalah contoh medis: Seorang mengalami kesembuhan dari penyakit yang tidak dapat dijelaskan sains. Maka, Tuhan melakukannya. Namun ini menganggap kita tahu segalanya tentang tubuh manusia, sehingga penjelasan alami tidaklah mungkin. Namun faktanya, kita tidak memiliki pengetahuan medis yang lengkap. Kenapa kita tidak pernah melihat sesuatu yang merupakan mukjizat sejati, seperti tangan terpotong yang tumbuh secara instan? Beberapa studi tentang doa, di mana pasien tidak tahu apakah mereka didoakan atau tidak, termasuk studi oleh klinik Mayo, telah menunjukkan bahwa doa tidak memiliki efek pada penyembuhan. (Ini memunculkan pertanyaan kenapa kita mesti memiliki Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Pengasih, agar disembuhkan. Ini kelihatannya ironis, berdoa pada Tuhan agar disembuhkan dan efek dari bencana alam yang ia sendiri ciptakan. Ini juga memunculkan masalah kejahatan : Bila Tuhan Maha Kuasa dan Maha Pengasih, kenapa kejahatan ada?) Sebagai contoh dari Tuhan pengisi celah pada kehidupan adalah kreasionisme dan ‘rancangan cerdas’. Ia mengatakan kita tidak tahu apa-apa tentang evolusi, maka Tuhan ada. Ini mengabaikan bukti fosil dan genetis dan juga gagal menjelaskan bahwa banyak rancangan buruk dan sub optimal di alam. Apakah Tuhan tidak kompeten atau perancang yang ceroboh? Contoh final dan paling populer dari Tuhan pengisi celah adalah alam semesta. Namun dengan mengatakan kalau kita tidak tahu pasti asal usul alam semesta—bila alam semesta memang punya awal—tidak berarti Tuhan yang melakukannya. Dan, tentu saja, ia meminta pertanyaan: Siapa yang menciptakan Tuhan? Bila makhluk rumit butuh pencipta untuk menjelaskan keberadaannya, maka Tuhan dengan definisi tradisional adalah jauh lebih rumit dari alam semesta, dan ini berarti lebih membutuhkan seorang pencipta.
19. Bumi yang ditata dengan baik
Sebagian orang beragama berpendapat bahwa bumi diposisikan tepat dalam tata surya (tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin) agar kehidupan ada. Lebih jauh, unsur-unsur di bumi (karbon, oksigen) juga tepat. Orang-orang ini mengklaim bahwa ini tidak dapat terjadi secara begitu saja, jadi Tuhan mesti ada untuk memposisikannya dan mengatur kimiawinya. Kita mesti mampu mengenali argumen Tuhan pengisi celah di sini. Namun sebuah penolakan yang lebih baik lagi ada. Bila bumi adalah satu-satunya planet di alam semesta, maka ini akan jelas bahwa kondisi kita dibuat dengan tepat. Namun sebagian besar orang beragama mengatakan bahwa mungkin ada ribuan, bila tidak jutaan planet lain di alam semesta. (Tata surya kita memiliki 8 planet). Maka, dengan kebetulan, paling tidak satu dari planet ini akan memiliki kondisi yang memungkinkan adanya kehidupan. Kita dapat membayangkan makhluk ungu religius dengan empat mata dan bernafas dengan karbon dioksida di planet lain yang juga percaya kalau planet mereka ditata dengan tepat dan bahwa Tuhan sang pencipta itu ada dalam wujud mereka.
20. Alam semesta yang tertata dengan benar
Sebagian orang beragama berpendapat bahwa enam tetapan fisik di alam semesta (yang mengendalikan hal-hal seperti kekuatan gravitasi) hanya dapat ada dalam jangkauan sangat sempit untuk menghasilkan alam semesta yang mampu menopang kehidupan. Maka, karena ini tidak dapat terjadi secara kebetulan, Tuhan masti melakukannya. Kembali, ini adalah argumen Tuhan pengisi celah. Namun di luar itu, argumen ini beranggapan bahwa kita tahu segalanya mengenai astrofisika—sebuah bidang di mana penemuan baru di temukan dalam hampir setiap hari. Kita dapat menemukan bahwa alam semesta kita tidak begitu telitinya ditata. Walau begitu, penolakan terbaik adalah mungkin ada alam semesta jamak—baik terpisah atau sebagai alam semesta gelembung dalam satu alam semesta. Masing-masing alam semesta ini dapat memiliki deretan tetapan mereka sendiri. Dengan cukup jumlah alam semesta, dengan kebetulan paling tidak satu akan menghasilkan kehidupan. Kita tahu adalah mungkin untuk paling tidak satu alam semesta ada – kita di dalamnya. Bila satu dapat ada, kenapa tidak banyak? Di sisi lain, kita tidak memiliki bukti bahwa mungkin ada satu Tuhan.

Akhirnya, saya percaya adanya Tuhan bukan dalam bentuk ortodoksi. Saya berpikir, seandainya adanya saya di dunia tanpa makhluk-makhluk hidup lainnya, apakah nama saya manusia dan mengenal nama Tuhan dalam bentuk ortodoksi? Mengapa saya harus beragama? Tidak ada yang bersifat kebetulan berkenaan dengan adanya saya, Ahmad Wahib, Albert Einstein, Charles Darwin, Thomas Edison, Bertrand Russell, Sigmund Freud, dan Friedrich W. Nietzche.
Saya kira jelas, Tuhan telah dipenjarakan dan dimonopoli oleh agama. Saya menjadi tahu (apa yang memang mestinya saya ketahui) bahwa satu-satunya jalan membebaskan Tuhan adalah Tuhan milik manusia yang menjalankan kemanusiaan itu sendiri, yang terlahir dengan segenap hak kebebasannya dan kebebasanNya. Bayangkan, Anda lahir dalam kondisi suci dan orang tua Anda adalah Kristen, Muslim, Yahudi, dan penyembah berhala sekalipun. Apa jadinya Anda? Anda menemukan nama Tuhan karena orang tua Anda adalah Kristen, Muslim, Yahudi, dan penyembah berhala sekalipun. Penemuan nama Tuhan saat ini melalui warisan turun-temurun ibarat multi level marketing (MLM). Di mana, setiap anggota yang lebih tua (up line) mewajibkan anggota yang lebih muda (down line) dan seterusnya. Down line berusaha menjadi up line tanpa memperhatikan apakah para down line sungguh-sungguh memahami konsep marketing yang diinginkan. Mayoritas manusia menamakan diri Muslim, Kristen, Yahudi, dan penyembah berhala sekalipun karena kedua orang tuanya.
Lalu, bagaimana apabila saya menyatakan bahwa tidak ada seorangpun yang tahu bahwa Tuhan itu ada atau tidak; dan atheist, yang mengatakan ada sangat sedikit sekali kemungkinan bahwa Tuhan itu ada. Inilah kegilaan saya mengotak-atik kebebasan berpikir: Selama satu bulan ini saya bergaul dengan apa itu atheist? saya tidak akan menjelaskannya. Tetapi yang kutahu, atheist itu tidak mempunyai agama, mereka cuma tahu dan menjalani apa yang dianggapnya baik dan buruk. Menjadi atheist tidaklah seburuk yang saya kira. Mereka terbuka dengan semua ajaran agama. Setidaknya mereka tidak saling mengganggu dan meracuni umat beragama satu sama lain. Mereka belajar dari pengalaman, mereka belajar hal-hal yang benar dan salah di dunia ini. Mereka belajar logika bahwa Tuhan hanya khayalan beberapa orang saja di masa lalu dan akhirnya ada hingga sekarang. Artinya, bahwa dengan belajar dari pengalaman atheist akhirnya tahu bahwa macan dan singa tidak akan menyerangnya kalau kita tahu bagaimana cara mengendalikannya. Bagi saya juga macan tidak berbeda dengan kucing, hanya saja macan itu bertubuh lebih besar. Selebihnya, dia suka kalau dielus dan dimanja. Kucing juga kalau diganggu akan menyerang, hanya saja cakaran dan gigitannya tidak sebuas macan.
Yap, dengan menjadi atheist mungkin saya tidak menjadi pengikut Tuhan yang setia. Tetapi menjadi atheist tidak perlu saling curiga, anarkis dan unjuk rasa dengan sesama pemeluk agama lain. Lihat saja, pemeluk agama di Indonesia. Buktinya? Unjuk rasa atas nama agama yang disertai tindakan anarkis ada dimana-mana. Seperti masyarakat yang tidak beradab saja. Tuhan tidak mengajarkan untuk itu. Alasannya? Ataukah hanya sebuah pelampiasan belaka? Saya tidak tahu.
Orang-orang atheis yang baru belajar percaya bahwa atheisme adalah sebuah wahana untuk menghina Tuhan, agama dan sayangnya atheisme tidak serendah itu. Seperti kata non-teistik, anti-teistik tidak perlu harus atheistik. Seorang non-theist adalah seorang yang tidak percaya pada definisi theistik mengenai Tuhan.
Manusia mendefinisikan Tuhan secara berbeda-beda, jadi tidak semua definisi Tuhan berada di bawah makna theistik. Seorang theist atau theisme klasik, percaya bahwa Tuhan sebagai makhluk, sangat antropomorfik dan memiliki segala kemampuan di alam semesta. Tuhan ini di anggap memiliki sebuah firman yang diberikan kepada seluruh moralitas umat manusia.
Keyakinan non-theistik adalah mereka yang memakai kata “Tuhan” sebagai sebuah metafora. Mungkin karena mereka tidak bisa memikirkan kata yang lebih baik? Saya kadang bertanya-tanya, bagaimana kamu bisa percaya pada Tuhan tanpa percaya pada segala kekuasaanNya. Apa kepuasan yang muncul dalam menyembah sesuatu seperti katakanlah Jagad Raya atau Alam Semesta? Mungkin Tuhan-Tuhan ini tidak benar-benar untuk disembah. Saya tidak tahu.
Kembali pada anti-teisme. Sebagian orang idiot menyebut atheist sebagai pembenci Tuhan (terima kasih pada mereka yang tidak berpikir yang bilang jika atheis adalah pembenci Tuhan). Bagaimana kamu bisa membenci sesuatu yang tidak ada? Mungkin kita harus mengembangkan ini sedikit lebih luas. Hal terbaik untuk diucapkan adalah ” Sebagian atheist adalah anti-theist namun tidak semua anti-theist adalah atheist”.
Atheisme adalah berbeda dengan anti-theisme. Anti-theisme berpijak pada gagasan sebuah Tuhan atau dewa-dewa tertentu. Seorang anti-theist tidak setuju dengan semua tuhan. Ia mungkin mengkritik gagasan menyebut Tuhan tertentu sebagai Tuhan. Sebagian besar anti-theist telah membaca “kitab-kitab suci” yang berbeda (seperti Al qur’an misalnya) dan membandingkannya dengan kitab suci lainnya. Sebagian mungkin menemukan bahwa Tuhan yang ditulis di sebagian kitab suci adalah bertentangan dan tidak pantas untuk disembah dibandingkan Tuhan lain di kitab suci lainnya. Bagi mereka, adalah buang-buang usaha, tenaga dan waktu bahkan jiwa untuk menuruti kitab-kitab suci tersebut. Sebagian anti-theist mungkin mengatakan bahwa Tuhannya orang Islam itu kejam, jahat, bahkan pencemburu, tidak sebanding dengan Brahma atau Khrisna yang lebih damai dan mencintai siapa saja.
Namun anti-theisme bukan pembenci. Ada alasan atas kebencian amat sangat terhadap hipotesis Tuhan tertentu. Sebagian besar atheist memiliki derajat anti teisme terkait dengan Tuhannya orang islam atau kristen. Namun itu bukan berarti mereka percaya adanya Tuhan dan membenci Tuhan (Gagasan bahwa “tidak ada atheist sejati?”). Bukanlah Tuhan yang mereka tidak suka, namun gagasan dan organisasi yang menyusun gagasan tersebut.
Sekarang siapa yang disebut pembenci? Mereka yang menghina Tuhan dan agama tertentu. Ini membuat nama atheisme jelek di mata theisme. Anti-theisme lebih mirip sebagai protes. Seperti mereka yang demo sambil mengolok-olok yang di demonya.
Menghina agama dan Tuhan bukanlah pekerjaan seorang anti-theist atau atheist yang terhormat. Kita disini untuk membuka ilusi bukan untuk menjadi ilusi itu sendiri. Tuhan-Tuhan itu ilusi dan lebih baik menjadi atheis. Tidak perlu menjadi munafik kepada Tuhan, karena memang tidak punya Tuhan. Ada seseorang yang pernah saya cintai yang berbicara atas nama Tuhan hanya untuk mengingkari janjinya sendiri. Oh.. persetan dengan omongannya. Sudah saya duga itu bohong! Mengapa ia harus bawa-bawa nama Tuhan hanya demi melancarkan tujuannya, katakan saja yang sebenarnya, toh saya sudah tahu. Saya mungkin akan dua kali lebih sakit daripada sekarang, tapi setidaknya ia tidak perlu menjadi orang yang munafik dan menjadi sok suci di hadapan agama serta membuat saya berharap seakan-akan omongannya memang benar karena berdasarkan atas ketentuan Tuhan.
Kalau ditanya, bagaimana denganku? Baik, saya bukan atheis. Saya cuma menghargai dan menghormati prinsip para pengikut atheis. Tetapi saya juga bukan makhluk Tuhan yang sangat religius. Saya percaya Tuhan ketika anugerah datang pada saya dan saya sangat bersyukur padaNya. Tetapi saya juga mengikuti perkembangan jaman sekarang. Sayangnya di Indonesia tidak boleh menjadi atheis, saya harus memilih dari enam agama yang telah ditunjuk oleh negara. Saya pikir seharusnya adakan saja atheis, daripada punya agama cuma untuk status di KTP saja. Beberapa anggota keluarga saya juga kalau dipikir-pikir sebenarnya mereka bisa dikatakan atheis. So what? Apakah ada bedanya? Toh mereka tidak mempengaruhi orang lain untuk berbuat jahat. Lihat Indonesia, walaupun katanya umatnya beragama tetapi negaranya masih tetap kacau.
Yah, anggap saja saya berbicara ngawur, ngaco. Anggap saja saya sedang mabuk sehingga menulis esai ini seenak tali pusar saya sendiri. Inilah kegilaan saya mengotak-atik kebebasan berpikir dan Bebas Bersama Kegilaan Saya, Kamu Takut? Jangan dibaca dan jangan protes kalau pemikiranku salah. Jangan juga membenarkan apa yang menurutmu ini salah. Kalau mau membantah esai saya ini, silahkan tulis esai sendiri. Saya tidak perlu orang lain untuk mengomentari pemikiranku. Kalau suka yah terima kasih berarti pemikiran kita sama, tetapi kalau nggak yah sudah. Toh saya tidak akan mengganggumu. Sudah cukup saya hidup dalam aturan-aturan yang saya pikir akan memudahkan hidup saya ternyata tidak. Saya seharusnya sadar dengan membuat aturan-aturan sendiri untuk memudahkan hidup saya sendiri, bukan mengikuti aturan yang telah dibuat orang lain, oleh negara, oleh agama misalnya. Tetapi tentunya aturan-aturan saya tidak lepas dari aturan-aturan yang dibuat oleh negara maupun agama, hanya bedanya saya hanya memilih aturan yang menurut saya cocok dan pantas saya terapkan dalam hidup saya. Selanjutnya? Omong kosong! Nggak ada satupun manusia biasa yang seratus persen menerapkan aturan secara menyeluruh dalam hidupnya. Saya berani bertaruh itu.
Maka, umat beragama memiliki tugas sangat berat, atau bahkan mustahil untuk mencoba membuktikan bahwa Tuhan ada, belum lagi bahwa agama mereka benar. Bila setiap agama memiliki standar objektif, tidakkah setiap orang pada akhirnya bersatu pada satu agama? Tapi kita melihat bahwa, orang-orang ini cenderung percaya, pada beragam derajat, agama yang di doktrinkan pada mereka. Atau mereka atheist. Kecuali mereka yang bertaruh, karena Anda tahu, Tuhan mungkin benar-benar seburuk apa yang digambarkan kitab suci, dan berarti jumlah agnostik akan bertambah begitu banyak dan mengatasi semua keyakinan lain. Namun tidak seorang pun menganggap itu dengan serius. Kenapa tidak? Karena itu tidak masalah. Tentu saja, saya percaya Tuhan, kenapa tidak? Tidak ada yang berubah. Bila dengan sedikit sekali kemungkinan ada Tuhan mengambang entah di mana, ia akan akan mendengar saya; bila tidak, tidak ada yang disakiti.
Namun itu memang masalah. Coba pikirkan. Pikirkan dengan lama dan mendalam apakah Anda percaya Tuhan, atau pada kenyataannya Anda hanya Takut kemungkinan adanya Tuhan. Karena taruhannya menjadi semakin mengerikan. Inilah saatnya memikirkan dan mengambil posisi Anda, karena para penceramah agama berbicara kepada Anda, dan apa yang mereka katakan benar-benar aneh. Semisal, bilangan 13. Kenapa? Bukan karena saya benar-benar Takut pada bilangan tigabelas, namun karena selama bertahun-tahun saya menemui orang yang Takut dengan bilangan tiga belas, hingga akhirnya ia memasuki pikiran saya sebagai kekaguman khayal. Tidak ada lantai 13 di hotel? Tidak ada kursi nomer 13, baris nomer 13 di pesawat?
Namun sekarang ia membuat saya gugup, bahkan walau saya sesungguhnya tidak habis pikir mengapa 13 dipandang lebih buruk dari katakanlah, 5, 3, 4 atau 8 dan bagaimana mengenai 1313? Tetap saja, bila seseorang bertanya pada saya ‘apakah Anda Takut dengan bilangan 13? Saya akan katakan, “tidak, itu konyol sekali”. Karena bagian rasional dari pikiran saya bekerja, bukan bagian bagian yang berpikir mengenai magic. Jadi apakah saya percaya adanya Sang Pencipta yang menciptakan alam semesta, mendengarkan doa-doa, dan menyiapkan hukuman abadi? Tidak, tidak sama sekali. Maksud saya, ayolah, tidak perlu analisis mendalam untuk menyadari keseluruhan premis ini konyol. Ia berisi propaganda yang sangat jelas dibuat manusia. Seorang Professor teologi dari Wheaton College di Illinois, Dr. Timothy Larsen mengatakan bahwa semua pertumbuhan minat pada atheisme adalah cerminan kekuatan agama yang pertama menjadi parasit yang memakan yang terakhir. Hal itu terjadi di Amerika abad ke19 akhir saat sebuah era keyakinan agama yang kuat mengangkat suara-suara seperti agnostik terkenal Robert Ingersoll.
Lebih lanjut, ia mengatakan untuk Kristen, sangatlah penting bagi orang-orang dengan keyakinan untuk menyadari betapa bahaya dan mengancamnya posture, retorika dan praktek mereka pada orang lain. Jadi ini adalah sebuah kesempatan bagi gereja untuk melihat dirinya sendiri dan mengatakan “kita telah melakukan banyak hal yang membuat orang lain merasa tidak nyaman. Ini adalah kesempatan untuk melakukan dialog”.
Bagi saya, semuanya pantas untuk dipakai dalam konteks kegilaan agama yang mengisi negara kita. Namun mereka tidak punya konotasi agama. Bila ada sebuah kecenderungan bunuh diri kemanusiaan dapat membuangnya untuk terus maju secara teratur ke masa depan–bahkan sepuluh tahun ke depan, pada saat ini– akan menjadi kecenderungan masyarakat untuk membayangkan alam semesta dijalankan buat mereka secara pribadi oleh superhero tak terlihat yang Maha Kuasa, yang dapat melakukan magic. Saya mengatakan kepada Anda bahwa ada jutaan dan jutaan Amerika yang sempurna gilanya diluar sana, mengklaim sebagai orang beriman, atau paling jelek, agnostik. Di mana pun di dunia, orang-orang dijadikan sandera oleh orang beriman dalam beragam agama yang menghasilkan, seperti yang muncul dimana seseorang menyatakan ada sebuah versi baru dari dari agama suku yang dahulu, dan versi sebelumnya tidak lagi dapat dipakai; ia melakukan banyak keajaiban juga, termasuk mengunjungi langit dalam mahluk separuh keledai, separuh tikus tanah bersayap, di mana ia bercakap-cakap dengan orang sebelumnya yang bisa melakukan keajaiban.
Hal yang begitu salahnya dari keyakinan adalah ia menyatakan, dalam setiap saat, sebuah kesalahan yang benar-benar buruk: bahwa Tuhan ada begitu saja. Tidak ada bukti adanya Tuhan, jadi Tuhan itu ada. Atau segalanya adalah bukti adanya Tuhan, jadi Tuhan ada. Atau seperti sebagian besar orang Amerika suarakan, ia ada di Injil, berarti itu benar. Jangan pedulikan ia juga ada di Qur’an, yang mereka benci dan Takuti, dan bahwa setiap agama memiliki teks yang sama, mundur hingga ke masa Yunani, Mesir, Mesopotamia, dan terus mundur ke dalam kegelapan. Keyakinan adalah musuh dari kebenaran, karena keyakinan meminta Anda memakai kata-kata orang lain untuk sesuatu, biasanya sesuatu yang sangat menjanjikan. Kebenaran meminta Anda memakai indera dan otak Anda untuk mengamati sesuatu yang benar, sementara keyakinan meminta Anda memakai indera dan otak Anda untuk mengamati sesuatu yang bukan.
Beberapa dari Anda akan ingat bahwa semisal, saya adalah seorang Buddhist yang taat. Mereka akan membayangkan, kemudian, bagaimana saya menyerang agama dan Tuhan sebagai gagasan yang konyol, bila saya memasukkan diri saya sendiri sebagai anggota dari salah satu agama besar yang ada saat ini. Saya beritahukan Anda: Semua atheist adalah Buddhist. Saya menominasikannya.
Ini karena Buddhisme adalah sebuah sistem keberadaan, bebas dari Tuhan, sihir, superhero, atau apapun kecuali keadaan dasar dari ada dan ketiadaan. Kita menyebutnya agama, sebagian karena kita tidak punya kata lain untuknya, dan sebagian karena banyak varian lokal dari Buddhisme muncul yang jelas-jelas agama, lengkap dengan superhero sihirnya dan arsitekturnya. Namun Buddhisme juga dikenal sebagai ‘Jalan’, dan itulah ia. Bukan agama, namun jalan untuk ada.
Di sini perbedaannya: Kristiani, Islam, Yahudi dan semua memerlukan satu bahan kunci: Keyakinan. Kenapa keyakinan? Keyakinan adalah sesuatu yang tidak dapat dijelaskan. Apa itu yang tidak dapat dijelaskan? Yang tidak diketahui, dan sihir. Buddhisme tidak memerlukan keyakinan. Apa itu, itulah dia. Atau bukan. Tidak perlu ada sihir. Alasan para umat beragama begitu benci dan Takut dengan sains karena semakin hari ia semakin menyingkap hal-hal yang tidak dapat dijelaskan itu, membawa para orang yang benar-benar beriman semakin jauh dan jauh dari lembah kotak keajaiban, karena hanya tinggal keajaiban yang mereka miliki. Maka mereka mulai membunuh dan menghancurkan pada siapa yang benar mengenai Tuhan, dan mereka membunuh semua ilmuwan.
Buddhisme tidak mengandung keajaiban. Ia menawarkan jalan dan praktek untuk mengalami kehidupan seseorang dan diri seseorang dalam konteks keberadaan yang tragis dan menyakitkan yang secara paradoks jauh lebih awal, dan sebuah metode menghubungkan semua kehidupan dan diri dalam dunia. Tidak begitu buruk. Dan Buddhist secara umum tidak memiliki minat untuk membantai musuh-musuh mereka.
Jadi bacalah esai ini dan renungkan bencana agama yang menghancurkan kesempatan umat manusia selama beberapa milenium di bumi ini. Bayangkan, jika saya seorang atheist, saya seorang Buddhist, dan saya sangat Takut pada umat Kristen, Islam dan Yahudi, semuanya hidup tanpa memeriksa diri mereka, bila mereka tidak marah dengan alasan. Saya pikir ada banyak dari kita orang tak beriman di luar sana yang belum dihitung, namun tinggal menunggu waktu kita mulai berbicara sebelum kita lari ke kotak dan menjadi pupuk akibat kemarahan orang-orang fundamentalis. Yaitu, jangan menangkan esai ini segera setelah kamu membacanya. Saya tidak ingin ada Inkuisisi muncul di depan pintu rumah.
Berawal dari paparan diatas, alasan saya tidak Takut berpikir bebas bersama Ahmad Wahib, Albert Einstein, Charles Darwin, Thomas Edison, Bertrand Russell, Sigmund Freud, dan Friedrich W. Nietzche. Saya bukan mengikuti ahli fikir Islam yang mengikuti Plato dan Aristoteles dan menurut pengetahuan saat ini sebagian besar dari pengetahuan Plato dan Aristoteles, diambil oleh golongan Kristen dengan mempelajari Al Faraby, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusydy. Fakta, Thomas Van Aquino menganggap Ibnu Sina sebagai guru besar sedangkan ahli fikir Kristen pada zaman itu lebih suka pada Ibnu Rusydy. Berpikir Bebas Bersama Kegilaan Saya, Kamu Takut? merupakan pengalaman unik yang tidak pernah saya pahami. Bagaimana mungkin dalam suatu situasi di mana misteri kegilaan (di)bungkam kita bisa hidup dengan nyaman dan merasa bahwa semuanya lancar-lancar saja? Bukankah kegilaan adalah bagian yang wajar dalam pengalaman manusia, yang juga berhak menyuarakan suaranya sendiri? Masyarakat kita sering memandang kegilaan secara mendua. Di satu sisi, kegilaan dipandang sebagai sesuatu yang direndahkan dan dijadikan bahan olok-olok sebagaimana terekspresi dalam lelucon-lelucon tentang kegilaan dan orang gila, yang secara implisit ingin menunjukkan keunggulan akal sehat. Di sisi lain, kegilaan dipuji dan dianggap sebagai sumber jawaban atas masalah-masalah yang tidak bisa dipecahkan secara “biasa,” seperti dalam kasus konsultasi angka main ketika mau membeli lotere atau larisnya dukun-dukun yang dalam kehidupan sehari-harinya dianggap tidak “normal”. Di luar ini, kegilaan dalam masyarakat kita membawa stigma tertentu. Kegilaan dianggap aib sehingga tidak jarang keluarga yang anggotanya menderita kelainan kejiwaan tidak mau mengakuinya bahkan ada yang berusaha menyembunyikannya. Seringkali pula ditemukan bahwa si penderita dirantai, dikurung, atau dipasung. Dalam masyarakat yang lain kegilaan seringkali pula dilihat sebagai akibat kutukan, sihir, atau tumbal dalam keluarga yang mempraktekkan ilmu hitam untuk mencapai kekayaan dan kesuksesan.
Apakah kegilaan itu? Apakah kegilaan itu ada dalam dirinya sendiri ataukah suatu kategori yang dikonstruksikan secara sosial? Mengapa harus ada kegilaan dan orang gila dalam masyarakat? Apakah mereka mempunyai fungsi khusus dalam masyarakat? Saya tahu bahwa kegilaan adalah istilah awam untuk merujuk pada berbagai macam perilaku menyimpang seseorang yang seringkali juga disebut sebagai perilaku abnormal. Praktek psikiatri modern menunjukkan bahwa kegilaan sebenarnya bukanlah fakta, melainkan adalah hasil tindakan penilaian (judgment) para ahli. Sebuah penilaian tentunya tidak bisa lepas dari bias kepentingan yang dibela. Sejarah kegilaan adalah sejarah monolog kekuasaan yang mengatasnamakan akal sehat, di mana kegilaan dibungkam dan tidak diberi kesempatan berbicara mewakili dirinya sendiri. Dari sini bisa disimpulkan bahwa yang namanya kegilaan sebagai suatu fakta bisa dikatakan tidak ada. Kegilaan adalah suatu wacana yang dikonstruksikan secara sosial yang telah melewati kurun waktu yang lama untuk mencapai seperti bentuknya yang sekarang. Pengetahuan medis tentang kegilaan adalah salah satu bentuk dari sarana pengendalian sosial karena kegilaan dianggap sebagai ancaman bagi sistem. Bentuk pengendalian sosial semacam ini sudah tidak lagi menjadi monopoli para ahli kesehatan, melainkan sudah sedemikian menyebar dan menyentuh semua aspek kehidupan masyarakat. Pandangan kita tentang kesehatan bukanlah pandangan kita sendiri, melainkan adalah refleksi pandangan para ahli tanpa pernah kita pertanyakan klaim-klaim otoritasnya. Pewacanaan dan pelipatgAndaan wacana tentang kesehatan dalam masyarakat, selain menguntungkan dan memapankan sistem yang ada, juga telah merampas hak-hak alami masyarakat untuk menentukan kesehatannya sendiri.
Lahir, tumbuh dan berkembangnya wacana kegilaan dalam masyarakat tidaklah muncul tanpa sebab dan tujuan. Kegilaan sebagai wacana diciptakan untuk memenuhi kebutuhan akan legitimasi kekuasaan untuk memberi pembenaran pada apa yang ada dan pada apa yang telah dilakukan pada sekelompok orang yang menyandang gelar “orang gila.” Dengan kata lain, keberadaan orang gila atau kegilaan berfungsi untuk menjaga ketertiban masyarakat yang didasarkan atas rasionalitas. Orang gila menjaga kewarasan kita. Namun di sisi lain, eksistensi kegilaan yang dibutuhkan oleh sistem cukup memalukan karena ini merupakan kritik atas kegagalan sistem yang mengklaim berdasarkan akal sehat. Untuk itu, kegilaan harus dikurung dan diawasi. Tindakan pembungkaman, pemasungan, penyingkiran, dan represi terhadap orang gila yang telah berjalan sepanjang sejarah serta dianggap normal adalah suatu bentuk kegilaan tersendiri. Ucapan Blaise Pascal (1623-1662), seorang pemikir Prancis yang dikutip Foucault dalam kata pengantar Madness and Civilization perlu dikutip ulang untuk mengakhiri tulisan ini: “Manusia sedemikian gilanya, sehingga untuk tidak menjadi gila adalah suatu bentuk kegilaan yang lain.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: