Posted by: panritalopi | January 1, 2009

Coretan Awal Tahun 2009

Sambil mendengarkan lagu Daniael Powter-Bad Day, kumulai untuk menggerakkan jari-jemariku untuk mencoret-coret di atas lembaran putih ini. Walau badan masih sangat pegal karena tidur larut malam dan seharian membantu teman-teman menyiapkan penyambutan malam Tahun Baru 2009 di PB IKAMI SulSel, tempat kumpulnya Mahasiswa dan alumni yang berasal dari Sulawesi Selatan. Seluruh masyarakat di seluruh dunia pastinya ikut menyambut Tahun Baru ini walaupun dengan ber beda-beda moment.

Magrib, 31 Desember 2008 semua teman-teman Apartemen Talang 39 telah sibuk mempersiapkan peralatan-peralatan yang diperlukan untuk penyambutan pukul 00.00. Telah ada terompet. Jagung, bahan-bahan pembuatan Sarabba (minuman khas Sulawesi Selatan) yang ditangani langsung oleh Ical. Desain panggung dan segala propertinya di bawah tanggungjawab Mubarak, seksi pengisian kampung tengah (konsumsi) diamanahkan kepada Ta’dir. Adapun amanah yang diberikan ke saya yakni seksi peralatan, katanya saya harus ngurus-ngurus panci, kompor dan lainnya. Seusai Shalat Magrib, satu per satu tamu sudah mulai berdatangan merapat di depan Apartemen Talang 39. Ada teman-teman dari Trisakti, ALTRI, STIS, STAN Bea Cukai, kakak-kakak alumni dan lain-lain membaur menjadi satu atas nama IKAMI SulSel.

Tibalah di acara penampilan seni Bugis-Makassar yang berlangsung ba’da Isya. Setelah pembukaan oleh MC yang di handel langsung oleh Nenhy, salah satu mahasiswa akhir UPI-YAI. Sambutan yang diberikan oleh Kak Immank sebagai ketua Sanggar Lontara. “Penampilan pertama Rifai dari ALTRI”, kata MC. Saat itu juga Rifai dan kawannya bangkit dari dari tengah-tengah kumpulan anak ALTRI di dam pingi oleh teman band-nya yang telah mempersipkan gitar. Lagu pertama dimulai dan disambut dengan tepuk tangan dari seluruh audiens karena memang suaranya cukup bagus. Laugu demi lagu terus di dendangkan untuk menghibur kawan-kawan yang hadir di halaman.

Saat Rifai masih tampil, saya berdiri dari tempat duduk dan memanggil Ical untuk naik ke lantai 2. Sekedar info, malam ini saya di minta oleh ketua panitia untuk mempersembahkan sesuatu untuk menghibur para penonton. Puisi akhirnya menjadi pilihan saya, maklum untuk nyanyi sih, masih kurang percaya diri. Di lantai 2 bersama Ical saya mulai latihan puisi dadakan yang saya ambil dari Internet. Ical saya minta untuk menyanyi mengiringi lagu saya dan ternyata Ical cukup siap untuk membantu saya. Seusai latihan kami pun kembali ke halaman Apartemen Talang 39.

“Penampilan selanjutnya akan yaitu sebuah puisi yang akan dibawakan oleh Hendri”, suara itu keluar dari vivir MC dengan suara merdu. Kuraih bahu Ical dan kukatakan “Ayo kita naik”. Saya dan Ical berjalan menuju panggung mini. “Assalamu Alaikum Wr. Wb. Malam ini kami akan membawakan puisi-puisi yang pertama yakni Bangkit karya Dedy Mizwar”. Saya pun mulai membacakan puisi tersebut.
Bangkit itu susah…
Susah melihat orang lain susah
Senang melihat orang lain senang
Dst…..(sampai terakhir)
Ical mengiringi puisi saya dengan lagu Indonesia Tanah Air Beta, dia menyanyikan lagu tersebut dengan penuh penghayatan. Seusai puisi Bangkit saya melanjutkan dengan sebuah puisi yang menggambarkan kondisi Bmi Makassar saat ini. Puisi itu diberi judul Kepada Karaeng dan diiringi lagu Sulawesi Parrasanganta dan Anging Mammiri yang masih di nyanyikan oleh Ical. Tanpa berlama-lama saya membuka kertas yang telah ada di tangan saya dan segera saya bacakan di hadapan kawan-kawan.
Kepada Karaeng

di depanku
masih berdiri kokoh Lae-Lae
menumbuhkan seribu pucuk kelapa
melambai, memanggil-manggil para nelayan
agar bergegas melabuhkan perahu kepenatan
diantara gejolak rindu pepasir menghampar.

depanku
masih berdiri kokoh Kahyangan
tersenyum diantara kepak burung camar
hanya angin dan ombak kecil
yang datang sesekali menampar-nampar bibir pantai
lalu surut lagi ke keluasan laut biru.

di depanku, nun diantara kemilau
kecipak air laut selat Makassar
Samolana mengapung di antara senja
dan bayang-bayang malam yang hampir datang
mendekat, mendekap, memeluk kita di Losari
yang tak lagi berpasir kini.

Karaeng, hari ini, aku tiba lagi di kotamu
seusai aku menuntaskan perjalanan
:letih dan lesuh terus mengurungku

hingga segala jarak dan arah mengalah
hingga rindu dendam tak jadi beku.

Karaeng !
“Apa kareba Karaeng?”
inilah Mangkasar yang dulu kau bangun dengan airmata
lewat desah-resah yang tak terbalaskan.

Karaeng, lihatlah !
aku berjalan di sepanjang pantai Losari
memunguti air mataku sendiri begini
: tak ada lagi pepasir yang mengurung kakiku
sebagaimana dulu ketika kau memilih kota ini
menjadi pusat peradaban kerajaan Gowa.

Lihatlah, Karaeng !
senja memang masih indah
tetapi kulihat, tak ada lagi burung camar yang melintas
menampar dan menabrak layar para pelaut
juga tak satupun kapal Pinisi yang melintas mengurai gelombang
mendendangkan lagu Anging Mammiri.

Oh, inikah kota Mengkasar yang kini jadi Makassar?
kota yang memepertaruhkan Sultan Hasanudin
dan mengantarnya hingga ke batu penghabisan.

Karaeng !
di depan Fort Roterdam
hari ini aku berdiri di tanahmu, kucari lagi kau
kupanjat dan kudaki lagi satu persatu
setiap sudut benteng Fort Roterdam ini,
dan kulihat kau datang berlayar
berlayar di antara deburan putih ombak dan burung camar
membelah selat Makassar diselah Lae-lae dan Kahyangan
kulihat kau berdiri berjaga di ujung Pinisimu,
lalu aku menyambutmu, kukatakan:
“Hei, Karaeng datang…….Karaeng datang…… !” kataku
kulihat wajahmu memerah darah
kau cabut badik dari warangkanya di pinggang kirimu
lalu kau tikam langit.
Seketika itu, kulihat langit berguguran, awan berjatuhan,
beberapa pohon kelapa tumbang, bersujud di pantai
menyambut hadirmu, dan kukatakan padamu:
“Salamakki datang Karaeng di kota Mangkasara’ !”
tapi langit terus berguguran, hujan turun seketika, dan air pun datang,
banjir pun tiba, kita tiba-tiba saja tenggelam, Makassar tenggelam,
semua tenggelam, dan air bah pun tumpah
hingga ke rongga dada kita yang hampa.

Karaeng, sudahlah, Karaeng !
ampunkan kami, Karaeng, maafkanlah Karaeng !
inilah kami anak-anakmu yang tak tahu
darimana tanah Mengkasar ini dimulai
sudahlah Karaeng, sudahlah, jangan marah lagi
beri kami waktu untuk berbaik diri.

Karaeng, sungguh kami tahu
inilah Makassar tanahmu
tanah, dimana kami anak cucumu belajar pada waktu
yang selalu kami sia-siakan.

Karaeng !
pada hari yang kesekian ini, aku berdiri lagi ditanahmu
: di depan Fort Roterdam, aku menangis, dadaku sesak
dan aku muntah. “Lihatlah, Karaeng !”
hutan-hutan bakau yang dulu berderet-deret manis
di sepanjang pantai Tanjung Bunga, kini telah digantikan
dengan pilar-pilar dan mercusuar, beton-beton yang nancap hingga perut bumi,
tiang-tiang listrik, lampu-lampu taman. Tak ada lagi hutan bakau
yang mampu menghalau badai dan tsunami jika sekali waktu datang
menjemput Kota Makassar yang kian sesak.

Karaeng, lihatlah Makassar
hari ini seribu bidadari melintas di depanku,
di depan benteng Fort Roterdam, mereka menjajakan tubuhnya,

kadang bertelanjang dada, kadang juga keindahan yang semu.
dan aku malu, malu pada Karaeng, sebab inilah
wajah anak-anakmu kini.

Yah, demikianlah Karaeng
bersama sisa senja dan sepotong rokokku yang hampir pupus dan habis,
ingin kukenang lagi kota-kotamu, Makassar, biar esok pagi,
matahari tetap cerah, Karebosi dan Lompo Battang
tetap menyimpan sisa sejarah yang hampir putus, terseok-seok
di sepanjang jalan kota Makassar, lantaran kutahu
hidup dan cintaku pada kotamu
bukan milik kita lagi, pasti.

Itulah puisi yang saya bacakan di malam tanggal 31 Desember dengan berbagai bentuk ekspresi dan penghayatan dan sekaligus sebagai bentuk protes kepada kondisi Makassar saat ini. Semoga puisi yang saya bacakan tadi menjadi inspirasi untuk memulai perubahan ke arah yang lebih baik di masa mendatang. Berubah demi kebaikan kita bersama.
Waktu terus berjalan dan penampilan demi penampilan silih berganti mengisi panggung dan tak lama berselang, Kak Sahar (Ketua Umum IKAMI SulSel) datang bersama Istri dan anaknya. Sambutan tepuk tangan yang meriah menyambut kedatangannya. Selanjutnya dia membacakan sebuah puisi karya Kak Komenk.

Pukul 00.00
Suara terompet dan sirine mobil mulai berdengung-dengung seantero Jakarta, terutama di sepanjang jalan Talang. Pesta kembang api telah menebarkan pesona di langit disaksikan awan-awan. Semua mata tertuju ke sana. Suara musik juga membahana dan diringi oleh jogetan masyarakat yang larut dalam suasana gembira menyambut tahun baru 2009.

Namun, dari semua keceriaan yang melanda masyarakat. Timbul satu pertanyaan dalam diri saya.
Mengapa orang-orang lebih gembira menyambut tahun baru Masehi daripada Hijriah?
Cobalah kita jawab dengan hati kita masing-masing.

Keep Spirit!!!

Posted by: panritalopi | November 28, 2008

BEASISWA CIMB NIAGA

Program Beasiswa CIMB Niaga


Sebagai bagian dari tanggung jawab mendukung pengembangan dunia pendidikan di Indonesia, Bank CIMB Niaga dan CIMB Group memberikan kesempatan kepada pelajar Indonesia untuk mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikan S1 di Malaysia untuk program studi*)

Micro Financing
Economics & Administration
Business & Accountancy
Syariah Banking
Computer Science & Information Technology

Program beasiswa meliputi:
Biaya proses seleksi (Test TOEFL, Test Psychology, dll).
Biaya pendaftaran ke universitas.
Biaya pendidikan.
Biaya hidup.
Biaya asuransi kesehatan.
Biaya buku.
Personal computer.
Biaya penelitian untuk akhir tahun.
Biaya pembuatan passport dan perijinan ke Kedutaan Malaysia serta imigrasi.


B
ank CIMB Niaga hanya mempertimbangkan formulir aplikasi yang memenuhi persyaratan dan tidak akan mengembalikan dokumen aplikasi yang telah disampaikan. Pemilihan penerima beasiswa sepenuhnya menjadi keputusan Bank CIMB Niaga serta CIMB Group dan tidak dapat diganggu gugat. Bank CIMB Niaga akan mengumumkan nama penerima Beasiswa di website Bank CIMB Niaga paling lambat 31 Juli 2009.
*) Penentuan Universitas dan Program Studi ditetapkan oleh Bank CIMB Niaga.

Syarat Penerimaan Beasiswa:

  • Warga Negara Indonesia (WNI).
  • Harus memiliki hasil Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah minimal 8.00 ke atas.
  • Tidak sedang menerima beasiswa lain.

Mengirimkan:
– Formulir pendaftaran yang telah dilengkapi.
– Hasil UN dan ujian sekolah (atau hasil raport legalisir 5 semester terakhir).
– Surat keterangan dari pihak sekolah.
– Foto berwarna 3 x 4 (2 lembar).

Cara Pendaftaran:
Pelajar yang berminat harus melengkapi formulir pendaftaran (klik untuk Formulir Pendaftaran) dan mengirimkannya bersama seluruh copy dokumen yang dipersyaratkan paling lambat 28 Pebruari 2009 ke: Bank CIMB Niaga Up. Sdri. Aan Haerani, Organization & Strategic Development Group (OSDG) – HR Development Griya Niaga I Lt. 3 Jl. Wahid Hasyim Blok BIV No. 3 Bintaro Jaya Sektor 7, Tangerang atau email ke: cimbniagascholarship@bniaga.co.id

Untuk info lebih lanjut bisa menghubungi bisa contact saya juga…

Hendriyadi

LB Scholarship 2007,-085255904934 / 02195189127-

The application for Undergraduate Programmes is open.
Deadline for July 2009 intake is on the 3rd of March 2009.

The Government of Indonesia through its Oil and Gas Department or MIGAS and The National Education Department or Depdiknas in collaboration with Petronas is offering full time scholarships for studies in Malaysia towards the following degrees :

BACHELOR OF ENGINEERING (HONOURS)
1. Electrical & Electronic Engineering
2. Mechanical Engineering
3. Chemical Engineering
4. Civil Engineering
5. Petroleum Engineering

BACHELOR OF TECHNOLOGY (HONOURS)
1. Information & Communication Technology (ICT)
2. Business Information System (BIS)

General selection criteria are as follows;
Age Not exceeding 23 years old on date of application
Marital Status Single
Academic Qualification Must have passed High School Level Examination (GCE O`Level/ SMA equivalent), and / or Tes Potensi Akademik from major universities in Indonesia
Language Proficiency Good command of English (oral & written)
Course of Study To follow any one of the above courses offered by Universiti Teknologi Petronas (UTP)


The scholarships are offered to students to further their education and upon completion to serve either with Petronas or the Government of Indonesia in any of the designated departments, subsidiaries, companies, organizations or institutions for a period to be agreed upon.

Kindly download and complete the UTP Application Form (attached in this email) which can be obtained from the website at www.utp.edu.my, completed application form need to be submitted with your latest (non returnable) passport size photograph together with your contact number, address, curriculum vitae and relevant copies of full academic report to:

Petronas Representative Office Indonesia
Level 27, Citibank Tower
Bapindo Plaza
Jl. Jend Sudirman Kav 54-55
Jakarta 12190

Posted by: panritalopi | November 25, 2008

Funny Story: Kecelakaan di Taman Safari Indonesia – Indonesia

Kecelakaan di Taman Safari Indonesia – Indonesia
Mohon untuk menyebarluaskan ke teman dan orang terdekat anda, supaya lebih berhati-hati bila berkunjung
Ke Taman safari Indonesia (TSI).

Di bawah ini adalah pengalaman kami yang tidak akan kami lupakan seumur hidup karena amat berbahaya dan menyeramkan ketika berada di TSI.

Hari Minggu lalu (bertepatan Hari Pertama bulan puasa), kami berkunjung ke TSI dengan menggunakan Mobil Keluarga, 4 orang dewasa Dan 2 anak kecil dengan tujuan refreshing, melihat binatang yang belum pernah kami lihat secara langsung dari dekat terutama yang besar dan liar atau berbahaya.

Belum lama kami berada di TSI, kira-kira 10 menit, mobil kami
memasuki area binatang yang bukan binatang buas (kijang, banteng dll), tiba-tiba mobil kami mogok dan meski sudah mencoba untuk merestart beberapa kali, tetapi mesin sama sekali tidak bisa di hidupkan kembali.

Kami pikir mungkin cipratan air telah menyebabkan Mobil kami mogok saat baru saja melewati genangan air seperti sungai kecil di TSI.

Meskipun ragu-ragu, karena tidak terlihat Ada petugas TSI di dekat situ, akhirnya paman saya turun untuk membuka kap mesin.

Kami tidak membunyikan klakson karena takut mengganggu binatang di TSI.
Kami pikir, area ini adalah area yang aman, bukan area binatang buas, jadi kami berusaha tenang menunggu di dalam mobil sambil ngobrol.

Namun tiba-tiba kami terkejut ketika melihat seekor singa yang entah dari mana datangnya sudah berada di
Belakang Mobil kami Dan berjalan ke arah depan Mobil dimana paman kami berada.

Lalu… Entah kenapa kami semua seperti terhipnotis melihat singa itu mendekati paman kami yang asyik
Mencari kerusakan Mobil Dan tidak tahu dengan kedatangan singa itu.

Kami benar-benar hanya terpaku melihat singa itu tanpa berusaha untuk memberitahu paman Ada bahaya yang
Datang.

Dan..?? Bertepatan paman menutup kap mesin…. Ketika itu pula singa sudah berada tepat dibelakang tubuh paman saya, sehingga tampak sangat jelas oleh kami dari dalam mobil bagaimana sangat dekatnya singa terhadap paman,

Dan..
Saat itu pula singa itu langsung mencolek bahu paman saya seraya berkata,
“‘kagak usah takut …
Gua lagi puasa …..
Kenapa mobilnya …
Mogok ya…..’ ???”

(ddeeeuuuu.. bacanya serius amat, mas, mbak, bung, cuyyyy! hahahahahahahhaa

Posted by: panritalopi | November 21, 2008

Menjelang Peringatan “Korban 40.000 Westerling” di Parepare

11 DESEMBER HARI KORBAN 40.000


A.Makmur Makka

Menjelang peringatan “Korban 40.000” pada tanggal 11 Desember mendatang, sebagaimana peringatan hari bersejarah lainnya, tampaknya banyak orang sudah menganggap hari peringatan itu, sebagai hal yang sudah rutin. Tidak banyak orang yang tahu , kenapa para syuhada-syuhada itu rela berkorban . Di kota Parepare, ada dua tempat penting bersejarah yang bisa mengingatkan kita pada peristiwa 11 Desember . Pertama adalah tugu peringatan korban 40.000 jiwa di samping Masjid Jami Parepare. Pada tempat ini terpasang relief diaroma peristiwa penembakan 23 korban keganasan Kapten Raymond Westerling dan pasukannya , karena di tempat inilah para partisan , pejuang anti penjajahan Belanda tersebut di tembak oleh pasukan Westerling. Tempat kedua, adalah Taman Makam Kesuma di pekuburan Laberru, karena di tempat ini dimakamkan dalam satu liang lahat, 23 korban penembakan tersebut. Tempat lain, mungkin asrama CPM sekarang, karena di tempat inilah sejumlah korban ditahan sebelum dieksekusi.

Tetapi apa latar belakang penembakan tersebut ? Penjajah Belanda yang khawatir akan kehilangan daerah jajahan total di Indonesia akibat perkembangan diplomasi politik dan militer di Jawa , setelah Indonesia memproklamsikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus l945, mulai menyusun strategi untuk mendirikan negara-negara boneka yang bernaung di bawa Republik Indonesia Serikat (RIS). Untuk Indonesia bagian timur, dibentuk Negara Indonesia Timur ( NIT), di Jawa Barata ada Negara Pasundan , dll . Usaha ini dimulai dengan mengadakan komnprensi di Malino 16 Juli l946 yang dihadiri oleh utusan negara-negara boneka Belanda . Pada tanggal 24 Desember l946, Makassar diresmikan sebagai markas ibukota NIT . Untuk memberi legitimasi atas berdirinya negara boneka ini, maka penjajah Belanda memerlukan untuk menekan perlawanan rakyat yang menentukan bentuk baru penjajahan ini. Seperti diketahui, Belanda membentuk Comanding Officer NICA (CONICA) disetiap daerah . A.Mappanyuki Raja Bone mulai menentangan pembentukan CONICA dengan meninggalkan Bone bersama anaknya A.Pangeran Petta Rani. Keduanya kemudian ditangkap. Sam Ratulangi , Lanto Daeng Pasewang yang dipersiapkan untuk membentuk pemerintah daerah di Sulawesi-Selatan setelah pulang menghadiri Pertemuan PPKI ( Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) juga ditangkap dan diasingkan ke Serui.

Letkol. M.Saleh Lahade, salah seorang tokoh perintis berdirinya TNI di Sulawesi-Selatan dalam makalah pada Seminar Perjuangan Rakyat Sulawesi-Selatan Menentang Penjajahan Asing, menulis betapa penting secara strategis Sulawesi-Selatan, Kalimatan bagi penjajah Belanda , karena kawasan ini terdapat potensi ekonomi, gudang tenaga militer dan sebagai basis ofensif politik dan militer . Jika diplomasi politik dan penggunaan ofensif militer, penjajah Belanda tidak berhasil di Jawa dan Sumatra, maka Indonesia Timur akan menjadi tempat mundur mereka , kemudian menyimpan bom-bom waktu sambil mundur ke Irian Barat sebagai basis pertahanan militer terakhir. Penguasa militer di Makassar, Kolonel de Vries mempersiapkan gerakan pasifikasi ini dengan menyatakan SOB di daerah ini .Ini juga bagian dari strategi Jenderal Spoor dan Van Mook mengambil “tindakan luar biasa” di Sulawesi-Selatan untuk memperkuat eksistensi NIT . Dengan memperalat apa yang disebut “Dewan Hadat Sulawesi-Selatan” , dibuatlah seolah-olah rakyat Sulawesi-Selatan meminta perlindungan keamanan kepada Pax.Nedherlandica dI Jakarta untuk membasmi aksi – aksi perlawanan pejuang dan rakyat Indonesia yang dianggap ilegal ini . Dengan konsiderasi Dewan Hadat tersebut , keluarlah keputusan yang menyatakan afdeling Makassar,Bonthain, Parepare, Mandar dan gemeete Makassar dalam keadaan perang dan darurat perang ( staat van oorlog en beleg) pada tanggal 11 Desemebr l946 . Dalam situasi seperti ini berlaku SOB dan “stand –recht” perintah tembak ditempat tanpa proses bagi mereka yang di sebut sebagai “ bandit, penjahat, extrimis,pemeras, terroris, perampok, pemeras,anarkis, orang-orang memiliki senjata secara tidak sah, mereka yang membantu menyembunyikan kriminal.

Untuk menimbulkan “shock therapie” bagi pejuang kemerdekaan di daerah ini , didatangkanlah pasukan istimewa KNIL ( para troopen) dipimpin oleh Kapten Raymond Paul Piere Westerling yang pada waktu itu masih berusia 27 tahun , dengan beranggotakan 123 orang ( 20 % Belanda, 80% kulit berwarna ). Westerling berayah Belanda dan Ibu Turki, terkenal penembak jitu, bermata biru dan berdarah dingin dalam menghadapi musuh dan pejuang –pejuang RI. .

23 PEJUANG DITEMBAK DITERMINAL PAREPARE.

Di Parepare, dengan dipelopori oleh A.Makkasau ( Datu Suppa Toa) dan A.Abdullah Bau Massepe ( Datu Suppa Lolo), sudah dibentuk Badan Persiapan Republik Indonesia (BPRI) untuk mendirikan pemerintahan Indonesia yang merdeka di afdeling Parepare.Seperti yang sudah saya tulis pada tulisan saya sebelumnya, bahwa gerakan untuk Indonesia merdeka, sudah lama muncul. Ini terlihat dari kegiatan para tokoh-tokoh pejuang untuk menyebarluaskan negara Indonesia yang sudah merdeka melalui berbagaimacam informasi yang di monitor melalui radio. Sebagian lagi melakukan penentangan kepada penjajahan Belanda dengan mempersiapkan pasukan perlawanan .Golongan pemuda tidak ketinggalan dengan menyusun kekuatan, perlawanan gerilya dan sabotase dalam kota untuk menunjukkan eksistensi adanya negara dan pemerintahan Indonesia. Mereka mengadakan koordinasi dengan lasykar di kawasan Polongbangkeng, Rappang , Sawitto, Barru. Di dalam kota Parapere , pemuda Arifin Nummang, A.Mannaungi dan kawan-kawan melempari granat tangsi Belanda , menembak patroli secara sembunyi-sembunyi. Inilah antara lain yang oleh Belanda di anggap semacam teroris dan ekstrimis, penjahat-penjahat atau kriminal karena bertindak untuk membinasakan pasukan-pasukan penjajahan yang dianggapnya “sah” memerintah rakyat Indonesia.

Beberapa tokoh dan pemuda BPRI di Parepare kemudian ditahan antara lain A.J.Jusuf Binol , Abd.Hamid Saleh, Usman Isa, Makkarumpa Daeng Parani, A.Abubakar, La Halide, A.Mappatola, Muh,Jasim, Haddaseng,Jalangkar a, Tahir Djamalu, La Cara, Mustakim, A.Sinta, A.Isa, La Sita, Juga telah ditangkap sebelumnya kemlompok pemuda A.Rahim Manji, Mansyur Munastan, S.Mon, Ajuba, Abd.Waris, Abdullah Keppang, Yunus Hasnawi, Zainuddin Zaini.

A.Abdullah Bau Massepe ditangkap dan dibawah ke Makassar, kemudian dikembalikan ke Pinrang untuk diperiksa. A.Makkasau juga di tangkap, tetapi atas permintaan mertuanya A.Tjalo yang menjadi Arung Mallusetasi ketika itu , ia ditahan di rumah mertunya dengan janji untuk diberi penyadaran dan diinsafkan.

Penahanan beberapa tokoh dan pemuda di Parepare dan sekitarnya , tidak mengendurkan perlawanan para pejuang dan pemuda-pemuda. Beberapa pemuda menyebrerang ke Jawa melalui beberapa titik pemberangkatan seperti Suppa. Perlawanan pasukan-pasukan di Sawitto yang dipimpin A.Selle makin gencar, demikian pula pelawanan pasukan A.Cammi yang membawa nama Lasykar Ganggawa di daerah Sidrap dan berpusat di Carawali mengadakan penghadangan dan menyerbu tangsi Belanda di Rappang.

Perlawanan gencar seperti inilah yang semakin menakutkan pemerintahan penjajah Belanda . Pada tanggal 14 Januari l947 , militer Belanda dipimpin oleh Onder Luitenant Vermeulen menggiring 23 orang pejuang yang sedang di tahan di markas MP ( sekarang Asrama CPM) Parepare, dibawah berjalan ke terminal ( kini Tugu Korban 40.000). Mereka itu Makkarumpa Daeng Parani, A.Isa, A.Sinta, Abdul Rasyid, La Nummang, Muh.Kurdi,Abd. Muthalib, Lasiming, Paung Side, La Sibali, Oyo, LA Sube,A.Mappatola, A.Pamusureng, Abubakar Caco,A.Etong, Bachrong,H.A. Abubakar, Osman Salengke ( Syamsul Bachri) ,La Upe, La Buddu, La Side, Haruna.

Mereka dijajarkan kemudian di ditembak . Salah seorang perempuan yang sedianya akan turut ditembak Hasnah Nu’mang akhirnya dikeluarkan dari barisan. 23 korban penembakan diangkut dengan truk sebagai syuhada, tanpa dimandikan dan dikafani , dikebumikan bersama dalam satu lobang di pekuburan La berru ( sekarang Taman Makam Kesuma) Parepare.

A.ABDULLAH BAU MASSEPE, A. MAKKASAU JUGA DIEKSEKUSI

Tidak berapa lama, Pebruari l947 A.Abdullah Bau Massepe juga dieksekusi, menyusul pada bulan yang sama A.Makkasau di tenggelamkan di perairan Marabombang Suppa. Kemudian pada tahun l950 kerangkanya dipindahkan ke Makam Pahlawan Paccakke Parepare. Seperti diketahui, Abdulah Bau Massepe dalam Konprensi Pacceke di Kabupaten Barru 20 Januari l947 dalam rangka pembentukan Divisi Hasanuddin , Tentara Republik Indonesia (TRI) di Sulawesi-Selatan, telah diangkat menjadi Panglima Divisi berdasarkan mandat Panglima Besar TRI Jenderal Sudirman. Mandat ini dibawah oleh ekspedisi TRI dari Jawa yang dipimpin oleh Kapten A.Mattalatta, didampingi Kapten M.Saleh Lahade, Letnan Satu A.Oddang, Letnan Satu A.Sapada. Karena A.Abdullah Bau Massepe dalam tahanan Belanda di Pinrang, maka pelantikan dilakukan secara in absensia. Divisi Hasanuddin membawahi tiga resimen . Konprensi ini, dihadiri antara lain utusan kelasykaran dari seluruh Sulawesi-Selatan. Hadir mewakili Lasjkar Ganggawa dari Parepare dan sekitarnya adalah A.Mannaungi , Lantja Rachmansyah. . Mereka kemudian juga diberi pangkat Kapten . Adapun Kapten A. Muh .Sirpin yang juga melakukan pendararan dari Jawa , tidak bisa hadir pada acara pelantikan ini, karena telah gugur melawan pasukan Belanda di Salossoe. Nama A.M.Sirpin, jika saya tidak salah , kemudian diabadikan oleh Letnan satu A.Sapada menjadi nama perguruan tinggi yang kita kenal sebagai AMSIR. Singkatan dari Andi Muhammad Sirpin . Demikianlah, jika A.Abdullah Bau Massepe tidak segera didibinasakan , maka ia akan memimpin tiga resimen perlawanan di Sulawesi-Selatan, karena itu Belanda tidak ingin mengambil resiko.

Hari 11 Desember inilah kemudian yang kita selalu peringati khususnya di Indonesia setiap tahun dan khususnya di kota Parepare. Aksi penembakan tidak berhenti dan terjadi hampir diseluruh daerah Sulawesi-Selatan. Mereka yang gugur , kita sebut sebagai korban 40,000 jiwa akibat kekejaman penjajah Belanda yang dilakukan oleh Special Troopen pimpin Kapten Raymon Paul Piere Westerling. Hari ll Desember sebetulnya adalah hari dinyatakannya keadaan SOB atau Darurat Perang di beberapa daerah termasuk Afdeling Parepare . Pada hari itulah yang menjadi dasar beraksinya Kapten Raymon Westerling . Hari penembakan korban 40.000 di Parepare tepatnya tanggal 14 Januari l947, hampir setahun setelah berlakunya SOB .

WESTERLING MEMBELA DIRI

Dr.Salim Said, antara tahun l969-l970 mengikuti pendidikan jurnalistik di Berlin, Jerman. Setelah selesai, ia berkesempatan mengunjungi negeri Belanda. Di kota Amesterdam, ia berusaha menemui Kapten Raymond Westerling untuk mengadakan wawancara, waktu itu Salim Said menjadi wartawan Majalah Ekspres cikal bakal Majalah Tempo. Setelah berusaha mencari alamat Westerling, akhirnya Salim Said berhasil mengadakan pembicaraan tilpon dengan Westerling. Ia berterus terang sebagai wartawan Indonesia asal Sulawesi-Selatan yang ingin mengadakan wawancara, mengenai aksi-aksi yang dilakukan Westerling di Sulawesi-Selatan sekitar tahun l946/l947 . Di luar dugaan, Westerling setuju dan mereka mengadakan perjanjian untuk bertemu esok harinya di sebuah restauran di tengah kota Amsterdam. Pada waktu yang ditentukan Salim Said sudah berada di depan resutauran tersebut . Ia dihampiri oleh seseorang yang ternyata masih anak buah Westerling ketika di Indonesia dulu. Setelah Salim Said mengibaskan jas untuk membukatikan bahwa ia tidak bersenjata dan tidak datang untuk melakukan pembalasan pada Westerling, ia kemudian diantar menemui seorang Belanda yang berjenggot putih , tetapi berbadan kekar dan besar, kelihatan agak tua..

“ Westerling”, kata orang itu sambil mengulurkan tangan. Mereka kemudian duduk pada sebuah meja diawasi oleh beberapa anak buah Westerling dari jauh. Westerling mengakui bahwa orang-orang yang mengatar dan mengelilingi Salim Said adalah anak buahnya ketika di Indonesia. “ Kami sering bertemu , kami masih suka makan tempe, tahu “, kata Westerling menawarkan suasana. Dalam restauran yang tidak begitu besar tersebut, suara bising musik sangat dominan, sehingga orang harus mengeraskan suara jika saling berbicara.

“ Apakah orang Indonesia masih ingin mengadili saya “ tanya Westerling tiba-tiba.

“ Ya, saya selalu siap” jawabnya sendiri menantang.

Tetapi Salim Said mengatakan bahwa bangsa Indonesia sekarang sedang sibuk menyongsong hari depan, tetapi mereka tidak melupakan anda. Hanya saja mereka tampaknya menyerahkan masalah anda kepada sejarah.

Westrling kemudian mulai berbicara dan membela diri bahwa tidak benar ia dan pasukannya membunuh 40.000 orang. Tanyakanlah kepada Sarwo Edhi, komandan pasukan khusus Indonesia, apakah mungkin sebuah pasukan khusus dalam waktu singkat dapat membunuh orang sebanyak itu ? Westerling mengakui “ hanya “ membunuh 463 orang. Tetapi ia tidak bisa menjawab jika pembunuhan rakyat Sulawesi-Selatan lainnya dilakukan oleh anak buahnya yang menyebar dan pasukan-pasukan Belanda lain pada saat yang sama. Itupun yang dibunuh Westerling menurut pengakuannya adalah orang-orang Soekarno yang kolaborator, kaum perusuh , penjahat. Tetapi itulah perang katanya .

Bayangkan yang diakui dibunuhnya langsung “hanya” 463 orang manusia dalam waktu relatif singkat, mereka para pejuang itu tentu saja dianggapnya sebagai penjahat dan perusuh, karena menantang kehadiran pasukan penjajah. Ketika ditanya misalnya apakah ia memerintahkan penembakan Andi Abdullah Bau Massepe, Andi Makkasau, Makkarumpa Daeng Parani, Westerling merasa tidak mengenalnya.

Setelah keganasan Westerling di Sulawesi-Selatan dan Bandung dilaporkan ke negeri Belanda, para politisi di negeri Belanda turut memojokkan Westerling. “ Tetapi saya hanya melaksanakan perintah “ katanya, tetapi siapa yang memerintahkankannya melakukan penembakan , tidak ada yang tahu. Yang jelas para politisi Belanda seperti Van Mook yang menghendaki adanya negara federal di Indonesia pastilah bertanggung jawab. Karena itu, Westerling memaki-maki para politisi Belanda itu di depan Salim Said. Westerling akhirnya dipanggil pulang ke negeri Belanda, tetapi dengan pesawat kecil Catalina, ia sudah terbang ke Singapura. Pelariannya itu diketahui pemerintah di Singapura yang masih dijajah oleh Inggeris. Westerling akhirnya di tangkap dan diborgol kerumah tahanan selama beberapa bulan. Tetapi entah dengan alasan apa, Westerling akhirnya berhasil pulang ke negeri Belanda dan bebas sebagai manusia merdeka. Ia pernah berusaha menjadi penyanyi di Jerman tetapi tidak berhasil, akhirnya pulang lagi ke Belanda dan menjadi penjual buku , juga gagal. Ada yang mengatakan, selama hidupnya ia merasa tidak tentram dan satu-satunya hiburannya adalah bertemu dengan kawan-kawan lama sesama pasukan Belanda di Indonesia dan mengobrol di restauran.Pada tahun delapan puluhan, Westerling meninggal dunia, tanpa pengadilan sebagai penjahat perang. Bayangkan sekarang dengan peristiwa Timor Timur pasca jajak pendapat, telah membuat dunia barat geger mau mengadili pejabat sipil dan militer Indonesia, sementara ribuan jiwa rakyat Sulawesi-Selatan yang lenyap melalui, siksaan dan pelanggaran HAM yang luar biasa, dibiarkan begitu saja. Itulah standar ganda dunia Barat.

DIMANA KELUARGA KORBAN ?

Sangat menyedihkan setiap tahun peristiwa ini diperingati dengan upacara yang bersifat rutin saja, tanpa menghayati bagaimana sejarah terjadi peristiwa tersebut. Para pejuang yang telah gugur kemudian namanya diabdikan mernjadi nama jalan di kota Parepare, termasuk 23 korban penembakan di samping masjid Jami. Para keluarga korban masih banyak di kota Parepare dan saya yakin, mereka tidak menuntut apa-apa dari pengorbanan orang tua, saudara para pejuang-pejuang ini. Tetapi ada baiknya, para peserta upacara sekali-sekali mengheningkan cipta mengenang bagaimana perasaan para pejuang menjelang saat – saat moncong senjata diarahkan ke kepala atau dada mereka disaksikan oleh warga kota Parepare yang juga tidak berdaya. Para korban ini setahu saya , tidak ada yang mengeluh, tidak ada berdiri dan mengingkari perjuangan mereka. Semua dengan ikhlas dan tabah menghadapi maut dalam keyakinan bersama untuk tetap merdeka, sampai puluru mengoyak kulit mereka, sampai darah mereka tumpah tergenang dibumi yang diperjuangkannya. Saat yang berarti inilah yang perlu dikenang, saat maut menjemput nyawa para pahlawan yang tanpa pamrih ini. Penderitaan dan kesedihan keluarga yang ditinggal, tidak hanya terbatas dan selesai pada hari itu, tetapi penderitaan yang mereka alami berlanjut berbulan dan bertahun-tahun setelah itu. Anak isteri mereka dikucilkan , masyarakat takut menghampiri mereka untuk menyatakan duka cita , karena takut dituduh juga sebagai kawan-kawan pejuang itu . Karena itu, bagi kita yang menikmati kemerdekaan buah perjuangan mereka, jangan dinodai dengan membagi harta negara secara tidak halal, dengan memperkaya diri sendiri. Banyak keluarga pejuang ini , mungkin masih ada diantara kita , tetap hidup sederhana bahkan mungkin sehari-hari sangat menyedihkan, karena hidup yang tidak layak . Dimana mereka , tunjukan penghargaan itu dengan bersilaturahmi pada mereka, walaupun mereka tidak menuntut. Mungkin dengan cara itu akan lebih membuat peringatan 11 Desember ini berarti dan bermakna, daripada melaksanakan upacara secara rutinitas , pidato-pidato dengan pakaian kebesaran , meletakkan karangan bunga, bubar , saling tertawa dan semua melupakannya kembali.( 2/11/03) ****

SURABAYA, KOMPAS – Selama 22 tahun sejak tahun 1985 hingga 2007,
penetapan Hak atas Kekayaan Intelektual atau HaKI di seluruh perguruan
tinggi Indonesia hanya 419. Padahal, Indonesia memiliki sekitar 2.800
perguruan tinggi yang potensial menghasilkan hasil karya penelitian.

Ketua Tim HaKI Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
(DP2M) Dikti Prof Suprapto, Senin (17/11), di Surabaya, Jawa Timur,
mengatakan, kesadaran akademisi Indonesia terhadap pentingnya HaKI
sangat rendah. Hal itu terlihat dari kecilnya jumlah pengajuan paten
terhadap karya-karya penelitian mahasiswa maupun para dosen.

“Sebagian besar hasil penelitian, pengabdian masyarakat, atau
kreativitas mahasiswa hanya diwujudkan menjadi buku ajar ataupun
laporan saja. Jika ada beberapa karya yang kemudian dipatenkan, itu
pun hanya kebetulan saja karena mengikuti workshop,” ujarnya di sela
Pelatihan Pemanfaatan Hasil Penelitian Berpotensi Paten yang
diselenggarakan Universitas Widya Mandala Surabaya.

Menurut Suprapto, pendaftaran paten di Jepang mencapai 370.000 per
tahun, sedangkan di India mencapai 17.000 per tahun. Hal itu
berbanding terbalik dengan frekuensi pengajuan paten di Indonesia yang
dalam 23 tahun terakhir hanya 419 buah.

Kendala terbesar dari minimnya penetapan paten karya penelitian
perguruan tinggi adalah sebagian besar hasil karya yang diajukan hanya
berupa pengulangan dari inovasi sebelumnya. Padahal, pematenan sebuah
karya memiliki tiga syarat, yaitu inovasi baru, dapat dibuktikan
dengan benar, dan dapat diaplikasikan.

Wakil Rektor Universitas Katolik Widya Mandala Kuncoro Foe
mengungkapkan, banyak dosen yang belum memahami bagaimana cara
memproses HaKI. Selain itu, muncul pula kekhawatiran bagaimana jika
saat hasil karya atau penelitian diajukan, invonasi mereka justru
dijiplak pihak lain.

Hingga saat ini, dari sekitar 2.800 perguruan tinggi di Indonesia,
baru lima perguruan tinggi yang aktif mendaftarkan pematenan terhadap
karya-karyanya. Kelimanya adalah Institut Teknologi Bandung,
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Institut Pertanian Bogor, Institut
Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, dan Universitas Brawijaya Malang.
(ABK)

http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/11/18/ 0124217/hanya. 419.paten. perguruan. tinggi.selama. 23.tahun

Posted by: panritalopi | November 19, 2008

GAGALNYA KRISTENISASI SUPPA DAN BACUKIKI (1)

GAGALNYA KRISTENISASI SUPPA DAN BACUKIKI (1)

Dituturkan : A.Makmur Makka

[The Habibie Center, Jakarta]

Tahun 90-an, saya bertemu Christian Pelras, sarjana Prancis yang ahli mengenai suku Bugis. Pertemuan itu hanya kebetulan di sebuah rumah seorang warganegara Prancis di Kawasan Kemang Jakarta Selatan. Saya diperkenalkan oleh teman saya Fracois Raillon, yang ahli tentang Indonesia .. Saya sudah lama tahu nama Pelras, tetapi baru kali itu saya bertemu muka . Ketika saya perkenalkan nama saya, ia langsung menyambut : “ Namanya seperti nama Bugis”, teman saya langsung menimpali :

“ Benar, ia orang Bugis “.

Setelah berbicara panjang lebar mengenai orang Bugis, suku yang sudah lama ditelitinya, kami berpisah.Beberapa hari kemudian, melalui teman Francois Raillon, saya mendapat sebuah paket pos yang dikirim dari Singapura. Isinya sebuah buku tebal berjudul “ The Bugis”, karangan Christian Pelras. Buku itu lama saya simpan, kemudian dua tahun lalu saya menerima hadiah buku “Manusia Bugis” dari Dr.Nurhayati Rahman, ahli sejarah dari UNHAS, terjemahan “ The Bugis”, buku Christian Pelras. Buku Christian Pelras ini menambah pemahaman saya mengenai orang Bugis, paling tidak menurut penelitian seorang Barat. Walaupun, Chirstian Pelras, hanya salah satu sarjana Barat yang pernah membuat penelitian mengenai suku Bugis.

Dari tulisan C. Pelras inilah yang makin memperkuat dugaan saya bahwa sejumlah penguasa kerajaan di Sulawesi_Selatan pada abad ke XVI, pernah dibaptis masuk agama Katholik. Sebutlah antara lain Kerajaan Tallo, Suppa, Siang (Pangkajenne) , Bacukiki, Alitta, Gowa. Penyebaran agama Katholik di Sulawesi-Selatan ketika itu bersamaan dengan kedatangan bangsa-bangsa asing, terutama Portugis. Jalur kedatangan bangsa Portugis pertama kali dari Malaka menuju ke daerah Ajatappareng dan Suppa, dari Ajatappareng ke Siang ( Pangkajenne) . Yang agak aneh, peyebaran agama ini ke Gowa, melalui jalur lain, yakni dari Ternate pada tahun yang lebih awal ( 1539), sementara ke Ajattapareng, Suppa dan siang, barulah l534, beberapa tahun kemudian.

Menurut Pelras, usaha kristenisasi raja-raja ini dimulai dengan kedatangan seorang pedagang Portugis yang Antonio de Paiva yang tertarik pada kekayaan daerah Indonesia Timur, khususnya kayu cendana. Mula-mula Antonio datang ke Siang dalam perjalanan ke daerah Sulawesi Tengah, kemudian singgah di Suppa. Pada kesempatan itulah Antonio membaptis penguasa di Suppa dan Siang ( ternyata kedua penguasa kerajaan itu bersahbat) . Itupun tidak dengan mudah, karena menurut C.Pelras, didahului perdebatan teologis yang hangat. Tidak disebut siapa penguasa Suppa yang dibaptis, kronik mengenai hal ini hanya dibaca dalam laporan Antonio de Paiva yang meminta maaf kepada Uskup Goa ( India ), karena ia telah membaptis dua penguasa tanpa penugasan resmi.

Apa alasan kedua penguasa ini mau dibaptis masuk agama Katholik? C.Pelras menulis, kemungkinan untuk membuat persekutuan militer dalam menghadapi serangan kerajaan kembar Gowa dan Wajo. Dengan demikian, tampak ada motif lain, tidak dengan keyakinan pada agama itu. Di kisahkan, ketika Antonio de Paiva kembali ke Malaka, ikut serta utusan dari kedua penguasa ke Malaka untuk meminta Gubernur Malaka mengirimkan pendeta ke Suppa dan Siang dan jika mungkin bantuan militer. Bahkan ikut pula serta dua putra penguasa dari Suppa. Kedua pemuda itu, kemudian dibawah ke Eropa.

Beberapa waktu setelah peristiwa tersebut, mendengar permintaan kedua penguasa di Sulawesi-Selatan itu, misionaris Khatolik yang terkenal Francisco Xavier berangkat ke Malaka dan dari sana ia akan melanjutkan perjalanan ke Suppa. Kedatangan missionaries ini kemudian batal, karena di terjadi perang antara Wajo dan Sidenreng . Sidenreng bersekutu dengan Suppa dan Siang, Francisco Xavier mungkin tidak mau mengambil resiko terjebak dalam kancah peperangan antarpara penguasa tersebut. Mendahului kedatangan Fansisco Xavier, sudah datang pendeta Vicente Viegas dari Malaka, dialah yang membaptis penguasa Alitta dan Bacukiki.

Pertalian agama antarpenguasa Suppa,Siang, Alitta dan Bacukiki dengan Portugis akan berlanjut, jika tidak terjadi peristiwa seorang perwira Portugis membawa lari seorang putri penguasa Suppa. Penguasa Suppa murka, supaya tidak terjadi pertumpahan darah, orang-orang Portugis buru-buru meninggalkan Suppa dan membawa putri penguasa Suppa tersebut ke kapal. Anak blasteran putri penguasa Suppa dengan perwira Portugis itu kemudian lahir dan bernama Manuel Godinho de`Eredia, ibunya juga diberi nama Donna Ele’na Vesiva ( konon keturunan Raja Suppa dan Raja Bacukiki). Manuel Godinho menjadi seorang pintar, ia menjadi penulis dan akhli geografi. Dialah yang pertama kali menyebut adanya pulau di sebelah selatan Timor yang kemudian dikenal sebagai Australia . Hanya seorang anggota ekspedisi Portugis bernama Manuel Pinto yang tidak ikut . Tetapi dia meninggalkan Suppa menuju Siang, Tallo, Sidenreng. Pinto inilah yang menulis laporan ke Uskup Goa ( India ) bahwa raja-raja tersebut sebenarnya sangat ingin bersekutu dengan Portugis. Wilayah Ajjatapareng tahun 1827 menurut perkiraan berjumlah 180.000 orang penduduk, tahun l884 berjumlah 236.000 penduduk. Ajattapareng meliputi Sidenreng, Sawitto, Suppa, Bacukiki, Alitta, Rappang.

Kegagalan kristenisasi penguasa Sulawesi-Selatan ini, tidak disebutkan secara jelas. Hanya.Pelras melukiskan bahwa kemungkinan missionaries itu pesimis akan merubah watak dan kepercayaan dasar penguasa di Sulawesi-Selatan itu. Misalnya, tidak mungkin menggantikan peranan Bissu dengan Pendeta Katholik jika mereka memilih menetap sebagai pemimpin agama. Alasan teknis, karena kurangnya tersedia pendeta di Malaka . Tahun l584 pernah dikirim empat pendeta ke Makassar , tetapi tidak bertahan lama. Kemungkinan lain, agama Katholik terdesak dengan masuknya agama Islam di Sulawesi-Selatan melalui ulama dari Melayu. Agama ini kemudian dianut dengan fanatik oleh penguasa di Gowa dan sekaligus sebagai kerajaan yang sangat kuat sebelum ditaklukkan Belanda melalui pembatasan dalam Perjanjian Bongaya 1667. Jelas bahwa penguasa-penguasa di Suppa, Alitta dan Sidenreng saat itu, bukanlah penguasa setelah kerajaan Gowa menjadi kerajaan Islam yang adidaya di Sulawesi -Selatan. Karena setelah itu, penguasa-penguasa lokal di Suppa, Alitta, Sidenreng diambil dari keluarga dekat raja-raja Gowa.

MACHOQUIQUE (BACUKIKI) BANDAR UTAMA(2)

Dituturkan : A.Makmur Makka

Hal yang juga menarik dari buku Christian Pelras, ketika ia menulis bahwa Bacukiki benar sebagai Bandar (laut) utama di Sulawesi-Selatan, bahkan ketika Gowa belum ditulis dalam sebuah peta yang dibuat ekpedisi Portugis ketika itu. Peta yang hanya ditulis tangan ini dibuat setelah pelayaran Antonio de Paiva (l544) ke Sulawesi-Selatan. Pada peta itu tertulis “ Description chorological de Macazar” Disepanjang pantai barat dalam peta itu tertulis “BUGUIS”. Dalam peta berderet dari utara ditulis Mandar, linta (Alitta),SUPA ( Suppa) dan Machoquique (Bacukiki). Tulisan Machoquique ( Bacukiki) berhadapan dengan gambar sebuah jangkar, yang menurut Pelras seolah menggambarkan bahwa banda tersebut menjadi bandar utama Portugis. Sayang peta tersebut menurut Pelras mungkijn dibuat oleh orang yang belum pernah melihat situasi daerah itu sebenarnya. Gambar itu hanya dibuat berdasarkan pelukisan orang lain, karena lokasi Bacukiki dilukis sangat mencorok ke dalam ( seperti ratusan kilometer) berdasarkan prepektif gambar, padahal Bacukiki, tidak berapa jauh dari garis luar pantai.

Seperti yang saya sudah tulis sebelumnya di sebuah media , mengutip tulisan Leonard Andaya, seorang peneliti mengenai kerajaan-kerajaan Bugis dalam buku : The Heritage of Arung Palakka. Dalam buku itu juga disebut peranan bandar Bacukiki yang luar biasa di Sulawesi-selatan pada abad ke XVI. Karena Bacukiki menjadi bandar internasional untuk berbagai macam perdagangan dari daerah sekitarnya. Barulah ketika Kerajaan Gowa sudah besar dan berpengaruh setelah menaklukan semua kerajaan di Sulawesi-Selatan termasuk Bone. Raja Gowa yang sangat piawai dalam mengatur kerajaan bernama Tunipalangga ( 1546).

Hampir bersamaan dengan kedatangaan banyak ekspedisi dari Portugis, maka Bacukiki perlahan kehilangan peran. Seperti diketahui Tunipalangga adalah raja yang pintar, misalanya dia menetapkan standar ukuran berat, menciptakan jabatan yang khusus mengatur system administrasi dalam kerajaan ( Tumailalang) . Dia pula yang memulai pembuatan peluru secara lokal, mencampur emas dan logam lain untuk membuat batu-bata, merubah tombak yang panjang lebih pendek, mungkin untuk memudahkan mobilitas perajurit, serta perisai besar menjadi kecil agar lebih lincah penggunaanya.

Salah satu gagasan Tunipalangga, setelah melihat jauhnya bandar Bacukiki dari Gowa ( Somba Opu), yang sulit diawasi, dan tentu saja menjadi saingan bandar-bandar lain di Gowa seperti Ujung Tanah, Grassi, maka baginda ingin supaya kegiatan dan peranan Bacukiki sebagai bandar dialihkan ke Gowa. Pekerjaan ini tentu tidak mudah, karena bandar Bacukiki sudah lama dikenal, selain itu tenaga terampil yang mengelola bandar ini adalah orang-orang yang berasal dari Bacukiki, Sawitto dan Suppa. Baginda tidak berpikir panjang, ia memerintahkan semua tenaga-tenaga ahli yang mengelola bandar Bacukiki dipindahkan ke Makassar. Dengan kekuasannya, semua ini bisa terjadi, sejumlah orang Bacukiki,Suppa dan Sawitto, ikut dipindahkan ke Makassar. Tidak hanya orang lokal, bahkan perusahaan-perusaha an dagang orang Melayu yang sudah terlanjur didirikan di Bacukiki harus ikut pindah. Orang Melayu yang meminta beberapa syarat untuk pindah, semua dikabulkan oleh baginda, termasuk izin menetap di Makassar.Sejak itu, kegiatan bandar Bacukiki menyusut dan digantikan oleh bandar yang ada di kerajaan Gowa. Sebelum Gowa menguasai Bacukiki, Bacukiki berada dibawah kekuasaan kerajaan Siang ( Pangkajenne) .

Sayang sekali tidak ada kronik dari para peneliti Barat ini yang menjelaskan mengenai siapa penguasa di Bacukiki pada waktu itu. Begitu pula mengenai penguasa di kerajaan Suppa. Peta sejarah Sulawesi-Selatan pada abad XII-XV yang dibuat oleh Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Muchlis Paendi dkk tahun l986, misalnya hanya menyebut nama kerajaan antara lain : Kasuwiyang Salapang ( Gowa), Ajattapareng ( Sidenreng), Matajang ( Bone), Bantaeng ( Bonthain), Bukil ( Selayar) serta peta kawasan masing-masing. . Kerajaan Sawitto tidak disebut, Bacukiki juga tidak disebut. Pada abad XVI, sudah tertulis kerajaan : Endekan ( Enrekang) Sawitto, Wajo, Suppa, Mallusetasi, Tanete Barru,Bone,Soppeng, Madalle, Marusu ( Maros),Gowa, Bulukumba, Bantaeng, Binamu (Takalar), Bajeng, Selayar, Bulo-Bulo( Sinjai). Parepare masuk kawasan kerajaan Mallusetasi, tentu di sini juga berada Bacukiki. Tetapi melihat keunikan Bacukiki, selain pernah sebagai bandar internasional yang ramai di Sulawesi-Selatan, maka cikal bakal Bacukiki yang kini hanya menjadi sebuah kecamatan di kota Parepare, tentulah menyimpan sejarah tersendiri yang berbeda dengan kerajaan lain.

KERAJAAN SUPPA MELAWAN PASUKAN INGGERIS (3)

Dituturkan A.Makmur Makka

Kerajaan Inggeris pernah menjajah kerajaan-kerajaan di Sulawesi-Selatan pada abad ke XVIII. Pada waktu itu, Belanda kalah perang melawan Inggeris di Eropah dan tunduk pada Traktat (konvensi) London tahun 1814.. Di Batavia dan Jawa, Raffles pemimpin tertinggi Inggeris di Jawa mengambil alih kekuasaan dari kerajaan Belanda. Raffles terkenal pencinta alam dan dialah yang mendirikan Kebun Raya Bogor, sebelum ia dipindahkan lagi ke semananjung Malaya dan Singapura. Barulah pada tahun 1816, Kerajaan Belanda kembali berkuasa di kawasan Nusantara. Gubernur Jenderal Belanda sebagai pemimpin tertinggi Belanda di Batavia bernama G.A.G Philip van der Capelien. Tetapi hubungan antarkerjaaan – kerajaan di Sulawesi -Selatan dengan Pemerintah Hindia Belanda, tidak lagi semulus semasa kejayaan Hindia Belanda di Sulawesi-Selatan dibawah Admiral Speilman.

Kerajaan-kerajaan yang sudah dikuasai Gowa dan Bone, karena “politik kawin-mawin” yang digencarkan antara keluarga Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone semasa akhir perang Makassar yang dimenangkan Arungpone La Tenritatta Arung Palakka, membuat kedua kerajaan ini makin dekat dan bersatu. Hal inilah yang juga menyusahkan pemerintah kerajaan Inggeris di Makassar yang dipimpin Residen Philips dan Mayor Dalton pimpinan pasukan kerajaan Inggeris .

Saat kuasa kerjaan Inggeris di Makassar hendak mengendalikan kekuasaan raja-raja di Sulawesi-Selatan sebagaimana masa pemerintahan Hindia Belanda, Inggeris mendapat tantangan, In ggerisn misalnya hendak menentukan siapa yang berhak dan direstuinya menjadi raja. pada setiap kerajaan. Kebijakan ini terhalang ketika Inggeris hendak mementukan siapa yang menjadi raja di Kerajaan Gowa. Pada waktu itu, raja Gowa terjadi dualisme pemerintahan, yang pertama dipegang oleh Arung Mampu, Sultan Mallisujawa didukung oleh rakyat Gowa dari pegunungan serta Arumpone dan Sultan Zainuddin Karaeng Katangka didukung oleh penduduk Gowa dari pesisir pantai. Sultan Zainuddin ini didukung oleh kerjaaan Inggeris di Makassar. Barulah ketika Raja Gowa dipimpin oleh I Mappatunru Karaeng Lembangparang, putra Raja Tallo, maka dualisme ini berakhir. Wakil kerjaaan Inggeris di Makassar kemudian menyerahkan regalia ( benda kerjaaan) berupa Sudangga ( keris) dan Kalompoang ( mahkota) ke I Mappatunru Karaeng Lembangparang. Pada waktu itu, Inggeris tinggal menghadapi Arungpone To Appatunru yang juga memakai gelar Arung Palakka. Arumpone ini hendak menggelorakan kembali semangat Bone untuk merdeka dan bebas dari tekanan manapun. Inggeris tentu saja tidak senang, Inggeris ingin menjatuhkan To Appatunru yang sudah menyatakan permusuhan dengan kerajaan-kerajaan yang sudah mengakui kekuasaan Inggeris, seperti Gowa,Soppeng dan Sidenreng. Sebagai hukuman kepada Arumpone To Appatunru, pelabuhan Parepare yang sudah muncul kembali, terutama sebagai lalu lintas perdagangan hasil pertanian dan biji besi ( dari Luwu ?) yang dikuasai oleh kerajaan Bone, diserahkan pengelolaannya kepada Addatuang Sidenreng La Wawo Sultan Muhammad Said. Untuk mengadakan penguasaan mutlak pada kerajaan Bone, maka Inggeris bermaksud menyerang Bone dan menaklukkannya.

SUPPA BERPERANG MELAWAN INGGERIS

Disinilah Inggeris terlibat dalam peperangan melawan Kerajaan Suppa yang dipimpin oleh Datu Suppa yang bernama Sultan Aden. Datu Suppa tidak lain adalah adik ipar dari Arumpone To Appatunru Arung Palakka. Tahun 1815, pasukan Inggeris yang dipimpin oleh Letnan Jackson atas perintah Kapten Wood di Makassar, hendak menuju Bone lewat Parepare. Tetapi Datu Suppa menghadang perjalanan pasukan yang melalui darat ini . Perang seru terjadi, dengan persenjataan pasukan Suppa yang sangat kuat, pasukan Inggeris akhirnya berhasil dihalau . Pasukan Inggeris mundur kembali ke Makassar dan hendak melalui Tanete Barru. Tetapi pasukan Inggeris kembali diserang oleh pasukan Datu Tanete La Patau yang ternyata juga sepupu Arungpone To Appatunru Arung Palakka. Pasukan Inggeris babak belur dan terus mengundurkan diri ke arah Makassar , daerah yang dilaluinya antara lain Sigeri dan Maros, kerajaan yang sudah mengakui kekuasaan Inggeris, turut diserang pasukan Datu Tanete dan akhirnya dikuasai oleh La Patau.

Inilah perlawaan heroik kerajaan Suppa melawan Inggeris dan pada abad sebelumnya juga mengusir Portugis yang berusaha mengkristensi rakyat Suppa dan rajanya. Ketika Hindia Belanda kembali berkuasa berdasarkan konvensi London 1814, Belanda hendak memulihkan kekuasaannya pada kerajaan-kerajaan yang sudah ditaklukkannya di Sulawesi -Selatan, khususnya Gowa dan Bone. Penguasa Hindia Belanda di Makassar mengadakan pembaruan dan pengukuhan kembali Perjanjian Bongaya ( Cappaya ri Bungaya) tahun l667. Perjanjian ini dibuat Kerajaan Gowa dibawah Sultan Hasanuddin, setelah beliau dikalahkan oleh persekutuan Belanda dan Bone.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, “politik kawin-mawin” antar keluarga kerajaan Gowa dan Bone untuk mengakhiri permusuhan yang abadi atara keduanya, telah berhasil menyatukan dan mendamaikan Gowa dan Bone. Pembaruan Perjanjian Bongaya bertujuan agar Hindia Belanda dapat memaksakan kembali kemauannya kepada kerajaan-kerajaan di Sulawesi-Selatan ini. Kerajaan Bone yang pernah menjadi sekutunya, saat itu dikuasai oleh keturunan dan sanak keluarga Tenritatta Arung Palakkqa, Petta Malampe’ Gemmene, Batara Tungkena Tana Ugi, ternyata tidak ingin terus menerus diperintah penguasa Hindia Belanda. Semua Arungpone, sampai pada Arungpone La Pawawoi dan Arungpone Andi Mappanyukki ( sebelumnya menjadi Datu Suppa), tetap melakukan penentangan dan perlawanan. Salah seorang diantaranya adalah Arungpone Besse Kajuara, kendatipun dia seorang perempuan, perlawannnya kepada pasukan Hindia Belanda sangat gencar. Ia kemudian dikalahkan oleh Belanda dan turun tahta. Ia tidak mau menatap lagi di Bone dan memilih tinggal di Suppa, tanah kelahirannya. Tahun itu juga ( l862) oleh rakyat Suppa dia dinobatkan menjadi Datu Suppa sampai akhirnya dia mangkat dan diberi gelar Datu Suppa Matinroe’ ri Majennang.

Saya tidak tahu dimana tempat pemakaman Besse Kajuara di Majennang Suppa.Kelurahan Majennang tidak luas, bagi penduduk Suppa akan lebih terhormat jika makam Datu Suppa dan pahlawan wanita ini dipelihara dengan baik. Tentu ini menjadi wewenang pemerintah kabupaten Pinrang.

KERAJAAN BONE DAN GOWA BERSATU (4)

Dituturkan : A.Makmur Makka

I Tenritetta Arung Palakka, Petta Malampee’ Gemmena, Batara Tungkena Tana Ugi, ternyata bukan hanya seorang panglima perang yang berani dan berhati keras. Dibalik itu, ia mempunyai kepribadian yang lunak. Setelah memenangkan Perang Makassar yang berkahir dengan Perjanjian Bongaya 1667, Arung Palakka memilih tinggal di Makassar dan membuat Istana kecil di Bontoala. Ia kemudian menunjuk La Patau kemanakannya untuk menggantikannhya sebagai Arungpone.Hubungann ya dengan penguasa Belanda yang tinggal di Benteng Rotterdam , berjalan baik walaupun tidak begitu hangat. Penguasa Belanda tampaknya masih sangat perlu memelihara hubungan dengan Bone penguasa seluruh kerajaan di Sulawesi -Selatan. Karena itu, penguasa Belanda sangat menghormati Arung Palakka serta apa yang telah dikatakannya. Termasuk antara lain, keputusannya untuk menyerahkan kerajaan Bone kepada La Patau kemanakannya.

Tetapi Arung Palakka merasa bahwa sikap permusuhan antara kerajaan Bone dan Gowa tidak bisa terus menerus terjadi. Baginda sangat memaklumi, betapa terhina dan dipermalukannya panglima-panglima perang kerajaan Gowa, ketika baru saja dikalahkan dalam Perang Makassar. Arung Palakka, ingin segera menghapuskan semua stigma dan penghinaan itu. Untuk itu, ia membuat sebuah paviliun besar di Gowa, dimana setiap malam ia memperkenankan panglima muda kerajaan Gowa berpesta dan bergembira. Mereka yang terluka dalam peperangan, dipangilkan seorang Kadhi yang membacakan doa dan memohon kesembuhannya. Apalagi, Arung Palakka sangat menghormati Karaeng Patingalloang, seorang intelektual besar dan pembesar kerajaan Gowa yang pernah menjadi ayah angkatnya, ketika ia sekeluarga menjadi tawanan Kerajaan Gowa jauh sebelum Perang Makassar meletus. Pesta ini diadakan untuk menandingi pesta besar-besaran pasukan Bone dan sekutunya serta pasukan Belanda di Bontoala, yang siang malam merayakan kemenangan Bone.

Arung Palakka berpikir, untuk menyatukan Gowa dan Bone, tidak ada jalan lain adalah mengadakan “pertalian keluarga” antar keduanya bahkan dengan kerajaan Luwu yang pernah membantunya. Untuk itu, Arung Palakka mempersunting putri Karaeng Bontomarannu, panglima pasukan laut Makassar menjadi isteri keduanya, setelah Daeng Talele. Sebelumnya, seorang kemanakannaya sudah dipersunting oleh penguasa di kerajaan Luwu. Setelah ia meninggal karena sakit keras pada tanggal 6 April 1696 , La Patau mengambilalih kepemimpinan Arung Palakka sebagaimana kehendak Arung Palakka sendiri. La Patau Matama Tikka Walinonoe’ kemudian melanjutkan kebijakan Arung Palakka dengan mempersunting salah seorang putri Karaeng Patukangan, seorang kerabat dan pembesar kerajaan Gowa yang bernama I Mariama Karaeng Patukangan. Pada makam La Patau yang diberi gelar Matinrio ri Nagauleng, sekitar 30 km dari jalan poros menuju Sengkang, sekarang makam I Mariama terletak tidak berapa jauh dari makam La Patau serta isteri-isterinya yang lain.

KAMPANYE “PEMBODOHAN’ PILKADA

Pada bulan Mei 2007 yang lalu, saya sempatkan berziarah kemakam La Patau Matinroe ri nagauleng, cikal bakal aristokarasi Sulawesi-Selatan ini di Bone. Makam La Patau telah dipugar oleh pemerintah daerah dengan baik. Makam itu terletak dalam tembok yang tebal, kemudian diberi atap pelindung . Seluruh makam yang kira-kira seluas seratus meter persegi. Dalam tembok yang terasa`tenang dan teduh itu, terletak sejumlah isteri dan kerabat La Patau Matama Tikka Walinonoe’, matinroe ri Nagauleng.

Inilah gagasan Arung Palakka untuk mendamaikan seluruh kerajaan di Sulawesi-Selatan agar tidak terus menerus bermusuhan. Penguasa kerajaan Bone, Gowa dan Luwu bahkan kerajaan di Ajatapareng, Soppeng , Sengkang, Tanete, Barru sampai selatan Makassar , Bataeng, Sinjai, Polongbangkeng, sudah tidak bisa dipilah-pilah lagi. Itulah “politik kawin mawin” yang sengaja diciptakan setelah Perang Makassar berakhir.

Sebagai contoh, Raja Gowa ke- I Makkulau Karaeng Lembangparang mempunyai dua putra masing-masing I Mappanyukki dan I Panguriseng Arung Alitta. I Mappanyukki kemudian diangkat menjadi Datu Suppa lalu dinobatkan lagi menjadi Arungpone . La Sinrang ( Sawitto) adalah kemanakan La Temma Addatuang Sawitto. Sementara Permaisuri I Makkualau Karaeng Lembangparang Raja Gowa yang bernama I Tenri Paddanreng adalah sepupu La Temma Addatuang Sawitto. Jadi La Sinrang adalah kemanakan permaisuri I Makkulau Sultan Husain Raja Gowa. Seperti diketahui Andi Abdullah Bau Massepe, pejuang nasional yang pernah menjadi Datu Suppa setelah A.Makkasau pamannya, adalah putra I Mappanyukki Arungpone. A.Abdullah Bau Massepe bersaudara dengan A.Pangerang Petta Rani, mantan Gubernur Sul-Sel.

I Makkulau Karaeng Lembangparang, mempunyai saudara bernama I Mangi-mangi Karaeng Bontonompo, yang kemudian menggantikannya menjadi Raja Gowa. I Mangi-mangi mempunyai anak bernama La Idjo Karaeng La Lolang yang kemudian menjadi Raja Gowa terakhir. Baginda I Mangi-mangi memperisterikan I Kunjung Karaeng Tanatana, putri I Nyula Mayor Bone. I Mappanyukki Arungpone ke XXII memperisterikan putri La Parenrengi Karaeng Tinggimae Datu Suppa ke XXIV putra Manggarabarani Arung Matowae Wajo . Isterinya bernama Dalawetoeng adalah putra La Panguriseng Addatuang Sidenreng. Betapa rumitnya hubungan keluarga bangsawan yang sudah saling bersilangan ini,

Karena itu, ketika kampanye Pilkada Gubernur baru-baru ini, ada kampanye yang menggunakan aristokrat membuat dikotomi antara Bugis dan Makassar, Bugis dan Turatea, maka kampanye itu adalah kampanye “pembodohan”. Sekarang, dalam suasana yang sudah “meelting pot” berbaur dan campur aduk, mengangkat isu seperti ini, total adalah “pembodohan”.

DANAU SIDENRENG PERNAH SELUAS 30 MIL PERSEGI (5)

Dituturkan ; A.Makmur Makka

Beberapa hari setelah Idul Fitri 2007, saya bersama keluarga bersilaturahmi ke Belokka, Wanio, Wette’e dan Baranti. Pada kesempatan itu, saya coba melayari Sungai Sidenreng di Wette’e sambil menikmati “bale bolong”, “ ceppe (ikan gabus) dan “lawaurang” (ronto) pada sebuah rumah terapung di atas Danau Sidenreng milik A.Tongkeng . Pengalaman yang unik ini, memancing keinginan saya untuk lebih banyak tahu mengenai Danau Sidenreng dan Danau Tempe yang ternyata saling berhubungan. Danau Sidenreng terutama di Wette’ sekarang sudah sangat dangkal. Ketika kami melayari beberapa ratus meter danau menggunakan perahu motor ( tangkai baling-baling hanya dipegang pengemudi) dari pelabuhan ikan Wette’, kedalamannya hanya sekitar satu setengah meter. Perahu motor berpenumpang empat itu, melaju meliuk-liuk menghindari “belantara” enceng gondok, dengan kecepatan – menurut perkiraan saya- sepuluh km/ perjam . Kondisi yang sama juga terjadi di Danau Tempe kabupaten Wajo yang saling berhubungan dengan Danau Sidenreng.

Christian Pelras yang dalam buku “ The Bugis”, mengutip Bulbeck dalam Historical Aechaelogy bahwa sebenarnya laut pernah memanjang dari Sungai Cenrana kearah pegunungan dan terus ke Danau Tempe yang rendah. Hal itu terjadi 7.100 dan 2.600 tahun yang lalu. Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa pada abad ke 16 Masehi, bagian rendah sekitar Danau Tempe dan Danau Sidenreng masih merupakan satu danau yang besar dan luas, namun kemudian dalam perjalanan waktu semakin mendangkal. Dulu menurut penuturan Pinto orang Portugis yang pernah mengunjungi danau ini tahun 1548, melaporkan bahwa penduduk menamakan danau ini sebagai “ Tappareng Karaja” yang banyak dilalui perahu layar besar, termasuk perahu layar Portugis yang panjang dan lebar. Menurut Pinto, danau tersebut lebarnya lima legua Portugis atau sekitar 25 km dan panjangnya sekitar 100 km. Tahun l828, seorang narasumber bernama Crawfurd yang menulis dalam bukunya “Description Dictionary” menyatakan, bahwa berdasarkan keterangan orang Wajo ketika itu, panjang danau tersebut sekitar 38 km. Sumber lain Nahuijs van Burgst dalam buku “ Briven 54” menyebutkan tahun 1827 Danau Sidenreng berhubungan dengan Danau Tempe. Danau Tempe mempunyai keliling 72 km dengan kedalaman 6-30 kaki. Tetapi pada pengukuran Danau Sidenreng tahun 1889, tentu oleh pihak kolonial Belanda, diperkirakan luas danau tersebut 30 mil persegi dan Danau Tempe 59 mil persegi, serta kedalaman 4-5 meter pada musim hujan. Sejak waktu itu, disebutkan danau tersebut selalu kering pada musim kemarau. Penuturan ini, masih sinkron dengan keadaaan sekarang. Menurut penduduk setempat, pada musim kemarau dari tappareng Sidenreng orang bisa berjalan kaki melalui danau itu ke Belawa kabupaten Sengkang. Sementara pada musim hujan dan bila terjadi banjir, Danau Sidenreng dan Danau Tempe menyatu kembali. Menurut penuturan lain, Danau Sidenreng pernah berhubungan dengan Sungai Saddang yang mengalir ke Selat Makassar melalui Suppa. Sungai Saddang dulu juga melalui daerah yang disebut Danau Alitta ( Sawitto), tetapi kemudian danau itu menjadi rawa-rawa diawal abad ke 20 , kemudian menjadi kering kerontang, tanpa bekas sekarang ini.

Masa itu, pernah pemerintah dan masyarakat di Sidenreng membuat sebuah rencana besar menggali terusan sepanjang 22 km guna mengalihkan aliran sungai ke Selat Makassar, agar alur perdangan dari Sidenreng bisa langsung, tidak melalui Sungai Cenrana di Teluk Bone, tetapi rencana itu gagal.

Dalam teks I Lagaligo, sebuah karya sastra Bugis Makassar yang bercampur mitologi, konon menyebutkan pula bahwa pada masa lembah Danau Tempe masih digenangi air “ laut tawar” dan orang Makassar menyebut danau itu sebagai “Tapparang La’baya” dan orang Bugis menyebutnya “Tappareng Karaja”, maka pada abad ke 16 Sulawesi-Selatan diperkirakan dibelah dua oleh laut air tawar, tetapi kemudian terbagi menjadi danau-danau kecil ; Danau Tempe, Danau Sidenreng dan Danau Alitta (yang sudah kering).

Pada masa itu, masyarakat setempat sudah menggantungkan hidupnya pada penghasilan ikan air tawar dari danau-danau itu. Bahkan sampai sekarang dengan lebar yang makin menyempit ( Oktober) hanya sekitar selebar 30 sampai 40 meter, kedalaman sekitar satu setengah meter, Danau Sidenreng masih berpenghasilan milyaran rupiah. Pada musim hujan dan banjir, air danau meluap dan penduduk sekitarnya terpaksa hanya berdiam di rumah. “Belantara” enceng gondok yang sudah menciptakan “daratan” khusus, tetapi tempat sarang dan persembunyian ikan, bisa bergeser karena arus deras ke tepi danau dan menggoyangkan rumah penduduk. Rumah-rumah penduduk terpaksa dipagari dengan batangan bambu panjang sebagai penghalau. Dari jauh, terlihat seperti antene menjulang tinggi.

Memperhatikan perubahan geografis sungai-sungai kuno pada abad tersebut dan melihat kondisinya sekarang yang berubah drastis, menarik untuk dipelajari , bagaimana sungai-sungai itu bermuara di kawasan Ajatappareng dan khususnya di Bacukiki. Saya menduga Sungai Bacukiki dulu juga memiliki lebar dan kedalaman yang tidak seperti sekarang. Perhatikan kawasan “Sore dangkang” yang lokasinya tidak beberapa jauh dari jalan poros Makassar-Parepare, kemungkinan dulu sebagai tempat lego jangkar perahu-perahu dagang internasional.

Sayang pemerintah daerah apalagi anak-anak muda, tidak tertarik dengan sejarah geografis daerah. Mereka tidak berminat melakukan rekonstruksi sejarah atau membuat tesis mengenai hal ini. Kita semua kalah dengan orang asing yang justru tidak punya kepentingan lagi dengan daerah ini, kecuali untuk menjadi ahli khusus Bugis Makassar seperti Christian Pelras, Crawfurd, Leonard Andaya..

GAGALNYA KRISTENISASI SUPPA DAN BACUKIKI (1)

Dituturkan : A.Makmur Makka

[The Habibie Center, Jakarta]

Tahun 90-an, saya bertemu Christian Pelras, sarjana Prancis yang ahli mengenai suku Bugis. Pertemuan itu hanya kebetulan di sebuah rumah seorang warganegara Prancis di Kawasan Kemang Jakarta Selatan. Saya diperkenalkan oleh teman saya Fracois Raillon, yang ahli tentang Indonesia .. Saya sudah lama tahu nama Pelras, tetapi baru kali itu saya bertemu muka . Ketika saya perkenalkan nama saya, ia langsung menyambut : “ Namanya seperti nama Bugis”, teman saya langsung menimpali :

“ Benar, ia orang Bugis “.

Setelah berbicara panjang lebar mengenai orang Bugis, suku yang sudah lama ditelitinya, kami berpisah.Beberapa hari kemudian, melalui teman Francois Raillon, saya mendapat sebuah paket pos yang dikirim dari Singapura. Isinya sebuah buku tebal berjudul “ The Bugis”, karangan Christian Pelras. Buku itu lama saya simpan, kemudian dua tahun lalu saya menerima hadiah buku “Manusia Bugis” dari Dr.Nurhayati Rahman, ahli sejarah dari UNHAS, terjemahan “ The Bugis”, buku Christian Pelras. Buku Christian Pelras ini menambah pemahaman saya mengenai orang Bugis, paling tidak menurut penelitian seorang Barat. Walaupun, Chirstian Pelras, hanya salah satu sarjana Barat yang pernah membuat penelitian mengenai suku Bugis.

Dari tulisan C. Pelras inilah yang makin memperkuat dugaan saya bahwa sejumlah penguasa kerajaan di Sulawesi_Selatan pada abad ke XVI, pernah dibaptis masuk agama Katholik. Sebutlah antara lain Kerajaan Tallo, Suppa, Siang (Pangkajenne) , Bacukiki, Alitta, Gowa. Penyebaran agama Katholik di Sulawesi-Selatan ketika itu bersamaan dengan kedatangan bangsa-bangsa asing, terutama Portugis. Jalur kedatangan bangsa Portugis pertama kali dari Malaka menuju ke daerah Ajatappareng dan Suppa, dari Ajatappareng ke Siang ( Pangkajenne) . Yang agak aneh, peyebaran agama ini ke Gowa, melalui jalur lain, yakni dari Ternate pada tahun yang lebih awal ( 1539), sementara ke Ajattapareng, Suppa dan siang, barulah l534, beberapa tahun kemudian.

Menurut Pelras, usaha kristenisasi raja-raja ini dimulai dengan kedatangan seorang pedagang Portugis yang Antonio de Paiva yang tertarik pada kekayaan daerah Indonesia Timur, khususnya kayu cendana. Mula-mula Antonio datang ke Siang dalam perjalanan ke daerah Sulawesi Tengah, kemudian singgah di Suppa. Pada kesempatan itulah Antonio membaptis penguasa di Suppa dan Siang ( ternyata kedua penguasa kerajaan itu bersahbat) . Itupun tidak dengan mudah, karena menurut C.Pelras, didahului perdebatan teologis yang hangat. Tidak disebut siapa penguasa Suppa yang dibaptis, kronik mengenai hal ini hanya dibaca dalam laporan Antonio de Paiva yang meminta maaf kepada Uskup Goa ( India ), karena ia telah membaptis dua penguasa tanpa penugasan resmi.

Apa alasan kedua penguasa ini mau dibaptis masuk agama Katholik? C.Pelras menulis, kemungkinan untuk membuat persekutuan militer dalam menghadapi serangan kerajaan kembar Gowa dan Wajo. Dengan demikian, tampak ada motif lain, tidak dengan keyakinan pada agama itu. Di kisahkan, ketika Antonio de Paiva kembali ke Malaka, ikut serta utusan dari kedua penguasa ke Malaka untuk meminta Gubernur Malaka mengirimkan pendeta ke Suppa dan Siang dan jika mungkin bantuan militer. Bahkan ikut pula serta dua putra penguasa dari Suppa. Kedua pemuda itu, kemudian dibawah ke Eropa.

Beberapa waktu setelah peristiwa tersebut, mendengar permintaan kedua penguasa di Sulawesi-Selatan itu, misionaris Khatolik yang terkenal Francisco Xavier berangkat ke Malaka dan dari sana ia akan melanjutkan perjalanan ke Suppa. Kedatangan missionaries ini kemudian batal, karena di terjadi perang antara Wajo dan Sidenreng . Sidenreng bersekutu dengan Suppa dan Siang, Francisco Xavier mungkin tidak mau mengambil resiko terjebak dalam kancah peperangan antarpara penguasa tersebut. Mendahului kedatangan Fansisco Xavier, sudah datang pendeta Vicente Viegas dari Malaka, dialah yang membaptis penguasa Alitta dan Bacukiki.

Pertalian agama antarpenguasa Suppa,Siang, Alitta dan Bacukiki dengan Portugis akan berlanjut, jika tidak terjadi peristiwa seorang perwira Portugis membawa lari seorang putri penguasa Suppa. Penguasa Suppa murka, supaya tidak terjadi pertumpahan darah, orang-orang Portugis buru-buru meninggalkan Suppa dan membawa putri penguasa Suppa tersebut ke kapal. Anak blasteran putri penguasa Suppa dengan perwira Portugis itu kemudian lahir dan bernama Manuel Godinho de`Eredia, ibunya juga diberi nama Donna Ele’na Vesiva ( konon keturunan Raja Suppa dan Raja Bacukiki). Manuel Godinho menjadi seorang pintar, ia menjadi penulis dan akhli geografi. Dialah yang pertama kali menyebut adanya pulau di sebelah selatan Timor yang kemudian dikenal sebagai Australia . Hanya seorang anggota ekspedisi Portugis bernama Manuel Pinto yang tidak ikut . Tetapi dia meninggalkan Suppa menuju Siang, Tallo, Sidenreng. Pinto inilah yang menulis laporan ke Uskup Goa ( India ) bahwa raja-raja tersebut sebenarnya sangat ingin bersekutu dengan Portugis. Wilayah Ajjatapareng tahun 1827 menurut perkiraan berjumlah 180.000 orang penduduk, tahun l884 berjumlah 236.000 penduduk. Ajattapareng meliputi Sidenreng, Sawitto, Suppa, Bacukiki, Alitta, Rappang.

Kegagalan kristenisasi penguasa Sulawesi-Selatan ini, tidak disebutkan secara jelas. Hanya.Pelras melukiskan bahwa kemungkinan missionaries itu pesimis akan merubah watak dan kepercayaan dasar penguasa di Sulawesi-Selatan itu. Misalnya, tidak mungkin menggantikan peranan Bissu dengan Pendeta Katholik jika mereka memilih menetap sebagai pemimpin agama. Alasan teknis, karena kurangnya tersedia pendeta di Malaka . Tahun l584 pernah dikirim empat pendeta ke Makassar , tetapi tidak bertahan lama. Kemungkinan lain, agama Katholik terdesak dengan masuknya agama Islam di Sulawesi-Selatan melalui ulama dari Melayu. Agama ini kemudian dianut dengan fanatik oleh penguasa di Gowa dan sekaligus sebagai kerajaan yang sangat kuat sebelum ditaklukkan Belanda melalui pembatasan dalam Perjanjian Bongaya 1667. Jelas bahwa penguasa-penguasa di Suppa, Alitta dan Sidenreng saat itu, bukanlah penguasa setelah kerajaan Gowa menjadi kerajaan Islam yang adidaya di Sulawesi -Selatan. Karena setelah itu, penguasa-penguasa lokal di Suppa, Alitta, Sidenreng diambil dari keluarga dekat raja-raja Gowa.

MACHOQUIQUE (BACUKIKI) BANDAR UTAMA(2)

Dituturkan : A.Makmur Makka

Hal yang juga menarik dari buku Christian Pelras, ketika ia menulis bahwa Bacukiki benar sebagai Bandar (laut) utama di Sulawesi-Selatan, bahkan ketika Gowa belum ditulis dalam sebuah peta yang dibuat ekpedisi Portugis ketika itu. Peta yang hanya ditulis tangan ini dibuat setelah pelayaran Antonio de Paiva (l544) ke Sulawesi-Selatan. Pada peta itu tertulis “ Description chorological de Macazar” Disepanjang pantai barat dalam peta itu tertulis “BUGUIS”. Dalam peta berderet dari utara ditulis Mandar, linta (Alitta),SUPA ( Suppa) dan Machoquique (Bacukiki). Tulisan Machoquique ( Bacukiki) berhadapan dengan gambar sebuah jangkar, yang menurut Pelras seolah menggambarkan bahwa banda tersebut menjadi bandar utama Portugis. Sayang peta tersebut menurut Pelras mungkijn dibuat oleh orang yang belum pernah melihat situasi daerah itu sebenarnya. Gambar itu hanya dibuat berdasarkan pelukisan orang lain, karena lokasi Bacukiki dilukis sangat mencorok ke dalam ( seperti ratusan kilometer) berdasarkan prepektif gambar, padahal Bacukiki, tidak berapa jauh dari garis luar pantai.

Seperti yang saya sudah tulis sebelumnya di sebuah media , mengutip tulisan Leonard Andaya, seorang peneliti mengenai kerajaan-kerajaan Bugis dalam buku : The Heritage of Arung Palakka. Dalam buku itu juga disebut peranan bandar Bacukiki yang luar biasa di Sulawesi-selatan pada abad ke XVI. Karena Bacukiki menjadi bandar internasional untuk berbagai macam perdagangan dari daerah sekitarnya. Barulah ketika Kerajaan Gowa sudah besar dan berpengaruh setelah menaklukan semua kerajaan di Sulawesi-Selatan termasuk Bone. Raja Gowa yang sangat piawai dalam mengatur kerajaan bernama Tunipalangga ( 1546).

Hampir bersamaan dengan kedatangaan banyak ekspedisi dari Portugis, maka Bacukiki perlahan kehilangan peran. Seperti diketahui Tunipalangga adalah raja yang pintar, misalanya dia menetapkan standar ukuran berat, menciptakan jabatan yang khusus mengatur system administrasi dalam kerajaan ( Tumailalang) . Dia pula yang memulai pembuatan peluru secara lokal, mencampur emas dan logam lain untuk membuat batu-bata, merubah tombak yang panjang lebih pendek, mungkin untuk memudahkan mobilitas perajurit, serta perisai besar menjadi kecil agar lebih lincah penggunaanya.

Salah satu gagasan Tunipalangga, setelah melihat jauhnya bandar Bacukiki dari Gowa ( Somba Opu), yang sulit diawasi, dan tentu saja menjadi saingan bandar-bandar lain di Gowa seperti Ujung Tanah, Grassi, maka baginda ingin supaya kegiatan dan peranan Bacukiki sebagai bandar dialihkan ke Gowa. Pekerjaan ini tentu tidak mudah, karena bandar Bacukiki sudah lama dikenal, selain itu tenaga terampil yang mengelola bandar ini adalah orang-orang yang berasal dari Bacukiki, Sawitto dan Suppa. Baginda tidak berpikir panjang, ia memerintahkan semua tenaga-tenaga ahli yang mengelola bandar Bacukiki dipindahkan ke Makassar. Dengan kekuasannya, semua ini bisa terjadi, sejumlah orang Bacukiki,Suppa dan Sawitto, ikut dipindahkan ke Makassar. Tidak hanya orang lokal, bahkan perusahaan-perusaha an dagang orang Melayu yang sudah terlanjur didirikan di Bacukiki harus ikut pindah. Orang Melayu yang meminta beberapa syarat untuk pindah, semua dikabulkan oleh baginda, termasuk izin menetap di Makassar.Sejak itu, kegiatan bandar Bacukiki menyusut dan digantikan oleh bandar yang ada di kerajaan Gowa. Sebelum Gowa menguasai Bacukiki, Bacukiki berada dibawah kekuasaan kerajaan Siang ( Pangkajenne) .

Sayang sekali tidak ada kronik dari para peneliti Barat ini yang menjelaskan mengenai siapa penguasa di Bacukiki pada waktu itu. Begitu pula mengenai penguasa di kerajaan Suppa. Peta sejarah Sulawesi-Selatan pada abad XII-XV yang dibuat oleh Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Muchlis Paendi dkk tahun l986, misalnya hanya menyebut nama kerajaan antara lain : Kasuwiyang Salapang ( Gowa), Ajattapareng ( Sidenreng), Matajang ( Bone), Bantaeng ( Bonthain), Bukil ( Selayar) serta peta kawasan masing-masing. . Kerajaan Sawitto tidak disebut, Bacukiki juga tidak disebut. Pada abad XVI, sudah tertulis kerajaan : Endekan ( Enrekang) Sawitto, Wajo, Suppa, Mallusetasi, Tanete Barru,Bone,Soppeng, Madalle, Marusu ( Maros),Gowa, Bulukumba, Bantaeng, Binamu (Takalar), Bajeng, Selayar, Bulo-Bulo( Sinjai). Parepare masuk kawasan kerajaan Mallusetasi, tentu di sini juga berada Bacukiki. Tetapi melihat keunikan Bacukiki, selain pernah sebagai bandar internasional yang ramai di Sulawesi-Selatan, maka cikal bakal Bacukiki yang kini hanya menjadi sebuah kecamatan di kota Parepare, tentulah menyimpan sejarah tersendiri yang berbeda dengan kerajaan lain.

KERAJAAN SUPPA MELAWAN PASUKAN INGGERIS (3)

Dituturkan A.Makmur Makka

Kerajaan Inggeris pernah menjajah kerajaan-kerajaan di Sulawesi-Selatan pada abad ke XVIII. Pada waktu itu, Belanda kalah perang melawan Inggeris di Eropah dan tunduk pada Traktat (konvensi) London tahun 1814.. Di Batavia dan Jawa, Raffles pemimpin tertinggi Inggeris di Jawa mengambil alih kekuasaan dari kerajaan Belanda. Raffles terkenal pencinta alam dan dialah yang mendirikan Kebun Raya Bogor, sebelum ia dipindahkan lagi ke semananjung Malaya dan Singapura. Barulah pada tahun 1816, Kerajaan Belanda kembali berkuasa di kawasan Nusantara. Gubernur Jenderal Belanda sebagai pemimpin tertinggi Belanda di Batavia bernama G.A.G Philip van der Capelien. Tetapi hubungan antarkerjaaan – kerajaan di Sulawesi -Selatan dengan Pemerintah Hindia Belanda, tidak lagi semulus semasa kejayaan Hindia Belanda di Sulawesi-Selatan dibawah Admiral Speilman.

Kerajaan-kerajaan yang sudah dikuasai Gowa dan Bone, karena “politik kawin-mawin” yang digencarkan antara keluarga Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone semasa akhir perang Makassar yang dimenangkan Arungpone La Tenritatta Arung Palakka, membuat kedua kerajaan ini makin dekat dan bersatu. Hal inilah yang juga menyusahkan pemerintah kerajaan Inggeris di Makassar yang dipimpin Residen Philips dan Mayor Dalton pimpinan pasukan kerajaan Inggeris .

Saat kuasa kerjaan Inggeris di Makassar hendak mengendalikan kekuasaan raja-raja di Sulawesi-Selatan sebagaimana masa pemerintahan Hindia Belanda, Inggeris mendapat tantangan, In ggerisn misalnya hendak menentukan siapa yang berhak dan direstuinya menjadi raja. pada setiap kerajaan. Kebijakan ini terhalang ketika Inggeris hendak mementukan siapa yang menjadi raja di Kerajaan Gowa. Pada waktu itu, raja Gowa terjadi dualisme pemerintahan, yang pertama dipegang oleh Arung Mampu, Sultan Mallisujawa didukung oleh rakyat Gowa dari pegunungan serta Arumpone dan Sultan Zainuddin Karaeng Katangka didukung oleh penduduk Gowa dari pesisir pantai. Sultan Zainuddin ini didukung oleh kerjaaan Inggeris di Makassar. Barulah ketika Raja Gowa dipimpin oleh I Mappatunru Karaeng Lembangparang, putra Raja Tallo, maka dualisme ini berakhir. Wakil kerjaaan Inggeris di Makassar kemudian menyerahkan regalia ( benda kerjaaan) berupa Sudangga ( keris) dan Kalompoang ( mahkota) ke I Mappatunru Karaeng Lembangparang. Pada waktu itu, Inggeris tinggal menghadapi Arungpone To Appatunru yang juga memakai gelar Arung Palakka. Arumpone ini hendak menggelorakan kembali semangat Bone untuk merdeka dan bebas dari tekanan manapun. Inggeris tentu saja tidak senang, Inggeris ingin menjatuhkan To Appatunru yang sudah menyatakan permusuhan dengan kerajaan-kerajaan yang sudah mengakui kekuasaan Inggeris, seperti Gowa,Soppeng dan Sidenreng. Sebagai hukuman kepada Arumpone To Appatunru, pelabuhan Parepare yang sudah muncul kembali, terutama sebagai lalu lintas perdagangan hasil pertanian dan biji besi ( dari Luwu ?) yang dikuasai oleh kerajaan Bone, diserahkan pengelolaannya kepada Addatuang Sidenreng La Wawo Sultan Muhammad Said. Untuk mengadakan penguasaan mutlak pada kerajaan Bone, maka Inggeris bermaksud menyerang Bone dan menaklukkannya.

SUPPA BERPERANG MELAWAN INGGERIS

Disinilah Inggeris terlibat dalam peperangan melawan Kerajaan Suppa yang dipimpin oleh Datu Suppa yang bernama Sultan Aden. Datu Suppa tidak lain adalah adik ipar dari Arumpone To Appatunru Arung Palakka. Tahun 1815, pasukan Inggeris yang dipimpin oleh Letnan Jackson atas perintah Kapten Wood di Makassar, hendak menuju Bone lewat Parepare. Tetapi Datu Suppa menghadang perjalanan pasukan yang melalui darat ini . Perang seru terjadi, dengan persenjataan pasukan Suppa yang sangat kuat, pasukan Inggeris akhirnya berhasil dihalau . Pasukan Inggeris mundur kembali ke Makassar dan hendak melalui Tanete Barru. Tetapi pasukan Inggeris kembali diserang oleh pasukan Datu Tanete La Patau yang ternyata juga sepupu Arungpone To Appatunru Arung Palakka. Pasukan Inggeris babak belur dan terus mengundurkan diri ke arah Makassar , daerah yang dilaluinya antara lain Sigeri dan Maros, kerajaan yang sudah mengakui kekuasaan Inggeris, turut diserang pasukan Datu Tanete dan akhirnya dikuasai oleh La Patau.

Inilah perlawaan heroik kerajaan Suppa melawan Inggeris dan pada abad sebelumnya juga mengusir Portugis yang berusaha mengkristensi rakyat Suppa dan rajanya. Ketika Hindia Belanda kembali berkuasa berdasarkan konvensi London 1814, Belanda hendak memulihkan kekuasaannya pada kerajaan-kerajaan yang sudah ditaklukkannya di Sulawesi -Selatan, khususnya Gowa dan Bone. Penguasa Hindia Belanda di Makassar mengadakan pembaruan dan pengukuhan kembali Perjanjian Bongaya ( Cappaya ri Bungaya) tahun l667. Perjanjian ini dibuat Kerajaan Gowa dibawah Sultan Hasanuddin, setelah beliau dikalahkan oleh persekutuan Belanda dan Bone.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, “politik kawin-mawin” antar keluarga kerajaan Gowa dan Bone untuk mengakhiri permusuhan yang abadi atara keduanya, telah berhasil menyatukan dan mendamaikan Gowa dan Bone. Pembaruan Perjanjian Bongaya bertujuan agar Hindia Belanda dapat memaksakan kembali kemauannya kepada kerajaan-kerajaan di Sulawesi-Selatan ini. Kerajaan Bone yang pernah menjadi sekutunya, saat itu dikuasai oleh keturunan dan sanak keluarga Tenritatta Arung Palakkqa, Petta Malampe’ Gemmene, Batara Tungkena Tana Ugi, ternyata tidak ingin terus menerus diperintah penguasa Hindia Belanda. Semua Arungpone, sampai pada Arungpone La Pawawoi dan Arungpone Andi Mappanyukki ( sebelumnya menjadi Datu Suppa), tetap melakukan penentangan dan perlawanan. Salah seorang diantaranya adalah Arungpone Besse Kajuara, kendatipun dia seorang perempuan, perlawannnya kepada pasukan Hindia Belanda sangat gencar. Ia kemudian dikalahkan oleh Belanda dan turun tahta. Ia tidak mau menatap lagi di Bone dan memilih tinggal di Suppa, tanah kelahirannya. Tahun itu juga ( l862) oleh rakyat Suppa dia dinobatkan menjadi Datu Suppa sampai akhirnya dia mangkat dan diberi gelar Datu Suppa Matinroe’ ri Majennang.

Saya tidak tahu dimana tempat pemakaman Besse Kajuara di Majennang Suppa.Kelurahan Majennang tidak luas, bagi penduduk Suppa akan lebih terhormat jika makam Datu Suppa dan pahlawan wanita ini dipelihara dengan baik. Tentu ini menjadi wewenang pemerintah kabupaten Pinrang.

KERAJAAN BONE DAN GOWA BERSATU (4)

Dituturkan : A.Makmur Makka

I Tenritetta Arung Palakka, Petta Malampee’ Gemmena, Batara Tungkena Tana Ugi, ternyata bukan hanya seorang panglima perang yang berani dan berhati keras. Dibalik itu, ia mempunyai kepribadian yang lunak. Setelah memenangkan Perang Makassar yang berkahir dengan Perjanjian Bongaya 1667, Arung Palakka memilih tinggal di Makassar dan membuat Istana kecil di Bontoala. Ia kemudian menunjuk La Patau kemanakannya untuk menggantikannhya sebagai Arungpone.Hubungann ya dengan penguasa Belanda yang tinggal di Benteng Rotterdam , berjalan baik walaupun tidak begitu hangat. Penguasa Belanda tampaknya masih sangat perlu memelihara hubungan dengan Bone penguasa seluruh kerajaan di Sulawesi -Selatan. Karena itu, penguasa Belanda sangat menghormati Arung Palakka serta apa yang telah dikatakannya. Termasuk antara lain, keputusannya untuk menyerahkan kerajaan Bone kepada La Patau kemanakannya.

Tetapi Arung Palakka merasa bahwa sikap permusuhan antara kerajaan Bone dan Gowa tidak bisa terus menerus terjadi. Baginda sangat memaklumi, betapa terhina dan dipermalukannya panglima-panglima perang kerajaan Gowa, ketika baru saja dikalahkan dalam Perang Makassar. Arung Palakka, ingin segera menghapuskan semua stigma dan penghinaan itu. Untuk itu, ia membuat sebuah paviliun besar di Gowa, dimana setiap malam ia memperkenankan panglima muda kerajaan Gowa berpesta dan bergembira. Mereka yang terluka dalam peperangan, dipangilkan seorang Kadhi yang membacakan doa dan memohon kesembuhannya. Apalagi, Arung Palakka sangat menghormati Karaeng Patingalloang, seorang intelektual besar dan pembesar kerajaan Gowa yang pernah menjadi ayah angkatnya, ketika ia sekeluarga menjadi tawanan Kerajaan Gowa jauh sebelum Perang Makassar meletus. Pesta ini diadakan untuk menandingi pesta besar-besaran pasukan Bone dan sekutunya serta pasukan Belanda di Bontoala, yang siang malam merayakan kemenangan Bone.

Arung Palakka berpikir, untuk menyatukan Gowa dan Bone, tidak ada jalan lain adalah mengadakan “pertalian keluarga” antar keduanya bahkan dengan kerajaan Luwu yang pernah membantunya. Untuk itu, Arung Palakka mempersunting putri Karaeng Bontomarannu, panglima pasukan laut Makassar menjadi isteri keduanya, setelah Daeng Talele. Sebelumnya, seorang kemanakannaya sudah dipersunting oleh penguasa di kerajaan Luwu. Setelah ia meninggal karena sakit keras pada tanggal 6 April 1696 , La Patau mengambilalih kepemimpinan Arung Palakka sebagaimana kehendak Arung Palakka sendiri. La Patau Matama Tikka Walinonoe’ kemudian melanjutkan kebijakan Arung Palakka dengan mempersunting salah seorang putri Karaeng Patukangan, seorang kerabat dan pembesar kerajaan Gowa yang bernama I Mariama Karaeng Patukangan. Pada makam La Patau yang diberi gelar Matinrio ri Nagauleng, sekitar 30 km dari jalan poros menuju Sengkang, sekarang makam I Mariama terletak tidak berapa jauh dari makam La Patau serta isteri-isterinya yang lain.

KAMPANYE “PEMBODOHAN’ PILKADA

Pada bulan Mei 2007 yang lalu, saya sempatkan berziarah kemakam La Patau Matinroe ri nagauleng, cikal bakal aristokarasi Sulawesi-Selatan ini di Bone. Makam La Patau telah dipugar oleh pemerintah daerah dengan baik. Makam itu terletak dalam tembok yang tebal, kemudian diberi atap pelindung . Seluruh makam yang kira-kira seluas seratus meter persegi. Dalam tembok yang terasa`tenang dan teduh itu, terletak sejumlah isteri dan kerabat La Patau Matama Tikka Walinonoe’, matinroe ri Nagauleng.

Inilah gagasan Arung Palakka untuk mendamaikan seluruh kerajaan di Sulawesi-Selatan agar tidak terus menerus bermusuhan. Penguasa kerajaan Bone, Gowa dan Luwu bahkan kerajaan di Ajatapareng, Soppeng , Sengkang, Tanete, Barru sampai selatan Makassar , Bataeng, Sinjai, Polongbangkeng, sudah tidak bisa dipilah-pilah lagi. Itulah “politik kawin mawin” yang sengaja diciptakan setelah Perang Makassar berakhir.

Sebagai contoh, Raja Gowa ke- I Makkulau Karaeng Lembangparang mempunyai dua putra masing-masing I Mappanyukki dan I Panguriseng Arung Alitta. I Mappanyukki kemudian diangkat menjadi Datu Suppa lalu dinobatkan lagi menjadi Arungpone . La Sinrang ( Sawitto) adalah kemanakan La Temma Addatuang Sawitto. Sementara Permaisuri I Makkualau Karaeng Lembangparang Raja Gowa yang bernama I Tenri Paddanreng adalah sepupu La Temma Addatuang Sawitto. Jadi La Sinrang adalah kemanakan permaisuri I Makkulau Sultan Husain Raja Gowa. Seperti diketahui Andi Abdullah Bau Massepe, pejuang nasional yang pernah menjadi Datu Suppa setelah A.Makkasau pamannya, adalah putra I Mappanyukki Arungpone. A.Abdullah Bau Massepe bersaudara dengan A.Pangerang Petta Rani, mantan Gubernur Sul-Sel.

I Makkulau Karaeng Lembangparang, mempunyai saudara bernama I Mangi-mangi Karaeng Bontonompo, yang kemudian menggantikannya menjadi Raja Gowa. I Mangi-mangi mempunyai anak bernama La Idjo Karaeng La Lolang yang kemudian menjadi Raja Gowa terakhir. Baginda I Mangi-mangi memperisterikan I Kunjung Karaeng Tanatana, putri I Nyula Mayor Bone. I Mappanyukki Arungpone ke XXII memperisterikan putri La Parenrengi Karaeng Tinggimae Datu Suppa ke XXIV putra Manggarabarani Arung Matowae Wajo . Isterinya bernama Dalawetoeng adalah putra La Panguriseng Addatuang Sidenreng. Betapa rumitnya hubungan keluarga bangsawan yang sudah saling bersilangan ini,

Karena itu, ketika kampanye Pilkada Gubernur baru-baru ini, ada kampanye yang menggunakan aristokrat membuat dikotomi antara Bugis dan Makassar, Bugis dan Turatea, maka kampanye itu adalah kampanye “pembodohan”. Sekarang, dalam suasana yang sudah “meelting pot” berbaur dan campur aduk, mengangkat isu seperti ini, total adalah “pembodohan”.

DANAU SIDENRENG PERNAH SELUAS 30 MIL PERSEGI (5)

Dituturkan ; A.Makmur Makka

Beberapa hari setelah Idul Fitri 2007, saya bersama keluarga bersilaturahmi ke Belokka, Wanio, Wette’e dan Baranti. Pada kesempatan itu, saya coba melayari Sungai Sidenreng di Wette’e sambil menikmati “bale bolong”, “ ceppe (ikan gabus) dan “lawaurang” (ronto) pada sebuah rumah terapung di atas Danau Sidenreng milik A.Tongkeng . Pengalaman yang unik ini, memancing keinginan saya untuk lebih banyak tahu mengenai Danau Sidenreng dan Danau Tempe yang ternyata saling berhubungan. Danau Sidenreng terutama di Wette’ sekarang sudah sangat dangkal. Ketika kami melayari beberapa ratus meter danau menggunakan perahu motor ( tangkai baling-baling hanya dipegang pengemudi) dari pelabuhan ikan Wette’, kedalamannya hanya sekitar satu setengah meter. Perahu motor berpenumpang empat itu, melaju meliuk-liuk menghindari “belantara” enceng gondok, dengan kecepatan – menurut perkiraan saya- sepuluh km/ perjam . Kondisi yang sama juga terjadi di Danau Tempe kabupaten Wajo yang saling berhubungan dengan Danau Sidenreng.

Christian Pelras yang dalam buku “ The Bugis”, mengutip Bulbeck dalam Historical Aechaelogy bahwa sebenarnya laut pernah memanjang dari Sungai Cenrana kearah pegunungan dan terus ke Danau Tempe yang rendah. Hal itu terjadi 7.100 dan 2.600 tahun yang lalu. Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa pada abad ke 16 Masehi, bagian rendah sekitar Danau Tempe dan Danau Sidenreng masih merupakan satu danau yang besar dan luas, namun kemudian dalam perjalanan waktu semakin mendangkal. Dulu menurut penuturan Pinto orang Portugis yang pernah mengunjungi danau ini tahun 1548, melaporkan bahwa penduduk menamakan danau ini sebagai “ Tappareng Karaja” yang banyak dilalui perahu layar besar, termasuk perahu layar Portugis yang panjang dan lebar. Menurut Pinto, danau tersebut lebarnya lima legua Portugis atau sekitar 25 km dan panjangnya sekitar 100 km. Tahun l828, seorang narasumber bernama Crawfurd yang menulis dalam bukunya “Description Dictionary” menyatakan, bahwa berdasarkan keterangan orang Wajo ketika itu, panjang danau tersebut sekitar 38 km. Sumber lain Nahuijs van Burgst dalam buku “ Briven 54” menyebutkan tahun 1827 Danau Sidenreng berhubungan dengan Danau Tempe. Danau Tempe mempunyai keliling 72 km dengan kedalaman 6-30 kaki. Tetapi pada pengukuran Danau Sidenreng tahun 1889, tentu oleh pihak kolonial Belanda, diperkirakan luas danau tersebut 30 mil persegi dan Danau Tempe 59 mil persegi, serta kedalaman 4-5 meter pada musim hujan. Sejak waktu itu, disebutkan danau tersebut selalu kering pada musim kemarau. Penuturan ini, masih sinkron dengan keadaaan sekarang. Menurut penduduk setempat, pada musim kemarau dari tappareng Sidenreng orang bisa berjalan kaki melalui danau itu ke Belawa kabupaten Sengkang. Sementara pada musim hujan dan bila terjadi banjir, Danau Sidenreng dan Danau Tempe menyatu kembali. Menurut penuturan lain, Danau Sidenreng pernah berhubungan dengan Sungai Saddang yang mengalir ke Selat Makassar melalui Suppa. Sungai Saddang dulu juga melalui daerah yang disebut Danau Alitta ( Sawitto), tetapi kemudian danau itu menjadi rawa-rawa diawal abad ke 20 , kemudian menjadi kering kerontang, tanpa bekas sekarang ini.

Masa itu, pernah pemerintah dan masyarakat di Sidenreng membuat sebuah rencana besar menggali terusan sepanjang 22 km guna mengalihkan aliran sungai ke Selat Makassar, agar alur perdangan dari Sidenreng bisa langsung, tidak melalui Sungai Cenrana di Teluk Bone, tetapi rencana itu gagal.

Dalam teks I Lagaligo, sebuah karya sastra Bugis Makassar yang bercampur mitologi, konon menyebutkan pula bahwa pada masa lembah Danau Tempe masih digenangi air “ laut tawar” dan orang Makassar menyebut danau itu sebagai “Tapparang La’baya” dan orang Bugis menyebutnya “Tappareng Karaja”, maka pada abad ke 16 Sulawesi-Selatan diperkirakan dibelah dua oleh laut air tawar, tetapi kemudian terbagi menjadi danau-danau kecil ; Danau Tempe, Danau Sidenreng dan Danau Alitta (yang sudah kering).

Pada masa itu, masyarakat setempat sudah menggantungkan hidupnya pada penghasilan ikan air tawar dari danau-danau itu. Bahkan sampai sekarang dengan lebar yang makin menyempit ( Oktober) hanya sekitar selebar 30 sampai 40 meter, kedalaman sekitar satu setengah meter, Danau Sidenreng masih berpenghasilan milyaran rupiah. Pada musim hujan dan banjir, air danau meluap dan penduduk sekitarnya terpaksa hanya berdiam di rumah. “Belantara” enceng gondok yang sudah menciptakan “daratan” khusus, tetapi tempat sarang dan persembunyian ikan, bisa bergeser karena arus deras ke tepi danau dan menggoyangkan rumah penduduk. Rumah-rumah penduduk terpaksa dipagari dengan batangan bambu panjang sebagai penghalau. Dari jauh, terlihat seperti antene menjulang tinggi.

Memperhatikan perubahan geografis sungai-sungai kuno pada abad tersebut dan melihat kondisinya sekarang yang berubah drastis, menarik untuk dipelajari , bagaimana sungai-sungai itu bermuara di kawasan Ajatappareng dan khususnya di Bacukiki. Saya menduga Sungai Bacukiki dulu juga memiliki lebar dan kedalaman yang tidak seperti sekarang. Perhatikan kawasan “Sore dangkang” yang lokasinya tidak beberapa jauh dari jalan poros Makassar-Parepare, kemungkinan dulu sebagai tempat lego jangkar perahu-perahu dagang internasional.

Sayang pemerintah daerah apalagi anak-anak muda, tidak tertarik dengan sejarah geografis daerah. Mereka tidak berminat melakukan rekonstruksi sejarah atau membuat tesis mengenai hal ini. Kita semua kalah dengan orang asing yang justru tidak punya kepentingan lagi dengan daerah ini, kecuali untuk menjadi ahli khusus Bugis Makassar seperti Christian Pelras, Crawfurd, Leonard Andaya..

SINGAPORE SCHOLARSHIP INVITATION FOR APPLICATIONS ACADEMIC YEAR 2009/2010

The Singapore Government awards the scholarship to Government-endorsed students from the other member countries of the ASEAN. Each Scholarship is for a full-time undergraduate degree course at the Nanyang Technological University, the National University of Singapore and the Singapore Management University. All disciplines except for Medicine and Dentistry are open to Scholars. The duration of each scholarships is for three or four years, depending on the discipline.

The award based on academic merit and places will allocated by open competition. If necessary, a one-year bridging or foundation programme, in addition to the undergraduate studies, will be provided.

To be eligible, a candidate must:
Be a citizen in an ASEAN country (Except Singapore)
Possess excellent academic records; and
Have a good command of English

Candidates must meet the entry requirements for Nanyang Technological University, National University of Singapore, and Singapore Management University. A recipient of the Scholarship may not concurrently hold any other Scholarship, Fellowship, Grant or Award without prior approval of the Singapore Government. The Scholars are also expected to return to their countries upon graduation to contribute to the development of their countries.

The scholarship will cover tuition fees for the duration of the award, a living allowance of S$4,300 per annum, an accommodation allowance based on the different room rates at each university and one return economy class air ticket passage from his/her home country to Singapore for the duration of studies.

Applications must be endorsed and submitted by the Indonesian Department of National Education (Bureau of Planning and Foreign Cooperation) at Building C, 6th Floor, Jl. Jend.Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat. Candidates are required to produce the following :
Certificate, endorsement by the former school, for graduated applicants;
Recommendation from the school principal, for applicants who are still in Grade 3 at SMU.

For more information on the Singapore Scholarships, Please contact Embassy in Jakarta:
Tel: 021-520 1489 / 5296 1433
Website: www.mfa.gov.sg/scp or write to:
The Singapore Scholarship
Technical Cooperation Directorate
Ministry of Foreign Affairs
Tanglin, Singapore 248163
Tel: (65) 6379 8000
Fax: (65) 6479 3357
E-Mail: mfa_scp@mfa.gov.sg
Deadline: 22nd December 2008
Formulir dapat di download di http://www.mfa.gov.sg/scp/ApplicationFormforAY09-10.pdf

Posted by: panritalopi | November 15, 2008

Carita dari Istana Talang 39

Saya tidak tahu mau mulai dari mana nich bercerita,
intinya saya akan bercerita tentang hidu dan kehidupan saya dan teman-teman, sahabat, saudara, sarri’battang, sussureng di asrama kami tercinta. Saya terbilang masih sangat bayi di dalam komunitas anak2 Bugis-Makassar ini yang di namakan IKAMI (Ikatan Keluarga Mahasiswa /Pelajar Indonesia) Sulawesi Selatan. Kehadiran saya di tengah-tengah komunitas ini, itu semua atas ajakan Kak Nandar senior saya di Fak. Ekonomi Trisakti. Oh iya saya sendiri kenal sama Kak Nandar dari kakak senior yang lain juga yang waktu itu ketemu saat Gathering Maba Trisakti… (continued)

Posted by: panritalopi | November 15, 2008

Carita-carita

Pagi ini saya tepatnya sabtu November di hari ke 15.
Morning yang kurang cerah ini membuat saya malas ke kampus….
Jadi pagi ini hanya chatting dengan beberapa teman… Saya sebenarnya sekali menghadiri semua kegiatan di kampus pagi tapi tidak ada niat u8ntuk ke sana…
Nggak tau kepapa pagi saya malas banget. Mungkin sebagian teman akan mengatakan saya orang yang tida bertanggungjawab atau mengatakan yang lain.
Tapi saya hanya dapat mengucapkan maaf dari jauh. keputusan saya untuk tinggal di rumah pagi ini mungkin ada hikmahnya. Oh iya sahabat-sahabat-sahabatku pagi saya lagi mengenang LB Scholarship yang telah membantu saya hingga hari ini masih bisa melanjutkan pendidikan.
Nama Lippo Bank memang telah usai tapi saya tetap akan selalu mengenangnya.

Ini adalah testimoni saya...

Categories