Posted by: panritalopi | January 1, 2009

Coretan Awal Tahun 2009

Sambil mendengarkan lagu Daniael Powter-Bad Day, kumulai untuk menggerakkan jari-jemariku untuk mencoret-coret di atas lembaran putih ini. Walau badan masih sangat pegal karena tidur larut malam dan seharian membantu teman-teman menyiapkan penyambutan malam Tahun Baru 2009 di PB IKAMI SulSel, tempat kumpulnya Mahasiswa dan alumni yang berasal dari Sulawesi Selatan. Seluruh masyarakat di seluruh dunia pastinya ikut menyambut Tahun Baru ini walaupun dengan ber beda-beda moment.

Magrib, 31 Desember 2008 semua teman-teman Apartemen Talang 39 telah sibuk mempersiapkan peralatan-peralatan yang diperlukan untuk penyambutan pukul 00.00. Telah ada terompet. Jagung, bahan-bahan pembuatan Sarabba (minuman khas Sulawesi Selatan) yang ditangani langsung oleh Ical. Desain panggung dan segala propertinya di bawah tanggungjawab Mubarak, seksi pengisian kampung tengah (konsumsi) diamanahkan kepada Ta’dir. Adapun amanah yang diberikan ke saya yakni seksi peralatan, katanya saya harus ngurus-ngurus panci, kompor dan lainnya. Seusai Shalat Magrib, satu per satu tamu sudah mulai berdatangan merapat di depan Apartemen Talang 39. Ada teman-teman dari Trisakti, ALTRI, STIS, STAN Bea Cukai, kakak-kakak alumni dan lain-lain membaur menjadi satu atas nama IKAMI SulSel.

Tibalah di acara penampilan seni Bugis-Makassar yang berlangsung ba’da Isya. Setelah pembukaan oleh MC yang di handel langsung oleh Nenhy, salah satu mahasiswa akhir UPI-YAI. Sambutan yang diberikan oleh Kak Immank sebagai ketua Sanggar Lontara. “Penampilan pertama Rifai dari ALTRI”, kata MC. Saat itu juga Rifai dan kawannya bangkit dari dari tengah-tengah kumpulan anak ALTRI di dam pingi oleh teman band-nya yang telah mempersipkan gitar. Lagu pertama dimulai dan disambut dengan tepuk tangan dari seluruh audiens karena memang suaranya cukup bagus. Laugu demi lagu terus di dendangkan untuk menghibur kawan-kawan yang hadir di halaman.

Saat Rifai masih tampil, saya berdiri dari tempat duduk dan memanggil Ical untuk naik ke lantai 2. Sekedar info, malam ini saya di minta oleh ketua panitia untuk mempersembahkan sesuatu untuk menghibur para penonton. Puisi akhirnya menjadi pilihan saya, maklum untuk nyanyi sih, masih kurang percaya diri. Di lantai 2 bersama Ical saya mulai latihan puisi dadakan yang saya ambil dari Internet. Ical saya minta untuk menyanyi mengiringi lagu saya dan ternyata Ical cukup siap untuk membantu saya. Seusai latihan kami pun kembali ke halaman Apartemen Talang 39.

“Penampilan selanjutnya akan yaitu sebuah puisi yang akan dibawakan oleh Hendri”, suara itu keluar dari vivir MC dengan suara merdu. Kuraih bahu Ical dan kukatakan “Ayo kita naik”. Saya dan Ical berjalan menuju panggung mini. “Assalamu Alaikum Wr. Wb. Malam ini kami akan membawakan puisi-puisi yang pertama yakni Bangkit karya Dedy Mizwar”. Saya pun mulai membacakan puisi tersebut.
Bangkit itu susah…
Susah melihat orang lain susah
Senang melihat orang lain senang
Dst…..(sampai terakhir)
Ical mengiringi puisi saya dengan lagu Indonesia Tanah Air Beta, dia menyanyikan lagu tersebut dengan penuh penghayatan. Seusai puisi Bangkit saya melanjutkan dengan sebuah puisi yang menggambarkan kondisi Bmi Makassar saat ini. Puisi itu diberi judul Kepada Karaeng dan diiringi lagu Sulawesi Parrasanganta dan Anging Mammiri yang masih di nyanyikan oleh Ical. Tanpa berlama-lama saya membuka kertas yang telah ada di tangan saya dan segera saya bacakan di hadapan kawan-kawan.
Kepada Karaeng

di depanku
masih berdiri kokoh Lae-Lae
menumbuhkan seribu pucuk kelapa
melambai, memanggil-manggil para nelayan
agar bergegas melabuhkan perahu kepenatan
diantara gejolak rindu pepasir menghampar.

depanku
masih berdiri kokoh Kahyangan
tersenyum diantara kepak burung camar
hanya angin dan ombak kecil
yang datang sesekali menampar-nampar bibir pantai
lalu surut lagi ke keluasan laut biru.

di depanku, nun diantara kemilau
kecipak air laut selat Makassar
Samolana mengapung di antara senja
dan bayang-bayang malam yang hampir datang
mendekat, mendekap, memeluk kita di Losari
yang tak lagi berpasir kini.

Karaeng, hari ini, aku tiba lagi di kotamu
seusai aku menuntaskan perjalanan
:letih dan lesuh terus mengurungku

hingga segala jarak dan arah mengalah
hingga rindu dendam tak jadi beku.

Karaeng !
“Apa kareba Karaeng?”
inilah Mangkasar yang dulu kau bangun dengan airmata
lewat desah-resah yang tak terbalaskan.

Karaeng, lihatlah !
aku berjalan di sepanjang pantai Losari
memunguti air mataku sendiri begini
: tak ada lagi pepasir yang mengurung kakiku
sebagaimana dulu ketika kau memilih kota ini
menjadi pusat peradaban kerajaan Gowa.

Lihatlah, Karaeng !
senja memang masih indah
tetapi kulihat, tak ada lagi burung camar yang melintas
menampar dan menabrak layar para pelaut
juga tak satupun kapal Pinisi yang melintas mengurai gelombang
mendendangkan lagu Anging Mammiri.

Oh, inikah kota Mengkasar yang kini jadi Makassar?
kota yang memepertaruhkan Sultan Hasanudin
dan mengantarnya hingga ke batu penghabisan.

Karaeng !
di depan Fort Roterdam
hari ini aku berdiri di tanahmu, kucari lagi kau
kupanjat dan kudaki lagi satu persatu
setiap sudut benteng Fort Roterdam ini,
dan kulihat kau datang berlayar
berlayar di antara deburan putih ombak dan burung camar
membelah selat Makassar diselah Lae-lae dan Kahyangan
kulihat kau berdiri berjaga di ujung Pinisimu,
lalu aku menyambutmu, kukatakan:
“Hei, Karaeng datang…….Karaeng datang…… !” kataku
kulihat wajahmu memerah darah
kau cabut badik dari warangkanya di pinggang kirimu
lalu kau tikam langit.
Seketika itu, kulihat langit berguguran, awan berjatuhan,
beberapa pohon kelapa tumbang, bersujud di pantai
menyambut hadirmu, dan kukatakan padamu:
“Salamakki datang Karaeng di kota Mangkasara’ !”
tapi langit terus berguguran, hujan turun seketika, dan air pun datang,
banjir pun tiba, kita tiba-tiba saja tenggelam, Makassar tenggelam,
semua tenggelam, dan air bah pun tumpah
hingga ke rongga dada kita yang hampa.

Karaeng, sudahlah, Karaeng !
ampunkan kami, Karaeng, maafkanlah Karaeng !
inilah kami anak-anakmu yang tak tahu
darimana tanah Mengkasar ini dimulai
sudahlah Karaeng, sudahlah, jangan marah lagi
beri kami waktu untuk berbaik diri.

Karaeng, sungguh kami tahu
inilah Makassar tanahmu
tanah, dimana kami anak cucumu belajar pada waktu
yang selalu kami sia-siakan.

Karaeng !
pada hari yang kesekian ini, aku berdiri lagi ditanahmu
: di depan Fort Roterdam, aku menangis, dadaku sesak
dan aku muntah. “Lihatlah, Karaeng !”
hutan-hutan bakau yang dulu berderet-deret manis
di sepanjang pantai Tanjung Bunga, kini telah digantikan
dengan pilar-pilar dan mercusuar, beton-beton yang nancap hingga perut bumi,
tiang-tiang listrik, lampu-lampu taman. Tak ada lagi hutan bakau
yang mampu menghalau badai dan tsunami jika sekali waktu datang
menjemput Kota Makassar yang kian sesak.

Karaeng, lihatlah Makassar
hari ini seribu bidadari melintas di depanku,
di depan benteng Fort Roterdam, mereka menjajakan tubuhnya,

kadang bertelanjang dada, kadang juga keindahan yang semu.
dan aku malu, malu pada Karaeng, sebab inilah
wajah anak-anakmu kini.

Yah, demikianlah Karaeng
bersama sisa senja dan sepotong rokokku yang hampir pupus dan habis,
ingin kukenang lagi kota-kotamu, Makassar, biar esok pagi,
matahari tetap cerah, Karebosi dan Lompo Battang
tetap menyimpan sisa sejarah yang hampir putus, terseok-seok
di sepanjang jalan kota Makassar, lantaran kutahu
hidup dan cintaku pada kotamu
bukan milik kita lagi, pasti.

Itulah puisi yang saya bacakan di malam tanggal 31 Desember dengan berbagai bentuk ekspresi dan penghayatan dan sekaligus sebagai bentuk protes kepada kondisi Makassar saat ini. Semoga puisi yang saya bacakan tadi menjadi inspirasi untuk memulai perubahan ke arah yang lebih baik di masa mendatang. Berubah demi kebaikan kita bersama.
Waktu terus berjalan dan penampilan demi penampilan silih berganti mengisi panggung dan tak lama berselang, Kak Sahar (Ketua Umum IKAMI SulSel) datang bersama Istri dan anaknya. Sambutan tepuk tangan yang meriah menyambut kedatangannya. Selanjutnya dia membacakan sebuah puisi karya Kak Komenk.

Pukul 00.00
Suara terompet dan sirine mobil mulai berdengung-dengung seantero Jakarta, terutama di sepanjang jalan Talang. Pesta kembang api telah menebarkan pesona di langit disaksikan awan-awan. Semua mata tertuju ke sana. Suara musik juga membahana dan diringi oleh jogetan masyarakat yang larut dalam suasana gembira menyambut tahun baru 2009.

Namun, dari semua keceriaan yang melanda masyarakat. Timbul satu pertanyaan dalam diri saya.
Mengapa orang-orang lebih gembira menyambut tahun baru Masehi daripada Hijriah?
Cobalah kita jawab dengan hati kita masing-masing.

Keep Spirit!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: