<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Panritalopi's Blog &#187; All about South Sulawesi</title>
	<atom:link href="http://panritalopi.wordpress.com/category/karya-tulis-dan-lain-lain/all-about-south-sulawesi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://panritalopi.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Jan 2009 06:57:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='panritalopi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/a56ea12fb2a1c49b915efc6cc17cf8de?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Panritalopi's Blog &#187; All about South Sulawesi</title>
		<link>http://panritalopi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://panritalopi.wordpress.com/osd.xml" title="Panritalopi&#8217;s Blog" />
		<item>
		<title>Menjelang Peringatan “Korban 40.000 Westerling” di Parepare</title>
		<link>http://panritalopi.wordpress.com/2008/11/21/menjelang-peringatan-%e2%80%9ckorban-40000-westerling%e2%80%9d-di-parepare/</link>
		<comments>http://panritalopi.wordpress.com/2008/11/21/menjelang-peringatan-%e2%80%9ckorban-40000-westerling%e2%80%9d-di-parepare/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 13:46:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>panritalopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[All about South Sulawesi]]></category>
		<category><![CDATA[Korban 40000 di Sulawesi Selatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panritalopi.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[11 DESEMBER  HARI  KORBAN 40.000


A.Makmur Makka
Menjelang peringatan “Korban 40.000” pada tanggal 11 Desember mendatang, sebagaimana peringatan hari bersejarah lainnya, tampaknya banyak orang sudah menganggap hari  peringatan itu, sebagai hal yang sudah rutin. Tidak banyak orang yang tahu , kenapa para syuhada-syuhada itu rela berkorban . Di kota Parepare, ada dua tempat penting [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panritalopi.wordpress.com&blog=5524898&post=29&subd=panritalopi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#ff0000;"><strong>11 DESEMBER  HARI  KORBAN 40.000<br />
</strong></span><strong><br />
</strong><br />
<span style="text-decoration:line-through;">A.Makmur Makka</span></p>
<p>Menjelang peringatan “Korban 40.000” pada tanggal 11 Desember mendatang, sebagaimana peringatan hari bersejarah lainnya, tampaknya banyak orang sudah menganggap hari  peringatan itu, sebagai hal yang sudah rutin. Tidak banyak orang yang tahu , kenapa para syuhada-syuhada itu rela berkorban . Di kota Parepare, ada dua tempat penting bersejarah yang bisa mengingatkan kita pada peristiwa 11 Desember . Pertama adalah tugu peringatan korban 40.000 jiwa di samping Masjid Jami Parepare. Pada tempat ini terpasang relief diaroma peristiwa penembakan 23 korban keganasan Kapten Raymond Westerling dan pasukannya , karena di tempat inilah para partisan , pejuang anti penjajahan Belanda tersebut di tembak oleh pasukan Westerling. Tempat kedua, adalah Taman Makam Kesuma di pekuburan Laberru, karena di tempat ini dimakamkan dalam satu liang lahat, 23 korban penembakan tersebut. Tempat lain, mungkin asrama CPM sekarang, karena di tempat inilah sejumlah korban ditahan sebelum dieksekusi.</p>
<p>Tetapi apa latar belakang penembakan tersebut ? Penjajah Belanda yang khawatir akan kehilangan daerah jajahan total di Indonesia akibat perkembangan diplomasi politik dan militer di Jawa , setelah Indonesia  memproklamsikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus l945, mulai menyusun strategi untuk mendirikan negara-negara boneka yang bernaung di bawa Republik Indonesia Serikat (RIS). Untuk Indonesia bagian timur, dibentuk Negara Indonesia Timur ( NIT), di Jawa Barata ada Negara Pasundan , dll  . Usaha ini dimulai dengan mengadakan komnprensi di Malino  16 Juli l946 yang dihadiri oleh utusan negara-negara boneka Belanda . Pada tanggal 24 Desember l946, Makassar diresmikan sebagai markas ibukota NIT . Untuk memberi legitimasi atas berdirinya negara boneka ini, maka penjajah Belanda memerlukan untuk menekan perlawanan rakyat yang menentukan bentuk baru penjajahan ini. Seperti diketahui, Belanda membentuk Comanding Officer NICA  (CONICA) disetiap daerah . A.Mappanyuki Raja Bone mulai menentangan pembentukan CONICA  dengan meninggalkan Bone bersama anaknya A.Pangeran Petta Rani. Keduanya kemudian ditangkap. Sam Ratulangi , Lanto Daeng Pasewang yang dipersiapkan untuk membentuk pemerintah daerah di Sulawesi-Selatan setelah pulang menghadiri Pertemuan PPKI ( Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) juga ditangkap dan diasingkan ke Serui.</p>
<p>Letkol. M.Saleh Lahade,  salah seorang tokoh perintis berdirinya TNI di Sulawesi-Selatan dalam makalah pada Seminar Perjuangan Rakyat Sulawesi-Selatan Menentang Penjajahan Asing, menulis betapa penting secara strategis Sulawesi-Selatan, Kalimatan bagi penjajah Belanda , karena kawasan ini  terdapat potensi ekonomi, gudang tenaga militer  dan sebagai basis ofensif politik dan militer .  Jika diplomasi politik dan penggunaan ofensif militer, penjajah Belanda tidak berhasil  di Jawa dan Sumatra, maka Indonesia Timur akan menjadi tempat mundur mereka , kemudian menyimpan bom-bom waktu sambil mundur ke Irian Barat sebagai basis pertahanan militer terakhir. Penguasa militer di Makassar, Kolonel de Vries mempersiapkan gerakan pasifikasi ini dengan menyatakan SOB di daerah ini  .Ini juga bagian dari strategi Jenderal Spoor dan Van Mook  mengambil “tindakan luar biasa”  di Sulawesi-Selatan untuk memperkuat eksistensi NIT  .  Dengan memperalat apa yang disebut “Dewan Hadat Sulawesi-Selatan” , dibuatlah seolah-olah rakyat Sulawesi-Selatan meminta perlindungan keamanan kepada Pax.Nedherlandica dI Jakarta untuk membasmi aksi – aksi perlawanan pejuang dan rakyat Indonesia yang dianggap ilegal ini . Dengan konsiderasi Dewan Hadat tersebut , keluarlah keputusan yang menyatakan afdeling Makassar,Bonthain, Parepare, Mandar dan gemeete Makassar dalam keadaan perang dan darurat perang ( staat van oorlog en beleg)  pada tanggal 11 Desemebr l946 . Dalam situasi seperti ini berlaku SOB  dan “stand –recht” perintah tembak ditempat  tanpa proses bagi mereka yang di sebut sebagai “ bandit, penjahat, extrimis,pemeras, terroris, perampok, pemeras,anarkis, orang-orang memiliki senjata secara tidak sah, mereka yang membantu  menyembunyikan kriminal.</p>
<p>Untuk menimbulkan “shock therapie” bagi pejuang kemerdekaan di daerah ini , didatangkanlah  pasukan istimewa KNIL ( para troopen) dipimpin oleh Kapten Raymond Paul Piere Westerling yang pada waktu itu masih berusia 27 tahun , dengan  beranggotakan 123 orang ( 20 %  Belanda, 80% kulit berwarna ). Westerling berayah Belanda dan Ibu Turki, terkenal penembak jitu, bermata biru dan berdarah dingin dalam menghadapi  musuh dan pejuang –pejuang RI. .</p>
<p>23 PEJUANG DITEMBAK DITERMINAL PAREPARE.</p>
<p>Di Parepare, dengan dipelopori oleh A.Makkasau ( Datu Suppa Toa) dan A.Abdullah Bau Massepe ( Datu Suppa Lolo), sudah dibentuk Badan Persiapan Republik Indonesia  (BPRI) untuk mendirikan  pemerintahan Indonesia yang merdeka di afdeling Parepare.Seperti yang sudah saya tulis pada tulisan saya sebelumnya, bahwa gerakan untuk Indonesia merdeka, sudah lama muncul. Ini terlihat dari kegiatan para tokoh-tokoh pejuang untuk menyebarluaskan negara Indonesia yang sudah merdeka melalui berbagaimacam informasi yang di monitor melalui radio. Sebagian lagi melakukan  penentangan kepada penjajahan Belanda dengan mempersiapkan  pasukan perlawanan  .Golongan pemuda  tidak ketinggalan dengan menyusun kekuatan, perlawanan gerilya dan sabotase dalam kota untuk menunjukkan eksistensi adanya negara dan pemerintahan Indonesia. Mereka mengadakan koordinasi dengan lasykar di kawasan Polongbangkeng, Rappang , Sawitto, Barru. Di dalam kota Parapere , pemuda Arifin Nummang, A.Mannaungi dan kawan-kawan melempari granat tangsi Belanda , menembak patroli secara sembunyi-sembunyi. Inilah antara lain yang oleh Belanda di anggap semacam teroris dan ekstrimis, penjahat-penjahat atau kriminal karena bertindak untuk membinasakan pasukan-pasukan penjajahan yang dianggapnya “sah” memerintah rakyat Indonesia.</p>
<p>Beberapa tokoh dan pemuda BPRI di Parepare kemudian ditahan antara lain A.J.Jusuf Binol , Abd.Hamid Saleh, Usman Isa, Makkarumpa Daeng Parani, A.Abubakar, La Halide, A.Mappatola, Muh,Jasim, Haddaseng,Jalangkar a, Tahir Djamalu, La Cara, Mustakim, A.Sinta, A.Isa, La Sita,  Juga telah ditangkap sebelumnya kemlompok pemuda A.Rahim Manji, Mansyur Munastan, S.Mon, Ajuba, Abd.Waris, Abdullah Keppang, Yunus Hasnawi, Zainuddin Zaini.</p>
<p>A.Abdullah Bau Massepe ditangkap dan dibawah ke Makassar, kemudian dikembalikan ke Pinrang untuk diperiksa. A.Makkasau juga di tangkap, tetapi atas permintaan mertuanya A.Tjalo yang menjadi Arung Mallusetasi ketika itu , ia ditahan di rumah mertunya dengan janji untuk diberi penyadaran dan diinsafkan.</p>
<p>Penahanan beberapa tokoh dan pemuda di Parepare dan sekitarnya , tidak mengendurkan perlawanan para pejuang dan pemuda-pemuda. Beberapa pemuda menyebrerang ke Jawa melalui beberapa titik pemberangkatan seperti Suppa. Perlawanan pasukan-pasukan di Sawitto yang dipimpin A.Selle makin gencar, demikian pula pelawanan pasukan A.Cammi yang membawa nama Lasykar Ganggawa di daerah Sidrap dan berpusat di Carawali mengadakan penghadangan dan menyerbu tangsi Belanda di Rappang.</p>
<p>Perlawanan gencar seperti inilah yang semakin menakutkan pemerintahan  penjajah Belanda . Pada tanggal 14  Januari l947 , militer Belanda dipimpin oleh Onder Luitenant Vermeulen menggiring 23 orang pejuang yang sedang di tahan di markas MP ( sekarang Asrama CPM) Parepare, dibawah berjalan ke terminal ( kini Tugu Korban 40.000).  Mereka itu Makkarumpa Daeng Parani, A.Isa, A.Sinta, Abdul Rasyid, La Nummang, Muh.Kurdi,Abd. Muthalib, Lasiming, Paung Side, La Sibali, Oyo, LA Sube,A.Mappatola, A.Pamusureng, Abubakar Caco,A.Etong, Bachrong,H.A. Abubakar, Osman Salengke ( Syamsul Bachri) ,La Upe, La Buddu, La Side, Haruna.</p>
<p>Mereka dijajarkan kemudian di ditembak . Salah seorang perempuan yang sedianya akan turut ditembak Hasnah Nu’mang akhirnya dikeluarkan dari barisan. 23 korban penembakan diangkut dengan truk sebagai syuhada, tanpa dimandikan dan dikafani , dikebumikan bersama dalam satu lobang di pekuburan La berru ( sekarang Taman Makam Kesuma) Parepare.</p>
<p>A.ABDULLAH BAU MASSEPE, A. MAKKASAU JUGA DIEKSEKUSI</p>
<p>Tidak berapa lama, Pebruari l947 A.Abdullah Bau Massepe juga dieksekusi, menyusul pada bulan yang sama A.Makkasau di tenggelamkan di perairan Marabombang Suppa. Kemudian pada tahun l950 kerangkanya  dipindahkan ke Makam Pahlawan Paccakke Parepare.  Seperti diketahui, Abdulah Bau Massepe dalam Konprensi Pacceke di Kabupaten Barru 20 Januari l947 dalam rangka pembentukan Divisi Hasanuddin , Tentara Republik Indonesia (TRI) di Sulawesi-Selatan, telah diangkat menjadi Panglima Divisi berdasarkan mandat  Panglima Besar TRI Jenderal Sudirman. Mandat ini dibawah oleh ekspedisi TRI dari Jawa yang dipimpin oleh Kapten A.Mattalatta, didampingi Kapten M.Saleh Lahade, Letnan Satu A.Oddang, Letnan Satu A.Sapada. Karena A.Abdullah Bau Massepe dalam tahanan Belanda di Pinrang, maka pelantikan dilakukan secara in absensia. Divisi Hasanuddin membawahi tiga resimen . Konprensi ini, dihadiri antara lain utusan kelasykaran dari seluruh Sulawesi-Selatan. Hadir mewakili Lasjkar Ganggawa dari  Parepare dan sekitarnya adalah A.Mannaungi , Lantja Rachmansyah. . Mereka kemudian juga diberi pangkat Kapten .  Adapun Kapten A. Muh .Sirpin yang juga melakukan pendararan dari Jawa , tidak bisa hadir pada acara pelantikan ini, karena telah gugur melawan pasukan Belanda di Salossoe. Nama A.M.Sirpin, jika saya tidak salah ,  kemudian diabadikan oleh Letnan satu A.Sapada menjadi nama  perguruan tinggi  yang kita kenal sebagai AMSIR. Singkatan dari Andi Muhammad Sirpin . Demikianlah, jika  A.Abdullah Bau Massepe  tidak segera didibinasakan , maka ia akan memimpin tiga resimen perlawanan di Sulawesi-Selatan, karena itu Belanda tidak ingin mengambil resiko.</p>
<p>Hari 11 Desember  inilah kemudian yang kita selalu peringati khususnya di Indonesia setiap tahun dan khususnya di kota Parepare. Aksi  penembakan tidak berhenti dan terjadi hampir diseluruh daerah Sulawesi-Selatan. Mereka yang gugur , kita sebut  sebagai korban 40,000 jiwa akibat kekejaman penjajah Belanda yang dilakukan oleh Special Troopen pimpin Kapten Raymon Paul Piere Westerling. Hari ll Desember sebetulnya adalah hari dinyatakannya keadaan SOB atau Darurat Perang di beberapa daerah termasuk  Afdeling Parepare  . Pada hari itulah yang menjadi dasar beraksinya Kapten Raymon Westerling . Hari penembakan korban 40.000 di Parepare tepatnya  tanggal 14  Januari l947, hampir setahun setelah berlakunya SOB .</p>
<p>WESTERLING MEMBELA DIRI</p>
<p>Dr.Salim Said, antara tahun l969-l970 mengikuti pendidikan jurnalistik di Berlin, Jerman. Setelah selesai, ia berkesempatan mengunjungi negeri Belanda. Di kota Amesterdam, ia berusaha menemui Kapten Raymond Westerling untuk mengadakan wawancara, waktu itu Salim Said menjadi wartawan Majalah Ekspres cikal bakal Majalah Tempo. Setelah berusaha mencari alamat Westerling, akhirnya Salim Said berhasil mengadakan pembicaraan tilpon dengan Westerling. Ia berterus terang sebagai wartawan Indonesia asal Sulawesi-Selatan yang ingin mengadakan wawancara, mengenai aksi-aksi yang dilakukan  Westerling di Sulawesi-Selatan sekitar tahun l946/l947 . Di luar dugaan, Westerling setuju dan mereka mengadakan perjanjian untuk bertemu esok harinya di sebuah restauran di tengah kota Amsterdam.  Pada waktu yang ditentukan Salim Said sudah berada di depan resutauran tersebut . Ia dihampiri oleh seseorang yang ternyata masih anak buah Westerling ketika di Indonesia dulu. Setelah Salim Said mengibaskan jas untuk membukatikan bahwa ia tidak bersenjata dan tidak datang untuk melakukan pembalasan pada Westerling, ia kemudian diantar menemui seorang Belanda yang berjenggot putih , tetapi berbadan kekar dan besar, kelihatan agak tua..</p>
<p>“ Westerling”, kata orang itu sambil mengulurkan tangan. Mereka kemudian duduk pada sebuah meja diawasi oleh beberapa anak buah Westerling dari jauh. Westerling mengakui bahwa orang-orang yang mengatar dan mengelilingi Salim Said adalah anak buahnya ketika di Indonesia. “ Kami sering bertemu , kami masih suka makan tempe, tahu “, kata Westerling menawarkan suasana. Dalam restauran yang tidak begitu besar tersebut, suara bising musik sangat dominan, sehingga orang harus mengeraskan suara jika saling berbicara.</p>
<p>“ Apakah orang Indonesia masih ingin mengadili saya “ tanya Westerling tiba-tiba.</p>
<p>“ Ya, saya selalu siap” jawabnya sendiri menantang.</p>
<p>Tetapi Salim Said mengatakan bahwa bangsa Indonesia sekarang sedang sibuk menyongsong hari depan, tetapi mereka tidak melupakan anda. Hanya saja mereka tampaknya menyerahkan masalah anda kepada sejarah.</p>
<p>Westrling kemudian mulai berbicara dan membela diri bahwa tidak benar ia dan pasukannya  membunuh 40.000 orang. Tanyakanlah kepada Sarwo Edhi, komandan pasukan khusus Indonesia, apakah mungkin sebuah pasukan khusus dalam waktu singkat dapat membunuh orang sebanyak itu ? Westerling mengakui “ hanya “ membunuh 463 orang. Tetapi ia tidak bisa menjawab jika pembunuhan rakyat Sulawesi-Selatan lainnya dilakukan oleh anak buahnya yang menyebar dan pasukan-pasukan Belanda lain pada saat yang sama. Itupun yang dibunuh  Westerling menurut pengakuannya adalah  orang-orang Soekarno yang kolaborator, kaum perusuh , penjahat. Tetapi itulah perang katanya .</p>
<p>Bayangkan yang diakui dibunuhnya langsung “hanya” 463 orang manusia dalam waktu relatif singkat, mereka para pejuang itu  tentu saja dianggapnya sebagai penjahat dan perusuh, karena menantang kehadiran pasukan penjajah. Ketika ditanya misalnya apakah ia memerintahkan penembakan  Andi Abdullah Bau Massepe, Andi Makkasau, Makkarumpa Daeng Parani, Westerling merasa tidak mengenalnya.</p>
<p>Setelah keganasan Westerling di  Sulawesi-Selatan dan Bandung dilaporkan ke negeri Belanda, para politisi di negeri Belanda turut memojokkan Westerling. “ Tetapi saya hanya melaksanakan perintah “ katanya, tetapi siapa yang memerintahkankannya melakukan penembakan , tidak ada yang tahu. Yang jelas para politisi Belanda seperti Van Mook yang menghendaki adanya negara federal di Indonesia pastilah bertanggung jawab. Karena itu, Westerling memaki-maki para politisi Belanda  itu di depan Salim Said. Westerling akhirnya dipanggil pulang ke negeri Belanda, tetapi dengan pesawat kecil Catalina, ia sudah terbang ke Singapura. Pelariannya itu diketahui pemerintah di Singapura yang masih dijajah oleh Inggeris. Westerling akhirnya di tangkap dan diborgol kerumah tahanan selama beberapa bulan. Tetapi entah dengan alasan apa, Westerling akhirnya berhasil pulang ke negeri Belanda dan bebas sebagai manusia merdeka. Ia pernah berusaha menjadi penyanyi di Jerman tetapi tidak berhasil, akhirnya pulang lagi ke Belanda dan menjadi penjual buku , juga gagal. Ada yang mengatakan, selama hidupnya ia merasa tidak tentram dan satu-satunya hiburannya adalah bertemu dengan kawan-kawan lama sesama pasukan Belanda di Indonesia dan mengobrol di restauran.Pada tahun delapan puluhan, Westerling meninggal dunia, tanpa pengadilan sebagai penjahat perang. Bayangkan sekarang dengan peristiwa Timor Timur pasca jajak pendapat, telah membuat dunia barat geger mau mengadili pejabat sipil dan militer Indonesia, sementara ribuan jiwa rakyat Sulawesi-Selatan yang lenyap melalui, siksaan dan pelanggaran HAM yang luar biasa, dibiarkan begitu saja. Itulah standar ganda dunia Barat.</p>
<p>DIMANA KELUARGA KORBAN ?</p>
<p>Sangat menyedihkan setiap tahun peristiwa ini diperingati dengan upacara yang bersifat rutin saja, tanpa menghayati  bagaimana sejarah terjadi peristiwa tersebut. Para pejuang yang telah gugur kemudian namanya diabdikan mernjadi nama jalan di kota Parepare, termasuk 23 korban  penembakan di samping masjid Jami. Para keluarga korban masih banyak di kota Parepare dan  saya yakin, mereka  tidak menuntut apa-apa dari pengorbanan orang tua, saudara para pejuang-pejuang ini. Tetapi ada baiknya, para peserta upacara sekali-sekali mengheningkan cipta mengenang bagaimana perasaan  para pejuang  menjelang saat – saat moncong senjata diarahkan ke kepala atau dada mereka disaksikan oleh warga kota Parepare yang juga tidak berdaya. Para korban ini setahu saya , tidak ada yang mengeluh, tidak ada berdiri dan mengingkari perjuangan mereka. Semua dengan ikhlas dan tabah menghadapi maut dalam keyakinan bersama untuk tetap merdeka, sampai puluru mengoyak kulit mereka, sampai darah mereka tumpah tergenang dibumi yang diperjuangkannya. Saat yang berarti inilah yang perlu dikenang, saat maut menjemput nyawa para pahlawan yang tanpa pamrih ini. Penderitaan dan kesedihan keluarga yang ditinggal, tidak hanya terbatas dan selesai pada hari itu, tetapi penderitaan yang mereka alami berlanjut berbulan dan bertahun-tahun setelah itu. Anak isteri mereka dikucilkan , masyarakat takut menghampiri mereka untuk menyatakan duka cita , karena takut dituduh juga sebagai kawan-kawan  pejuang itu . Karena itu,  bagi kita yang menikmati kemerdekaan buah perjuangan mereka, jangan dinodai dengan membagi harta negara secara tidak halal, dengan memperkaya diri sendiri. Banyak keluarga pejuang ini , mungkin masih ada diantara kita , tetap hidup sederhana bahkan mungkin sehari-hari sangat menyedihkan, karena hidup yang tidak layak . Dimana mereka , tunjukan penghargaan itu dengan bersilaturahmi pada mereka,  walaupun mereka tidak menuntut. Mungkin dengan cara itu akan lebih membuat peringatan 11 Desember ini berarti dan bermakna, daripada melaksanakan upacara secara rutinitas , pidato-pidato dengan pakaian kebesaran , meletakkan karangan bunga, bubar , saling tertawa dan semua melupakannya  kembali.( 2/11/03) ****</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/panritalopi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/panritalopi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/panritalopi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/panritalopi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/panritalopi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/panritalopi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/panritalopi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/panritalopi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/panritalopi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/panritalopi.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panritalopi.wordpress.com&blog=5524898&post=29&subd=panritalopi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://panritalopi.wordpress.com/2008/11/21/menjelang-peringatan-%e2%80%9ckorban-40000-westerling%e2%80%9d-di-parepare/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6727c7236734a0710550028f09a399c6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">panritalopi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GAGALNYA KRISTENISASI  SUPPA DAN BACUKIKI (1)</title>
		<link>http://panritalopi.wordpress.com/2008/11/19/24/</link>
		<comments>http://panritalopi.wordpress.com/2008/11/19/24/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 00:51:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>panritalopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[All about South Sulawesi]]></category>
		<category><![CDATA[Kristenisasi SulSel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panritalopi.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[GAGALNYA KRISTENISASI  SUPPA DAN BACUKIKI (1) 
Dituturkan : A.Makmur Makka 
[The Habibie Center, Jakarta]  
Tahun 90-an, saya  bertemu  Christian Pelras, sarjana Prancis yang ahli mengenai suku Bugis. Pertemuan itu hanya kebetulan  di sebuah rumah seorang warganegara Prancis di Kawasan Kemang Jakarta Selatan. Saya diperkenalkan oleh teman saya Fracois Raillon, yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panritalopi.wordpress.com&blog=5524898&post=24&subd=panritalopi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>GAGALNYA KRISTENISASI  SUPPA DAN BACUKIKI (1) </p>
<p>Dituturkan : A.Makmur Makka </p>
<p>[The Habibie Center, Jakarta]  </p>
<p>Tahun 90-an, saya  bertemu  Christian Pelras, sarjana Prancis yang ahli mengenai suku Bugis. Pertemuan itu hanya kebetulan  di sebuah rumah seorang warganegara Prancis di Kawasan Kemang Jakarta Selatan. Saya diperkenalkan oleh teman saya Fracois Raillon, yang ahli tentang Indonesia .. Saya sudah lama tahu nama Pelras, tetapi baru kali itu saya bertemu muka . Ketika saya perkenalkan nama saya, ia langsung menyambut :   “ Namanya seperti nama Bugis”, teman saya langsung menimpali : </p>
<p>“ Benar, ia orang  Bugis “. </p>
<p>Setelah berbicara panjang lebar mengenai orang Bugis, suku yang sudah lama ditelitinya, kami berpisah.Beberapa hari kemudian, melalui teman Francois Raillon, saya mendapat sebuah paket pos yang dikirim dari Singapura.  Isinya sebuah buku tebal berjudul “ The Bugis”, karangan Christian  Pelras. Buku itu lama saya simpan, kemudian dua tahun lalu saya menerima hadiah buku “Manusia Bugis” dari Dr.Nurhayati Rahman, ahli sejarah dari UNHAS, terjemahan “ The Bugis”, buku Christian Pelras. Buku Christian Pelras ini menambah pemahaman saya mengenai orang Bugis, paling tidak menurut penelitian seorang Barat. Walaupun, Chirstian Pelras, hanya salah satu sarjana Barat yang pernah membuat penelitian mengenai suku Bugis. </p>
<p>Dari tulisan C. Pelras inilah yang makin memperkuat dugaan saya bahwa sejumlah penguasa kerajaan di Sulawesi_Selatan pada abad ke XVI, pernah dibaptis masuk agama Katholik. Sebutlah antara lain Kerajaan Tallo, Suppa, Siang (Pangkajenne) , Bacukiki, Alitta, Gowa. Penyebaran agama Katholik di Sulawesi-Selatan ketika itu bersamaan dengan kedatangan bangsa-bangsa asing, terutama Portugis. Jalur kedatangan bangsa Portugis pertama kali dari Malaka menuju ke daerah Ajatappareng dan Suppa, dari Ajatappareng ke Siang ( Pangkajenne) . Yang agak aneh, peyebaran agama ini ke Gowa, melalui jalur lain, yakni dari Ternate pada tahun yang lebih awal ( 1539), sementara ke Ajattapareng, Suppa dan siang, barulah l534, beberapa tahun kemudian. </p>
<p>Menurut Pelras, usaha kristenisasi raja-raja ini dimulai dengan kedatangan seorang pedagang Portugis yang Antonio de Paiva yang tertarik pada kekayaan daerah Indonesia Timur, khususnya kayu cendana. Mula-mula Antonio datang ke Siang dalam perjalanan ke daerah Sulawesi Tengah, kemudian singgah di Suppa. Pada kesempatan itulah Antonio membaptis penguasa di Suppa dan Siang ( ternyata kedua penguasa kerajaan itu bersahbat) . Itupun tidak dengan mudah, karena menurut C.Pelras, didahului perdebatan teologis yang hangat. Tidak disebut siapa penguasa Suppa yang dibaptis, kronik mengenai hal ini hanya dibaca dalam laporan Antonio de Paiva yang meminta maaf kepada Uskup Goa (   India ), karena ia telah membaptis dua penguasa  tanpa penugasan resmi. </p>
<p>Apa alasan kedua penguasa ini mau dibaptis masuk agama Katholik? C.Pelras menulis, kemungkinan untuk membuat persekutuan militer dalam menghadapi serangan kerajaan kembar Gowa dan Wajo. Dengan demikian, tampak ada motif lain, tidak dengan keyakinan pada agama itu. Di kisahkan, ketika Antonio de Paiva kembali ke  Malaka, ikut serta utusan dari kedua penguasa ke Malaka untuk meminta Gubernur Malaka mengirimkan pendeta ke Suppa dan Siang dan jika mungkin bantuan militer. Bahkan ikut pula serta dua putra penguasa dari Suppa. Kedua pemuda itu, kemudian dibawah ke Eropa. </p>
<p>Beberapa waktu setelah peristiwa tersebut, mendengar permintaan kedua penguasa di Sulawesi-Selatan itu, misionaris Khatolik yang terkenal Francisco Xavier berangkat ke Malaka dan dari sana ia akan melanjutkan perjalanan ke Suppa.  Kedatangan missionaries ini kemudian batal, karena di terjadi perang antara Wajo dan Sidenreng . Sidenreng bersekutu dengan Suppa dan Siang, Francisco Xavier mungkin tidak mau mengambil resiko terjebak dalam kancah peperangan antarpara penguasa tersebut.  Mendahului kedatangan Fansisco Xavier, sudah datang pendeta Vicente Viegas dari Malaka, dialah yang membaptis penguasa Alitta dan Bacukiki. </p>
<p>Pertalian agama antarpenguasa Suppa,Siang, Alitta dan Bacukiki dengan Portugis akan berlanjut, jika tidak terjadi peristiwa seorang perwira Portugis membawa lari seorang putri penguasa Suppa. Penguasa Suppa murka, supaya tidak terjadi pertumpahan darah, orang-orang Portugis buru-buru meninggalkan Suppa dan membawa putri penguasa Suppa tersebut ke kapal. Anak blasteran putri penguasa Suppa dengan perwira Portugis itu kemudian lahir dan bernama Manuel Godinho de`Eredia, ibunya juga diberi nama Donna Ele’na Vesiva  ( konon keturunan Raja Suppa dan Raja Bacukiki). Manuel Godinho menjadi seorang pintar, ia menjadi penulis dan akhli geografi. Dialah yang pertama kali menyebut adanya pulau di sebelah selatan Timor yang kemudian dikenal sebagai Australia . Hanya seorang anggota ekspedisi Portugis bernama Manuel Pinto yang tidak ikut . Tetapi dia meninggalkan Suppa menuju Siang, Tallo, Sidenreng. Pinto inilah yang menulis laporan ke Uskup Goa ( India ) bahwa raja-raja tersebut sebenarnya sangat ingin bersekutu dengan Portugis. Wilayah Ajjatapareng tahun 1827   menurut perkiraan  berjumlah 180.000 orang penduduk, tahun l884 berjumlah 236.000 penduduk. Ajattapareng meliputi Sidenreng, Sawitto, Suppa, Bacukiki, Alitta, Rappang. </p>
<p>Kegagalan kristenisasi penguasa Sulawesi-Selatan ini, tidak disebutkan secara jelas.  Hanya.Pelras melukiskan bahwa kemungkinan  missionaries itu pesimis akan merubah watak dan kepercayaan dasar penguasa di Sulawesi-Selatan itu. Misalnya, tidak mungkin menggantikan peranan Bissu dengan Pendeta Katholik jika mereka memilih menetap sebagai pemimpin agama. Alasan teknis, karena kurangnya tersedia pendeta di Malaka . Tahun  l584 pernah dikirim empat pendeta ke Makassar , tetapi tidak bertahan lama. Kemungkinan lain, agama Katholik terdesak dengan masuknya agama Islam di Sulawesi-Selatan melalui ulama dari Melayu. Agama ini kemudian dianut dengan fanatik oleh penguasa di Gowa dan sekaligus sebagai kerajaan yang sangat kuat sebelum ditaklukkan Belanda melalui pembatasan dalam Perjanjian Bongaya 1667. Jelas bahwa penguasa-penguasa di Suppa, Alitta dan Sidenreng saat itu, bukanlah penguasa setelah kerajaan Gowa menjadi kerajaan Islam yang adidaya di Sulawesi -Selatan.  Karena setelah itu, penguasa-penguasa lokal di Suppa, Alitta, Sidenreng  diambil dari keluarga dekat raja-raja Gowa. </p>
<p>MACHOQUIQUE (BACUKIKI) BANDAR UTAMA(2) </p>
<p>Dituturkan : A.Makmur Makka </p>
<p>Hal yang juga menarik dari buku Christian Pelras, ketika ia menulis bahwa Bacukiki benar sebagai Bandar (laut) utama di Sulawesi-Selatan, bahkan ketika Gowa belum ditulis dalam sebuah peta yang dibuat ekpedisi Portugis ketika itu. Peta yang hanya ditulis tangan ini dibuat setelah pelayaran Antonio de Paiva (l544) ke Sulawesi-Selatan. Pada peta itu tertulis “ Description chorological de Macazar”  Disepanjang pantai barat dalam peta itu tertulis “BUGUIS”. Dalam peta berderet dari utara ditulis Mandar, linta (Alitta),SUPA ( Suppa) dan Machoquique (Bacukiki). Tulisan Machoquique ( Bacukiki)  berhadapan dengan gambar sebuah jangkar, yang menurut Pelras seolah menggambarkan bahwa banda tersebut menjadi bandar utama Portugis. Sayang peta tersebut menurut Pelras mungkijn dibuat oleh orang yang belum pernah melihat situasi daerah itu sebenarnya. Gambar itu hanya dibuat berdasarkan pelukisan orang lain, karena lokasi Bacukiki dilukis sangat mencorok ke dalam ( seperti ratusan kilometer) berdasarkan prepektif gambar, padahal Bacukiki, tidak berapa jauh dari garis luar pantai. </p>
<p>Seperti yang saya sudah tulis sebelumnya di sebuah media , mengutip tulisan Leonard Andaya, seorang peneliti mengenai kerajaan-kerajaan Bugis dalam buku : The Heritage of Arung Palakka. Dalam buku itu juga disebut peranan bandar Bacukiki yang luar biasa di Sulawesi-selatan pada abad ke XVI. Karena Bacukiki menjadi bandar internasional untuk berbagai macam perdagangan dari daerah sekitarnya. Barulah ketika Kerajaan Gowa sudah besar dan berpengaruh setelah menaklukan semua kerajaan di Sulawesi-Selatan termasuk Bone. Raja Gowa yang sangat piawai dalam mengatur kerajaan bernama Tunipalangga ( 1546).  </p>
<p>Hampir bersamaan dengan kedatangaan banyak ekspedisi dari Portugis, maka Bacukiki perlahan kehilangan peran. Seperti diketahui Tunipalangga adalah raja yang pintar, misalanya dia menetapkan standar ukuran berat, menciptakan jabatan yang khusus mengatur system administrasi dalam kerajaan ( Tumailalang) . Dia pula yang memulai pembuatan peluru secara lokal, mencampur emas dan logam lain untuk membuat batu-bata, merubah tombak yang panjang lebih pendek, mungkin untuk memudahkan mobilitas perajurit, serta perisai besar menjadi kecil agar lebih lincah penggunaanya. </p>
<p>Salah satu gagasan Tunipalangga, setelah melihat jauhnya bandar Bacukiki dari Gowa ( Somba Opu), yang sulit diawasi, dan tentu saja menjadi saingan bandar-bandar lain di Gowa seperti Ujung Tanah, Grassi, maka baginda ingin supaya kegiatan dan peranan Bacukiki sebagai bandar dialihkan ke Gowa. Pekerjaan ini tentu tidak mudah, karena bandar Bacukiki sudah lama dikenal, selain itu tenaga terampil yang mengelola bandar ini adalah orang-orang yang berasal dari Bacukiki, Sawitto dan Suppa. Baginda tidak berpikir panjang, ia memerintahkan semua tenaga-tenaga ahli yang mengelola bandar Bacukiki dipindahkan ke Makassar. Dengan kekuasannya, semua ini bisa terjadi, sejumlah orang Bacukiki,Suppa dan Sawitto, ikut dipindahkan ke Makassar. Tidak hanya orang lokal, bahkan perusahaan-perusaha an dagang orang Melayu yang sudah terlanjur didirikan di Bacukiki harus ikut pindah. Orang Melayu yang meminta beberapa syarat untuk pindah, semua dikabulkan oleh baginda, termasuk izin menetap di Makassar.Sejak itu, kegiatan bandar Bacukiki menyusut dan digantikan oleh bandar yang ada di kerajaan Gowa. Sebelum Gowa menguasai Bacukiki, Bacukiki berada dibawah kekuasaan kerajaan Siang ( Pangkajenne) . </p>
<p>Sayang sekali tidak ada kronik dari para peneliti Barat ini yang menjelaskan mengenai siapa penguasa di Bacukiki pada waktu itu. Begitu pula mengenai penguasa di kerajaan Suppa. Peta sejarah Sulawesi-Selatan pada abad XII-XV yang dibuat oleh Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Muchlis Paendi dkk tahun l986, misalnya hanya menyebut nama kerajaan antara lain : Kasuwiyang Salapang ( Gowa), Ajattapareng ( Sidenreng), Matajang ( Bone), Bantaeng ( Bonthain), Bukil ( Selayar) serta peta kawasan masing-masing. . Kerajaan Sawitto tidak disebut, Bacukiki juga tidak disebut. Pada abad XVI, sudah tertulis kerajaan : Endekan ( Enrekang) Sawitto, Wajo, Suppa, Mallusetasi, Tanete Barru,Bone,Soppeng, Madalle, Marusu ( Maros),Gowa, Bulukumba, Bantaeng, Binamu (Takalar), Bajeng, Selayar, Bulo-Bulo( Sinjai). Parepare masuk kawasan kerajaan Mallusetasi, tentu di sini juga berada Bacukiki. Tetapi melihat keunikan Bacukiki, selain pernah sebagai bandar internasional yang ramai di Sulawesi-Selatan, maka cikal bakal Bacukiki yang kini hanya menjadi sebuah kecamatan di kota Parepare, tentulah menyimpan sejarah tersendiri yang berbeda dengan kerajaan lain. </p>
<p>KERAJAAN SUPPA MELAWAN PASUKAN INGGERIS (3) </p>
<p>Dituturkan A.Makmur Makka </p>
<p>Kerajaan Inggeris pernah menjajah kerajaan-kerajaan di Sulawesi-Selatan pada abad ke XVIII. Pada waktu itu, Belanda kalah perang melawan Inggeris di Eropah dan tunduk pada Traktat (konvensi) London tahun 1814.. Di Batavia dan Jawa, Raffles  pemimpin tertinggi Inggeris  di Jawa mengambil alih kekuasaan dari kerajaan Belanda. Raffles terkenal pencinta alam dan dialah yang mendirikan Kebun Raya Bogor, sebelum ia dipindahkan lagi ke semananjung Malaya dan Singapura. Barulah pada  tahun 1816, Kerajaan Belanda kembali berkuasa di  kawasan Nusantara. Gubernur Jenderal Belanda sebagai pemimpin tertinggi Belanda di Batavia bernama G.A.G Philip van der Capelien.  Tetapi hubungan antarkerjaaan – kerajaan di Sulawesi -Selatan dengan Pemerintah Hindia Belanda, tidak lagi semulus semasa kejayaan Hindia Belanda di Sulawesi-Selatan dibawah Admiral Speilman. </p>
<p>Kerajaan-kerajaan yang sudah dikuasai Gowa dan Bone, karena “politik  kawin-mawin” yang digencarkan antara keluarga Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone semasa akhir perang Makassar yang dimenangkan Arungpone La Tenritatta Arung Palakka, membuat kedua kerajaan ini makin dekat dan bersatu. Hal inilah yang juga menyusahkan pemerintah kerajaan Inggeris di Makassar yang dipimpin  Residen Philips dan Mayor Dalton pimpinan pasukan kerajaan Inggeris . </p>
<p>Saat kuasa kerjaan Inggeris di Makassar hendak mengendalikan kekuasaan raja-raja di Sulawesi-Selatan sebagaimana masa pemerintahan Hindia Belanda, Inggeris mendapat tantangan, In ggerisn  misalnya  hendak menentukan siapa yang berhak dan direstuinya menjadi raja. pada setiap kerajaan. Kebijakan ini terhalang ketika Inggeris hendak mementukan siapa yang menjadi raja di Kerajaan Gowa. Pada waktu itu, raja Gowa terjadi dualisme pemerintahan, yang pertama dipegang oleh Arung Mampu, Sultan Mallisujawa didukung oleh rakyat Gowa dari pegunungan serta Arumpone dan Sultan Zainuddin Karaeng Katangka didukung oleh penduduk Gowa dari pesisir pantai. Sultan Zainuddin ini didukung oleh kerjaaan Inggeris di Makassar. Barulah ketika Raja Gowa dipimpin oleh I Mappatunru Karaeng Lembangparang, putra Raja Tallo, maka dualisme ini berakhir. Wakil kerjaaan Inggeris di Makassar kemudian menyerahkan regalia ( benda kerjaaan) berupa Sudangga ( keris) dan Kalompoang ( mahkota) ke I Mappatunru Karaeng Lembangparang. Pada waktu itu, Inggeris tinggal menghadapi Arungpone To Appatunru yang juga memakai gelar Arung Palakka. Arumpone ini hendak  menggelorakan kembali semangat Bone untuk merdeka dan bebas dari tekanan manapun. Inggeris tentu saja tidak senang, Inggeris ingin menjatuhkan To Appatunru yang  sudah menyatakan permusuhan dengan kerajaan-kerajaan yang sudah mengakui kekuasaan Inggeris, seperti Gowa,Soppeng dan Sidenreng. Sebagai hukuman kepada Arumpone To Appatunru, pelabuhan Parepare yang sudah muncul kembali, terutama sebagai lalu lintas perdagangan hasil pertanian dan biji besi ( dari Luwu ?) yang dikuasai oleh kerajaan Bone, diserahkan pengelolaannya kepada Addatuang Sidenreng La Wawo Sultan Muhammad Said. Untuk mengadakan penguasaan mutlak pada kerajaan Bone, maka Inggeris bermaksud menyerang Bone dan menaklukkannya. </p>
<p>SUPPA BERPERANG MELAWAN INGGERIS </p>
<p>Disinilah Inggeris terlibat dalam peperangan melawan Kerajaan Suppa yang dipimpin oleh Datu Suppa yang bernama Sultan Aden. Datu Suppa tidak lain adalah adik ipar dari Arumpone To Appatunru Arung Palakka. Tahun 1815, pasukan Inggeris yang dipimpin oleh  Letnan Jackson atas perintah Kapten Wood di Makassar, hendak menuju Bone lewat Parepare. Tetapi Datu Suppa menghadang perjalanan pasukan yang melalui darat ini . Perang seru terjadi, dengan persenjataan pasukan Suppa yang sangat kuat, pasukan Inggeris akhirnya berhasil dihalau . Pasukan Inggeris mundur kembali ke Makassar dan  hendak melalui Tanete Barru. Tetapi pasukan Inggeris kembali diserang oleh pasukan Datu Tanete La Patau yang ternyata juga sepupu Arungpone To Appatunru Arung Palakka. Pasukan Inggeris babak belur dan terus mengundurkan diri ke arah Makassar , daerah yang dilaluinya antara lain Sigeri dan Maros, kerajaan yang sudah mengakui kekuasaan Inggeris, turut diserang pasukan Datu Tanete dan akhirnya dikuasai oleh La Patau. </p>
<p>Inilah perlawaan heroik kerajaan Suppa melawan Inggeris dan pada abad sebelumnya juga mengusir Portugis yang berusaha mengkristensi rakyat Suppa dan rajanya. Ketika Hindia Belanda kembali berkuasa berdasarkan konvensi London 1814, Belanda hendak memulihkan kekuasaannya pada kerajaan-kerajaan yang sudah ditaklukkannya di Sulawesi -Selatan, khususnya Gowa dan Bone. Penguasa Hindia Belanda di Makassar mengadakan pembaruan dan pengukuhan kembali  Perjanjian Bongaya ( Cappaya ri Bungaya) tahun l667. Perjanjian ini dibuat  Kerajaan Gowa dibawah Sultan Hasanuddin, setelah beliau dikalahkan oleh persekutuan Belanda dan Bone. </p>
<p>Seperti yang sudah disebutkan di atas, “politik kawin-mawin” antar keluarga kerajaan Gowa dan Bone untuk mengakhiri permusuhan yang abadi atara keduanya, telah berhasil menyatukan dan mendamaikan Gowa dan Bone. Pembaruan Perjanjian Bongaya bertujuan agar Hindia Belanda dapat  memaksakan kembali kemauannya kepada kerajaan-kerajaan di Sulawesi-Selatan ini.  Kerajaan Bone yang pernah menjadi sekutunya, saat itu dikuasai oleh keturunan dan sanak keluarga Tenritatta Arung Palakkqa, Petta Malampe’ Gemmene, Batara Tungkena Tana Ugi, ternyata tidak ingin terus menerus diperintah penguasa Hindia Belanda. Semua Arungpone, sampai pada Arungpone La Pawawoi dan Arungpone Andi Mappanyukki ( sebelumnya menjadi Datu Suppa), tetap melakukan penentangan dan perlawanan. Salah seorang diantaranya adalah Arungpone Besse Kajuara, kendatipun dia seorang perempuan, perlawannnya kepada pasukan Hindia Belanda sangat gencar. Ia kemudian dikalahkan oleh Belanda dan turun tahta. Ia tidak mau menatap lagi di Bone dan memilih tinggal di Suppa, tanah kelahirannya. Tahun itu juga ( l862) oleh rakyat Suppa dia dinobatkan menjadi Datu Suppa sampai akhirnya dia mangkat dan diberi gelar Datu Suppa Matinroe’ ri Majennang. </p>
<p>Saya tidak tahu dimana tempat pemakaman Besse Kajuara di Majennang Suppa.Kelurahan Majennang tidak luas, bagi penduduk Suppa akan lebih terhormat jika makam Datu Suppa dan pahlawan wanita ini dipelihara dengan baik. Tentu ini menjadi wewenang pemerintah kabupaten Pinrang. </p>
<p>KERAJAAN BONE DAN GOWA BERSATU (4) </p>
<p>Dituturkan : A.Makmur Makka </p>
<p>I Tenritetta Arung Palakka, Petta Malampee’ Gemmena, Batara Tungkena Tana Ugi, ternyata bukan hanya seorang panglima perang yang berani dan berhati  keras. Dibalik itu, ia mempunyai kepribadian yang lunak.  Setelah memenangkan Perang Makassar yang berkahir dengan Perjanjian Bongaya 1667, Arung Palakka memilih tinggal di Makassar dan membuat Istana kecil di Bontoala. Ia kemudian menunjuk La Patau kemanakannya untuk menggantikannhya sebagai Arungpone.Hubungann ya dengan penguasa Belanda yang tinggal di Benteng Rotterdam , berjalan baik walaupun tidak begitu hangat. Penguasa Belanda tampaknya masih sangat perlu memelihara hubungan dengan Bone penguasa seluruh kerajaan di Sulawesi -Selatan. Karena itu, penguasa Belanda sangat menghormati Arung Palakka serta apa yang telah dikatakannya. Termasuk antara lain, keputusannya untuk menyerahkan kerajaan Bone kepada La Patau kemanakannya. </p>
<p>Tetapi Arung Palakka  merasa bahwa sikap permusuhan antara kerajaan Bone dan Gowa tidak bisa terus menerus terjadi. Baginda sangat memaklumi, betapa terhina dan dipermalukannya panglima-panglima perang kerajaan Gowa, ketika baru saja dikalahkan dalam Perang Makassar. Arung Palakka, ingin segera menghapuskan semua stigma dan penghinaan itu. Untuk itu, ia membuat sebuah paviliun besar  di Gowa, dimana setiap malam ia memperkenankan panglima muda kerajaan Gowa  berpesta dan bergembira.  Mereka yang terluka dalam peperangan, dipangilkan seorang Kadhi yang membacakan doa dan memohon kesembuhannya. Apalagi, Arung Palakka sangat menghormati Karaeng Patingalloang, seorang intelektual besar dan pembesar kerajaan Gowa yang pernah menjadi ayah angkatnya, ketika ia sekeluarga menjadi tawanan Kerajaan Gowa jauh sebelum Perang Makassar meletus. Pesta ini diadakan untuk menandingi pesta besar-besaran pasukan Bone dan sekutunya serta pasukan Belanda di Bontoala, yang siang malam merayakan kemenangan Bone. </p>
<p>Arung Palakka berpikir, untuk menyatukan Gowa dan Bone, tidak ada jalan lain  adalah mengadakan “pertalian keluarga” antar keduanya bahkan  dengan kerajaan Luwu yang pernah membantunya. Untuk itu, Arung Palakka mempersunting putri Karaeng Bontomarannu, panglima pasukan laut Makassar menjadi isteri keduanya, setelah Daeng Talele. Sebelumnya, seorang kemanakannaya sudah dipersunting oleh penguasa di kerajaan Luwu.  Setelah ia meninggal karena sakit keras pada tanggal 6 April 1696 , La Patau mengambilalih kepemimpinan Arung Palakka sebagaimana  kehendak Arung Palakka sendiri. La Patau Matama Tikka Walinonoe’ kemudian melanjutkan kebijakan Arung Palakka dengan mempersunting salah seorang putri Karaeng Patukangan, seorang kerabat dan pembesar kerajaan Gowa yang bernama I Mariama Karaeng Patukangan. Pada makam La Patau yang diberi gelar Matinrio ri Nagauleng, sekitar 30 km dari jalan  poros menuju Sengkang, sekarang makam I Mariama terletak tidak berapa jauh dari makam La Patau serta isteri-isterinya yang  lain. </p>
<p>KAMPANYE “PEMBODOHAN’ PILKADA </p>
<p>Pada bulan Mei 2007 yang lalu, saya sempatkan berziarah kemakam La Patau Matinroe ri nagauleng, cikal bakal aristokarasi Sulawesi-Selatan ini di Bone. Makam La Patau telah dipugar oleh pemerintah daerah dengan baik. Makam itu terletak  dalam tembok yang tebal, kemudian diberi atap pelindung . Seluruh makam yang kira-kira seluas seratus meter persegi. Dalam tembok yang terasa`tenang dan teduh itu, terletak sejumlah isteri dan kerabat La Patau Matama Tikka Walinonoe’, matinroe ri Nagauleng. </p>
<p>Inilah gagasan Arung Palakka untuk mendamaikan seluruh kerajaan di Sulawesi-Selatan agar tidak terus menerus bermusuhan. Penguasa kerajaan Bone, Gowa dan Luwu bahkan kerajaan di Ajatapareng, Soppeng , Sengkang, Tanete, Barru sampai selatan Makassar , Bataeng, Sinjai, Polongbangkeng,  sudah tidak bisa dipilah-pilah  lagi. Itulah “politik kawin mawin” yang sengaja diciptakan setelah Perang Makassar berakhir. </p>
<p>Sebagai contoh,  Raja Gowa ke- I Makkulau Karaeng Lembangparang mempunyai dua putra masing-masing I Mappanyukki dan I Panguriseng Arung Alitta. I Mappanyukki kemudian diangkat menjadi Datu Suppa lalu dinobatkan lagi menjadi Arungpone . La Sinrang ( Sawitto) adalah kemanakan La Temma Addatuang Sawitto. Sementara Permaisuri I Makkualau  Karaeng Lembangparang  Raja Gowa yang bernama I Tenri Paddanreng  adalah sepupu La Temma Addatuang Sawitto. Jadi La Sinrang adalah kemanakan permaisuri I Makkulau Sultan Husain Raja Gowa. Seperti diketahui Andi Abdullah Bau Massepe, pejuang nasional yang pernah menjadi Datu Suppa setelah A.Makkasau pamannya, adalah putra I Mappanyukki Arungpone. A.Abdullah Bau Massepe bersaudara dengan A.Pangerang Petta Rani, mantan Gubernur Sul-Sel. </p>
<p>I Makkulau Karaeng Lembangparang, mempunyai saudara bernama I Mangi-mangi Karaeng Bontonompo, yang kemudian menggantikannya menjadi Raja Gowa. I Mangi-mangi mempunyai anak bernama La Idjo Karaeng La Lolang yang kemudian menjadi Raja Gowa terakhir. Baginda I Mangi-mangi  memperisterikan I Kunjung Karaeng Tanatana, putri I Nyula Mayor Bone. I Mappanyukki Arungpone ke XXII memperisterikan putri La Parenrengi Karaeng Tinggimae Datu Suppa ke XXIV putra Manggarabarani Arung Matowae Wajo . Isterinya bernama Dalawetoeng adalah putra La Panguriseng Addatuang Sidenreng. Betapa rumitnya hubungan keluarga bangsawan yang sudah saling bersilangan ini, </p>
<p>Karena itu, ketika kampanye Pilkada Gubernur baru-baru ini, ada kampanye yang menggunakan aristokrat membuat dikotomi antara Bugis dan Makassar, Bugis dan Turatea, maka kampanye itu adalah kampanye “pembodohan”. Sekarang, dalam suasana yang sudah “meelting pot” berbaur dan campur aduk, mengangkat isu seperti ini, total adalah “pembodohan”. </p>
<p>DANAU SIDENRENG PERNAH SELUAS 30 MIL PERSEGI (5) </p>
<p>Dituturkan ; A.Makmur Makka </p>
<p>Beberapa hari setelah Idul Fitri 2007, saya bersama keluarga bersilaturahmi ke Belokka, Wanio, Wette’e dan Baranti. Pada kesempatan itu, saya coba melayari Sungai Sidenreng di Wette’e sambil menikmati “bale bolong”, “ ceppe (ikan gabus) dan “lawaurang” (ronto) pada sebuah rumah terapung di atas Danau Sidenreng  milik A.Tongkeng . Pengalaman yang unik ini, memancing keinginan saya untuk lebih banyak tahu mengenai Danau Sidenreng dan Danau Tempe yang ternyata saling berhubungan. Danau Sidenreng terutama di Wette’ sekarang  sudah sangat dangkal. Ketika kami melayari beberapa ratus meter danau menggunakan perahu motor ( tangkai baling-baling hanya dipegang pengemudi)  dari pelabuhan ikan Wette’, kedalamannya  hanya sekitar satu setengah meter. Perahu motor berpenumpang empat itu, melaju meliuk-liuk menghindari “belantara” enceng gondok, dengan kecepatan – menurut perkiraan saya- sepuluh  km/ perjam .  Kondisi yang sama juga terjadi di Danau Tempe kabupaten Wajo yang saling berhubungan dengan Danau Sidenreng. </p>
<p>Christian Pelras yang dalam buku “ The Bugis”, mengutip Bulbeck dalam Historical Aechaelogy  bahwa sebenarnya laut pernah memanjang dari Sungai Cenrana kearah pegunungan dan terus ke Danau Tempe yang rendah. Hal itu terjadi 7.100 dan 2.600 tahun yang lalu. Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa pada abad ke 16 Masehi, bagian rendah sekitar Danau Tempe dan Danau Sidenreng  masih merupakan satu danau yang besar dan luas, namun kemudian dalam perjalanan waktu semakin mendangkal. Dulu menurut penuturan Pinto orang Portugis yang pernah mengunjungi danau ini tahun 1548, melaporkan bahwa penduduk menamakan danau ini sebagai “ Tappareng Karaja” yang banyak dilalui perahu layar besar, termasuk perahu layar Portugis yang panjang dan lebar. Menurut Pinto, danau tersebut lebarnya lima legua Portugis atau sekitar  25 km dan panjangnya sekitar 100 km. Tahun l828, seorang narasumber bernama Crawfurd yang menulis dalam bukunya “Description Dictionary” menyatakan, bahwa berdasarkan keterangan orang Wajo ketika itu, panjang danau tersebut sekitar 38 km. Sumber lain Nahuijs van Burgst  dalam buku “ Briven 54” menyebutkan tahun 1827 Danau Sidenreng  berhubungan dengan Danau Tempe. Danau Tempe mempunyai keliling 72 km dengan kedalaman 6-30 kaki. Tetapi pada pengukuran Danau Sidenreng tahun 1889, tentu oleh pihak kolonial Belanda, diperkirakan luas danau tersebut 30 mil persegi dan Danau Tempe 59 mil persegi, serta kedalaman 4-5 meter pada musim hujan.  Sejak waktu itu, disebutkan danau tersebut selalu kering pada musim kemarau. Penuturan ini, masih sinkron dengan keadaaan sekarang. Menurut penduduk setempat, pada musim kemarau dari tappareng Sidenreng orang bisa berjalan kaki melalui danau itu ke Belawa kabupaten Sengkang. Sementara pada musim hujan dan bila terjadi banjir, Danau Sidenreng dan Danau Tempe menyatu kembali. Menurut penuturan lain, Danau Sidenreng  pernah berhubungan dengan Sungai Saddang yang mengalir ke Selat Makassar melalui Suppa. Sungai Saddang dulu juga melalui daerah yang  disebut Danau Alitta  ( Sawitto), tetapi kemudian danau itu menjadi rawa-rawa diawal  abad ke  20 ,  kemudian menjadi kering kerontang, tanpa bekas sekarang ini. </p>
<p>Masa itu, pernah pemerintah dan masyarakat di Sidenreng membuat sebuah rencana besar menggali terusan sepanjang 22 km guna mengalihkan aliran sungai ke Selat Makassar, agar alur perdangan dari Sidenreng bisa langsung, tidak melalui Sungai Cenrana di Teluk Bone, tetapi rencana itu gagal. </p>
<p>Dalam teks I Lagaligo, sebuah karya sastra Bugis Makassar yang bercampur mitologi, konon menyebutkan pula bahwa pada masa  lembah Danau Tempe masih digenangi air “ laut tawar” dan orang Makassar menyebut danau itu sebagai “Tapparang La’baya” dan orang Bugis menyebutnya “Tappareng Karaja”, maka pada abad ke 16 Sulawesi-Selatan diperkirakan dibelah dua oleh laut air tawar, tetapi kemudian terbagi menjadi danau-danau kecil ; Danau Tempe, Danau Sidenreng dan Danau Alitta (yang sudah kering). </p>
<p>Pada masa itu, masyarakat setempat sudah menggantungkan hidupnya pada penghasilan ikan air tawar dari danau-danau itu. Bahkan sampai sekarang dengan lebar yang makin menyempit ( Oktober) hanya sekitar selebar 30 sampai 40 meter, kedalaman sekitar satu setengah  meter, Danau Sidenreng masih berpenghasilan milyaran rupiah.  Pada musim hujan dan banjir, air danau meluap dan penduduk sekitarnya terpaksa hanya berdiam di rumah. “Belantara” enceng gondok yang sudah menciptakan “daratan” khusus, tetapi tempat sarang dan persembunyian ikan, bisa bergeser karena arus deras ke tepi danau dan menggoyangkan rumah penduduk. Rumah-rumah penduduk terpaksa dipagari dengan batangan bambu panjang sebagai penghalau. Dari jauh, terlihat seperti antene menjulang tinggi. </p>
<p>Memperhatikan perubahan geografis sungai-sungai kuno pada abad tersebut dan melihat kondisinya sekarang yang berubah drastis, menarik untuk dipelajari , bagaimana sungai-sungai itu bermuara di kawasan Ajatappareng dan khususnya di Bacukiki. Saya menduga Sungai Bacukiki dulu juga memiliki lebar dan kedalaman yang tidak seperti sekarang. Perhatikan kawasan “Sore dangkang” yang lokasinya tidak beberapa jauh dari jalan poros Makassar-Parepare, kemungkinan dulu sebagai tempat lego jangkar perahu-perahu dagang internasional. </p>
<p>Sayang  pemerintah daerah apalagi anak-anak muda, tidak tertarik dengan sejarah geografis daerah. Mereka tidak berminat melakukan rekonstruksi sejarah atau membuat tesis mengenai hal ini. Kita semua kalah dengan orang asing yang justru tidak punya kepentingan lagi dengan daerah ini, kecuali  untuk menjadi ahli khusus Bugis Makassar seperti Christian Pelras, Crawfurd, Leonard Andaya.. </p>
<p>GAGALNYA KRISTENISASI  SUPPA DAN BACUKIKI (1) </p>
<p>Dituturkan : A.Makmur Makka </p>
<p>[The Habibie Center, Jakarta]  </p>
<p>Tahun 90-an, saya  bertemu  Christian Pelras, sarjana Prancis yang ahli mengenai suku Bugis. Pertemuan itu hanya kebetulan  di sebuah rumah seorang warganegara Prancis di Kawasan Kemang Jakarta Selatan. Saya diperkenalkan oleh teman saya Fracois Raillon, yang ahli tentang Indonesia .. Saya sudah lama tahu nama Pelras, tetapi baru kali itu saya bertemu muka . Ketika saya perkenalkan nama saya, ia langsung menyambut :   “ Namanya seperti nama Bugis”, teman saya langsung menimpali : </p>
<p>“ Benar, ia orang  Bugis “. </p>
<p>Setelah berbicara panjang lebar mengenai orang Bugis, suku yang sudah lama ditelitinya, kami berpisah.Beberapa hari kemudian, melalui teman Francois Raillon, saya mendapat sebuah paket pos yang dikirim dari Singapura.  Isinya sebuah buku tebal berjudul “ The Bugis”, karangan Christian  Pelras. Buku itu lama saya simpan, kemudian dua tahun lalu saya menerima hadiah buku “Manusia Bugis” dari Dr.Nurhayati Rahman, ahli sejarah dari UNHAS, terjemahan “ The Bugis”, buku Christian Pelras. Buku Christian Pelras ini menambah pemahaman saya mengenai orang Bugis, paling tidak menurut penelitian seorang Barat. Walaupun, Chirstian Pelras, hanya salah satu sarjana Barat yang pernah membuat penelitian mengenai suku Bugis. </p>
<p>Dari tulisan C. Pelras inilah yang makin memperkuat dugaan saya bahwa sejumlah penguasa kerajaan di Sulawesi_Selatan pada abad ke XVI, pernah dibaptis masuk agama Katholik. Sebutlah antara lain Kerajaan Tallo, Suppa, Siang (Pangkajenne) , Bacukiki, Alitta, Gowa. Penyebaran agama Katholik di Sulawesi-Selatan ketika itu bersamaan dengan kedatangan bangsa-bangsa asing, terutama Portugis. Jalur kedatangan bangsa Portugis pertama kali dari Malaka menuju ke daerah Ajatappareng dan Suppa, dari Ajatappareng ke Siang ( Pangkajenne) . Yang agak aneh, peyebaran agama ini ke Gowa, melalui jalur lain, yakni dari Ternate pada tahun yang lebih awal ( 1539), sementara ke Ajattapareng, Suppa dan siang, barulah l534, beberapa tahun kemudian. </p>
<p>Menurut Pelras, usaha kristenisasi raja-raja ini dimulai dengan kedatangan seorang pedagang Portugis yang Antonio de Paiva yang tertarik pada kekayaan daerah Indonesia Timur, khususnya kayu cendana. Mula-mula Antonio datang ke Siang dalam perjalanan ke daerah Sulawesi Tengah, kemudian singgah di Suppa. Pada kesempatan itulah Antonio membaptis penguasa di Suppa dan Siang ( ternyata kedua penguasa kerajaan itu bersahbat) . Itupun tidak dengan mudah, karena menurut C.Pelras, didahului perdebatan teologis yang hangat. Tidak disebut siapa penguasa Suppa yang dibaptis, kronik mengenai hal ini hanya dibaca dalam laporan Antonio de Paiva yang meminta maaf kepada Uskup Goa (   India ), karena ia telah membaptis dua penguasa  tanpa penugasan resmi. </p>
<p>Apa alasan kedua penguasa ini mau dibaptis masuk agama Katholik? C.Pelras menulis, kemungkinan untuk membuat persekutuan militer dalam menghadapi serangan kerajaan kembar Gowa dan Wajo. Dengan demikian, tampak ada motif lain, tidak dengan keyakinan pada agama itu. Di kisahkan, ketika Antonio de Paiva kembali ke  Malaka, ikut serta utusan dari kedua penguasa ke Malaka untuk meminta Gubernur Malaka mengirimkan pendeta ke Suppa dan Siang dan jika mungkin bantuan militer. Bahkan ikut pula serta dua putra penguasa dari Suppa. Kedua pemuda itu, kemudian dibawah ke Eropa. </p>
<p>Beberapa waktu setelah peristiwa tersebut, mendengar permintaan kedua penguasa di Sulawesi-Selatan itu, misionaris Khatolik yang terkenal Francisco Xavier berangkat ke Malaka dan dari sana ia akan melanjutkan perjalanan ke Suppa.  Kedatangan missionaries ini kemudian batal, karena di terjadi perang antara Wajo dan Sidenreng . Sidenreng bersekutu dengan Suppa dan Siang, Francisco Xavier mungkin tidak mau mengambil resiko terjebak dalam kancah peperangan antarpara penguasa tersebut.  Mendahului kedatangan Fansisco Xavier, sudah datang pendeta Vicente Viegas dari Malaka, dialah yang membaptis penguasa Alitta dan Bacukiki. </p>
<p>Pertalian agama antarpenguasa Suppa,Siang, Alitta dan Bacukiki dengan Portugis akan berlanjut, jika tidak terjadi peristiwa seorang perwira Portugis membawa lari seorang putri penguasa Suppa. Penguasa Suppa murka, supaya tidak terjadi pertumpahan darah, orang-orang Portugis buru-buru meninggalkan Suppa dan membawa putri penguasa Suppa tersebut ke kapal. Anak blasteran putri penguasa Suppa dengan perwira Portugis itu kemudian lahir dan bernama Manuel Godinho de`Eredia, ibunya juga diberi nama Donna Ele’na Vesiva  ( konon keturunan Raja Suppa dan Raja Bacukiki). Manuel Godinho menjadi seorang pintar, ia menjadi penulis dan akhli geografi. Dialah yang pertama kali menyebut adanya pulau di sebelah selatan Timor yang kemudian dikenal sebagai Australia . Hanya seorang anggota ekspedisi Portugis bernama Manuel Pinto yang tidak ikut . Tetapi dia meninggalkan Suppa menuju Siang, Tallo, Sidenreng. Pinto inilah yang menulis laporan ke Uskup Goa ( India ) bahwa raja-raja tersebut sebenarnya sangat ingin bersekutu dengan Portugis. Wilayah Ajjatapareng tahun 1827   menurut perkiraan  berjumlah 180.000 orang penduduk, tahun l884 berjumlah 236.000 penduduk. Ajattapareng meliputi Sidenreng, Sawitto, Suppa, Bacukiki, Alitta, Rappang. </p>
<p>Kegagalan kristenisasi penguasa Sulawesi-Selatan ini, tidak disebutkan secara jelas.  Hanya.Pelras melukiskan bahwa kemungkinan  missionaries itu pesimis akan merubah watak dan kepercayaan dasar penguasa di Sulawesi-Selatan itu. Misalnya, tidak mungkin menggantikan peranan Bissu dengan Pendeta Katholik jika mereka memilih menetap sebagai pemimpin agama. Alasan teknis, karena kurangnya tersedia pendeta di Malaka . Tahun  l584 pernah dikirim empat pendeta ke Makassar , tetapi tidak bertahan lama. Kemungkinan lain, agama Katholik terdesak dengan masuknya agama Islam di Sulawesi-Selatan melalui ulama dari Melayu. Agama ini kemudian dianut dengan fanatik oleh penguasa di Gowa dan sekaligus sebagai kerajaan yang sangat kuat sebelum ditaklukkan Belanda melalui pembatasan dalam Perjanjian Bongaya 1667. Jelas bahwa penguasa-penguasa di Suppa, Alitta dan Sidenreng saat itu, bukanlah penguasa setelah kerajaan Gowa menjadi kerajaan Islam yang adidaya di Sulawesi -Selatan.  Karena setelah itu, penguasa-penguasa lokal di Suppa, Alitta, Sidenreng  diambil dari keluarga dekat raja-raja Gowa. </p>
<p>MACHOQUIQUE (BACUKIKI) BANDAR UTAMA(2) </p>
<p>Dituturkan : A.Makmur Makka </p>
<p>Hal yang juga menarik dari buku Christian Pelras, ketika ia menulis bahwa Bacukiki benar sebagai Bandar (laut) utama di Sulawesi-Selatan, bahkan ketika Gowa belum ditulis dalam sebuah peta yang dibuat ekpedisi Portugis ketika itu. Peta yang hanya ditulis tangan ini dibuat setelah pelayaran Antonio de Paiva (l544) ke Sulawesi-Selatan. Pada peta itu tertulis “ Description chorological de Macazar”  Disepanjang pantai barat dalam peta itu tertulis “BUGUIS”. Dalam peta berderet dari utara ditulis Mandar, linta (Alitta),SUPA ( Suppa) dan Machoquique (Bacukiki). Tulisan Machoquique ( Bacukiki)  berhadapan dengan gambar sebuah jangkar, yang menurut Pelras seolah menggambarkan bahwa banda tersebut menjadi bandar utama Portugis. Sayang peta tersebut menurut Pelras mungkijn dibuat oleh orang yang belum pernah melihat situasi daerah itu sebenarnya. Gambar itu hanya dibuat berdasarkan pelukisan orang lain, karena lokasi Bacukiki dilukis sangat mencorok ke dalam ( seperti ratusan kilometer) berdasarkan prepektif gambar, padahal Bacukiki, tidak berapa jauh dari garis luar pantai. </p>
<p>Seperti yang saya sudah tulis sebelumnya di sebuah media , mengutip tulisan Leonard Andaya, seorang peneliti mengenai kerajaan-kerajaan Bugis dalam buku : The Heritage of Arung Palakka. Dalam buku itu juga disebut peranan bandar Bacukiki yang luar biasa di Sulawesi-selatan pada abad ke XVI. Karena Bacukiki menjadi bandar internasional untuk berbagai macam perdagangan dari daerah sekitarnya. Barulah ketika Kerajaan Gowa sudah besar dan berpengaruh setelah menaklukan semua kerajaan di Sulawesi-Selatan termasuk Bone. Raja Gowa yang sangat piawai dalam mengatur kerajaan bernama Tunipalangga ( 1546).  </p>
<p>Hampir bersamaan dengan kedatangaan banyak ekspedisi dari Portugis, maka Bacukiki perlahan kehilangan peran. Seperti diketahui Tunipalangga adalah raja yang pintar, misalanya dia menetapkan standar ukuran berat, menciptakan jabatan yang khusus mengatur system administrasi dalam kerajaan ( Tumailalang) . Dia pula yang memulai pembuatan peluru secara lokal, mencampur emas dan logam lain untuk membuat batu-bata, merubah tombak yang panjang lebih pendek, mungkin untuk memudahkan mobilitas perajurit, serta perisai besar menjadi kecil agar lebih lincah penggunaanya. </p>
<p>Salah satu gagasan Tunipalangga, setelah melihat jauhnya bandar Bacukiki dari Gowa ( Somba Opu), yang sulit diawasi, dan tentu saja menjadi saingan bandar-bandar lain di Gowa seperti Ujung Tanah, Grassi, maka baginda ingin supaya kegiatan dan peranan Bacukiki sebagai bandar dialihkan ke Gowa. Pekerjaan ini tentu tidak mudah, karena bandar Bacukiki sudah lama dikenal, selain itu tenaga terampil yang mengelola bandar ini adalah orang-orang yang berasal dari Bacukiki, Sawitto dan Suppa. Baginda tidak berpikir panjang, ia memerintahkan semua tenaga-tenaga ahli yang mengelola bandar Bacukiki dipindahkan ke Makassar. Dengan kekuasannya, semua ini bisa terjadi, sejumlah orang Bacukiki,Suppa dan Sawitto, ikut dipindahkan ke Makassar. Tidak hanya orang lokal, bahkan perusahaan-perusaha an dagang orang Melayu yang sudah terlanjur didirikan di Bacukiki harus ikut pindah. Orang Melayu yang meminta beberapa syarat untuk pindah, semua dikabulkan oleh baginda, termasuk izin menetap di Makassar.Sejak itu, kegiatan bandar Bacukiki menyusut dan digantikan oleh bandar yang ada di kerajaan Gowa. Sebelum Gowa menguasai Bacukiki, Bacukiki berada dibawah kekuasaan kerajaan Siang ( Pangkajenne) . </p>
<p>Sayang sekali tidak ada kronik dari para peneliti Barat ini yang menjelaskan mengenai siapa penguasa di Bacukiki pada waktu itu. Begitu pula mengenai penguasa di kerajaan Suppa. Peta sejarah Sulawesi-Selatan pada abad XII-XV yang dibuat oleh Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Muchlis Paendi dkk tahun l986, misalnya hanya menyebut nama kerajaan antara lain : Kasuwiyang Salapang ( Gowa), Ajattapareng ( Sidenreng), Matajang ( Bone), Bantaeng ( Bonthain), Bukil ( Selayar) serta peta kawasan masing-masing. . Kerajaan Sawitto tidak disebut, Bacukiki juga tidak disebut. Pada abad XVI, sudah tertulis kerajaan : Endekan ( Enrekang) Sawitto, Wajo, Suppa, Mallusetasi, Tanete Barru,Bone,Soppeng, Madalle, Marusu ( Maros),Gowa, Bulukumba, Bantaeng, Binamu (Takalar), Bajeng, Selayar, Bulo-Bulo( Sinjai). Parepare masuk kawasan kerajaan Mallusetasi, tentu di sini juga berada Bacukiki. Tetapi melihat keunikan Bacukiki, selain pernah sebagai bandar internasional yang ramai di Sulawesi-Selatan, maka cikal bakal Bacukiki yang kini hanya menjadi sebuah kecamatan di kota Parepare, tentulah menyimpan sejarah tersendiri yang berbeda dengan kerajaan lain. </p>
<p>KERAJAAN SUPPA MELAWAN PASUKAN INGGERIS (3) </p>
<p>Dituturkan A.Makmur Makka </p>
<p>Kerajaan Inggeris pernah menjajah kerajaan-kerajaan di Sulawesi-Selatan pada abad ke XVIII. Pada waktu itu, Belanda kalah perang melawan Inggeris di Eropah dan tunduk pada Traktat (konvensi) London tahun 1814.. Di Batavia dan Jawa, Raffles  pemimpin tertinggi Inggeris  di Jawa mengambil alih kekuasaan dari kerajaan Belanda. Raffles terkenal pencinta alam dan dialah yang mendirikan Kebun Raya Bogor, sebelum ia dipindahkan lagi ke semananjung Malaya dan Singapura. Barulah pada  tahun 1816, Kerajaan Belanda kembali berkuasa di  kawasan Nusantara. Gubernur Jenderal Belanda sebagai pemimpin tertinggi Belanda di Batavia bernama G.A.G Philip van der Capelien.  Tetapi hubungan antarkerjaaan – kerajaan di Sulawesi -Selatan dengan Pemerintah Hindia Belanda, tidak lagi semulus semasa kejayaan Hindia Belanda di Sulawesi-Selatan dibawah Admiral Speilman. </p>
<p>Kerajaan-kerajaan yang sudah dikuasai Gowa dan Bone, karena “politik  kawin-mawin” yang digencarkan antara keluarga Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone semasa akhir perang Makassar yang dimenangkan Arungpone La Tenritatta Arung Palakka, membuat kedua kerajaan ini makin dekat dan bersatu. Hal inilah yang juga menyusahkan pemerintah kerajaan Inggeris di Makassar yang dipimpin  Residen Philips dan Mayor Dalton pimpinan pasukan kerajaan Inggeris . </p>
<p>Saat kuasa kerjaan Inggeris di Makassar hendak mengendalikan kekuasaan raja-raja di Sulawesi-Selatan sebagaimana masa pemerintahan Hindia Belanda, Inggeris mendapat tantangan, In ggerisn  misalnya  hendak menentukan siapa yang berhak dan direstuinya menjadi raja. pada setiap kerajaan. Kebijakan ini terhalang ketika Inggeris hendak mementukan siapa yang menjadi raja di Kerajaan Gowa. Pada waktu itu, raja Gowa terjadi dualisme pemerintahan, yang pertama dipegang oleh Arung Mampu, Sultan Mallisujawa didukung oleh rakyat Gowa dari pegunungan serta Arumpone dan Sultan Zainuddin Karaeng Katangka didukung oleh penduduk Gowa dari pesisir pantai. Sultan Zainuddin ini didukung oleh kerjaaan Inggeris di Makassar. Barulah ketika Raja Gowa dipimpin oleh I Mappatunru Karaeng Lembangparang, putra Raja Tallo, maka dualisme ini berakhir. Wakil kerjaaan Inggeris di Makassar kemudian menyerahkan regalia ( benda kerjaaan) berupa Sudangga ( keris) dan Kalompoang ( mahkota) ke I Mappatunru Karaeng Lembangparang. Pada waktu itu, Inggeris tinggal menghadapi Arungpone To Appatunru yang juga memakai gelar Arung Palakka. Arumpone ini hendak  menggelorakan kembali semangat Bone untuk merdeka dan bebas dari tekanan manapun. Inggeris tentu saja tidak senang, Inggeris ingin menjatuhkan To Appatunru yang  sudah menyatakan permusuhan dengan kerajaan-kerajaan yang sudah mengakui kekuasaan Inggeris, seperti Gowa,Soppeng dan Sidenreng. Sebagai hukuman kepada Arumpone To Appatunru, pelabuhan Parepare yang sudah muncul kembali, terutama sebagai lalu lintas perdagangan hasil pertanian dan biji besi ( dari Luwu ?) yang dikuasai oleh kerajaan Bone, diserahkan pengelolaannya kepada Addatuang Sidenreng La Wawo Sultan Muhammad Said. Untuk mengadakan penguasaan mutlak pada kerajaan Bone, maka Inggeris bermaksud menyerang Bone dan menaklukkannya. </p>
<p>SUPPA BERPERANG MELAWAN INGGERIS </p>
<p>Disinilah Inggeris terlibat dalam peperangan melawan Kerajaan Suppa yang dipimpin oleh Datu Suppa yang bernama Sultan Aden. Datu Suppa tidak lain adalah adik ipar dari Arumpone To Appatunru Arung Palakka. Tahun 1815, pasukan Inggeris yang dipimpin oleh  Letnan Jackson atas perintah Kapten Wood di Makassar, hendak menuju Bone lewat Parepare. Tetapi Datu Suppa menghadang perjalanan pasukan yang melalui darat ini . Perang seru terjadi, dengan persenjataan pasukan Suppa yang sangat kuat, pasukan Inggeris akhirnya berhasil dihalau . Pasukan Inggeris mundur kembali ke Makassar dan  hendak melalui Tanete Barru. Tetapi pasukan Inggeris kembali diserang oleh pasukan Datu Tanete La Patau yang ternyata juga sepupu Arungpone To Appatunru Arung Palakka. Pasukan Inggeris babak belur dan terus mengundurkan diri ke arah Makassar , daerah yang dilaluinya antara lain Sigeri dan Maros, kerajaan yang sudah mengakui kekuasaan Inggeris, turut diserang pasukan Datu Tanete dan akhirnya dikuasai oleh La Patau. </p>
<p>Inilah perlawaan heroik kerajaan Suppa melawan Inggeris dan pada abad sebelumnya juga mengusir Portugis yang berusaha mengkristensi rakyat Suppa dan rajanya. Ketika Hindia Belanda kembali berkuasa berdasarkan konvensi London 1814, Belanda hendak memulihkan kekuasaannya pada kerajaan-kerajaan yang sudah ditaklukkannya di Sulawesi -Selatan, khususnya Gowa dan Bone. Penguasa Hindia Belanda di Makassar mengadakan pembaruan dan pengukuhan kembali  Perjanjian Bongaya ( Cappaya ri Bungaya) tahun l667. Perjanjian ini dibuat  Kerajaan Gowa dibawah Sultan Hasanuddin, setelah beliau dikalahkan oleh persekutuan Belanda dan Bone. </p>
<p>Seperti yang sudah disebutkan di atas, “politik kawin-mawin” antar keluarga kerajaan Gowa dan Bone untuk mengakhiri permusuhan yang abadi atara keduanya, telah berhasil menyatukan dan mendamaikan Gowa dan Bone. Pembaruan Perjanjian Bongaya bertujuan agar Hindia Belanda dapat  memaksakan kembali kemauannya kepada kerajaan-kerajaan di Sulawesi-Selatan ini.  Kerajaan Bone yang pernah menjadi sekutunya, saat itu dikuasai oleh keturunan dan sanak keluarga Tenritatta Arung Palakkqa, Petta Malampe’ Gemmene, Batara Tungkena Tana Ugi, ternyata tidak ingin terus menerus diperintah penguasa Hindia Belanda. Semua Arungpone, sampai pada Arungpone La Pawawoi dan Arungpone Andi Mappanyukki ( sebelumnya menjadi Datu Suppa), tetap melakukan penentangan dan perlawanan. Salah seorang diantaranya adalah Arungpone Besse Kajuara, kendatipun dia seorang perempuan, perlawannnya kepada pasukan Hindia Belanda sangat gencar. Ia kemudian dikalahkan oleh Belanda dan turun tahta. Ia tidak mau menatap lagi di Bone dan memilih tinggal di Suppa, tanah kelahirannya. Tahun itu juga ( l862) oleh rakyat Suppa dia dinobatkan menjadi Datu Suppa sampai akhirnya dia mangkat dan diberi gelar Datu Suppa Matinroe’ ri Majennang. </p>
<p>Saya tidak tahu dimana tempat pemakaman Besse Kajuara di Majennang Suppa.Kelurahan Majennang tidak luas, bagi penduduk Suppa akan lebih terhormat jika makam Datu Suppa dan pahlawan wanita ini dipelihara dengan baik. Tentu ini menjadi wewenang pemerintah kabupaten Pinrang. </p>
<p>KERAJAAN BONE DAN GOWA BERSATU (4) </p>
<p>Dituturkan : A.Makmur Makka </p>
<p>I Tenritetta Arung Palakka, Petta Malampee’ Gemmena, Batara Tungkena Tana Ugi, ternyata bukan hanya seorang panglima perang yang berani dan berhati  keras. Dibalik itu, ia mempunyai kepribadian yang lunak.  Setelah memenangkan Perang Makassar yang berkahir dengan Perjanjian Bongaya 1667, Arung Palakka memilih tinggal di Makassar dan membuat Istana kecil di Bontoala. Ia kemudian menunjuk La Patau kemanakannya untuk menggantikannhya sebagai Arungpone.Hubungann ya dengan penguasa Belanda yang tinggal di Benteng Rotterdam , berjalan baik walaupun tidak begitu hangat. Penguasa Belanda tampaknya masih sangat perlu memelihara hubungan dengan Bone penguasa seluruh kerajaan di Sulawesi -Selatan. Karena itu, penguasa Belanda sangat menghormati Arung Palakka serta apa yang telah dikatakannya. Termasuk antara lain, keputusannya untuk menyerahkan kerajaan Bone kepada La Patau kemanakannya. </p>
<p>Tetapi Arung Palakka  merasa bahwa sikap permusuhan antara kerajaan Bone dan Gowa tidak bisa terus menerus terjadi. Baginda sangat memaklumi, betapa terhina dan dipermalukannya panglima-panglima perang kerajaan Gowa, ketika baru saja dikalahkan dalam Perang Makassar. Arung Palakka, ingin segera menghapuskan semua stigma dan penghinaan itu. Untuk itu, ia membuat sebuah paviliun besar  di Gowa, dimana setiap malam ia memperkenankan panglima muda kerajaan Gowa  berpesta dan bergembira.  Mereka yang terluka dalam peperangan, dipangilkan seorang Kadhi yang membacakan doa dan memohon kesembuhannya. Apalagi, Arung Palakka sangat menghormati Karaeng Patingalloang, seorang intelektual besar dan pembesar kerajaan Gowa yang pernah menjadi ayah angkatnya, ketika ia sekeluarga menjadi tawanan Kerajaan Gowa jauh sebelum Perang Makassar meletus. Pesta ini diadakan untuk menandingi pesta besar-besaran pasukan Bone dan sekutunya serta pasukan Belanda di Bontoala, yang siang malam merayakan kemenangan Bone. </p>
<p>Arung Palakka berpikir, untuk menyatukan Gowa dan Bone, tidak ada jalan lain  adalah mengadakan “pertalian keluarga” antar keduanya bahkan  dengan kerajaan Luwu yang pernah membantunya. Untuk itu, Arung Palakka mempersunting putri Karaeng Bontomarannu, panglima pasukan laut Makassar menjadi isteri keduanya, setelah Daeng Talele. Sebelumnya, seorang kemanakannaya sudah dipersunting oleh penguasa di kerajaan Luwu.  Setelah ia meninggal karena sakit keras pada tanggal 6 April 1696 , La Patau mengambilalih kepemimpinan Arung Palakka sebagaimana  kehendak Arung Palakka sendiri. La Patau Matama Tikka Walinonoe’ kemudian melanjutkan kebijakan Arung Palakka dengan mempersunting salah seorang putri Karaeng Patukangan, seorang kerabat dan pembesar kerajaan Gowa yang bernama I Mariama Karaeng Patukangan. Pada makam La Patau yang diberi gelar Matinrio ri Nagauleng, sekitar 30 km dari jalan  poros menuju Sengkang, sekarang makam I Mariama terletak tidak berapa jauh dari makam La Patau serta isteri-isterinya yang  lain. </p>
<p>KAMPANYE “PEMBODOHAN’ PILKADA </p>
<p>Pada bulan Mei 2007 yang lalu, saya sempatkan berziarah kemakam La Patau Matinroe ri nagauleng, cikal bakal aristokarasi Sulawesi-Selatan ini di Bone. Makam La Patau telah dipugar oleh pemerintah daerah dengan baik. Makam itu terletak  dalam tembok yang tebal, kemudian diberi atap pelindung . Seluruh makam yang kira-kira seluas seratus meter persegi. Dalam tembok yang terasa`tenang dan teduh itu, terletak sejumlah isteri dan kerabat La Patau Matama Tikka Walinonoe’, matinroe ri Nagauleng. </p>
<p>Inilah gagasan Arung Palakka untuk mendamaikan seluruh kerajaan di Sulawesi-Selatan agar tidak terus menerus bermusuhan. Penguasa kerajaan Bone, Gowa dan Luwu bahkan kerajaan di Ajatapareng, Soppeng , Sengkang, Tanete, Barru sampai selatan Makassar , Bataeng, Sinjai, Polongbangkeng,  sudah tidak bisa dipilah-pilah  lagi. Itulah “politik kawin mawin” yang sengaja diciptakan setelah Perang Makassar berakhir. </p>
<p>Sebagai contoh,  Raja Gowa ke- I Makkulau Karaeng Lembangparang mempunyai dua putra masing-masing I Mappanyukki dan I Panguriseng Arung Alitta. I Mappanyukki kemudian diangkat menjadi Datu Suppa lalu dinobatkan lagi menjadi Arungpone . La Sinrang ( Sawitto) adalah kemanakan La Temma Addatuang Sawitto. Sementara Permaisuri I Makkualau  Karaeng Lembangparang  Raja Gowa yang bernama I Tenri Paddanreng  adalah sepupu La Temma Addatuang Sawitto. Jadi La Sinrang adalah kemanakan permaisuri I Makkulau Sultan Husain Raja Gowa. Seperti diketahui Andi Abdullah Bau Massepe, pejuang nasional yang pernah menjadi Datu Suppa setelah A.Makkasau pamannya, adalah putra I Mappanyukki Arungpone. A.Abdullah Bau Massepe bersaudara dengan A.Pangerang Petta Rani, mantan Gubernur Sul-Sel. </p>
<p>I Makkulau Karaeng Lembangparang, mempunyai saudara bernama I Mangi-mangi Karaeng Bontonompo, yang kemudian menggantikannya menjadi Raja Gowa. I Mangi-mangi mempunyai anak bernama La Idjo Karaeng La Lolang yang kemudian menjadi Raja Gowa terakhir. Baginda I Mangi-mangi  memperisterikan I Kunjung Karaeng Tanatana, putri I Nyula Mayor Bone. I Mappanyukki Arungpone ke XXII memperisterikan putri La Parenrengi Karaeng Tinggimae Datu Suppa ke XXIV putra Manggarabarani Arung Matowae Wajo . Isterinya bernama Dalawetoeng adalah putra La Panguriseng Addatuang Sidenreng. Betapa rumitnya hubungan keluarga bangsawan yang sudah saling bersilangan ini, </p>
<p>Karena itu, ketika kampanye Pilkada Gubernur baru-baru ini, ada kampanye yang menggunakan aristokrat membuat dikotomi antara Bugis dan Makassar, Bugis dan Turatea, maka kampanye itu adalah kampanye “pembodohan”. Sekarang, dalam suasana yang sudah “meelting pot” berbaur dan campur aduk, mengangkat isu seperti ini, total adalah “pembodohan”. </p>
<p>DANAU SIDENRENG PERNAH SELUAS 30 MIL PERSEGI (5) </p>
<p>Dituturkan ; A.Makmur Makka </p>
<p>Beberapa hari setelah Idul Fitri 2007, saya bersama keluarga bersilaturahmi ke Belokka, Wanio, Wette’e dan Baranti. Pada kesempatan itu, saya coba melayari Sungai Sidenreng di Wette’e sambil menikmati “bale bolong”, “ ceppe (ikan gabus) dan “lawaurang” (ronto) pada sebuah rumah terapung di atas Danau Sidenreng  milik A.Tongkeng . Pengalaman yang unik ini, memancing keinginan saya untuk lebih banyak tahu mengenai Danau Sidenreng dan Danau Tempe yang ternyata saling berhubungan. Danau Sidenreng terutama di Wette’ sekarang  sudah sangat dangkal. Ketika kami melayari beberapa ratus meter danau menggunakan perahu motor ( tangkai baling-baling hanya dipegang pengemudi)  dari pelabuhan ikan Wette’, kedalamannya  hanya sekitar satu setengah meter. Perahu motor berpenumpang empat itu, melaju meliuk-liuk menghindari “belantara” enceng gondok, dengan kecepatan – menurut perkiraan saya- sepuluh  km/ perjam .  Kondisi yang sama juga terjadi di Danau Tempe kabupaten Wajo yang saling berhubungan dengan Danau Sidenreng. </p>
<p>Christian Pelras yang dalam buku “ The Bugis”, mengutip Bulbeck dalam Historical Aechaelogy  bahwa sebenarnya laut pernah memanjang dari Sungai Cenrana kearah pegunungan dan terus ke Danau Tempe yang rendah. Hal itu terjadi 7.100 dan 2.600 tahun yang lalu. Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa pada abad ke 16 Masehi, bagian rendah sekitar Danau Tempe dan Danau Sidenreng  masih merupakan satu danau yang besar dan luas, namun kemudian dalam perjalanan waktu semakin mendangkal. Dulu menurut penuturan Pinto orang Portugis yang pernah mengunjungi danau ini tahun 1548, melaporkan bahwa penduduk menamakan danau ini sebagai “ Tappareng Karaja” yang banyak dilalui perahu layar besar, termasuk perahu layar Portugis yang panjang dan lebar. Menurut Pinto, danau tersebut lebarnya lima legua Portugis atau sekitar  25 km dan panjangnya sekitar 100 km. Tahun l828, seorang narasumber bernama Crawfurd yang menulis dalam bukunya “Description Dictionary” menyatakan, bahwa berdasarkan keterangan orang Wajo ketika itu, panjang danau tersebut sekitar 38 km. Sumber lain Nahuijs van Burgst  dalam buku “ Briven 54” menyebutkan tahun 1827 Danau Sidenreng  berhubungan dengan Danau Tempe. Danau Tempe mempunyai keliling 72 km dengan kedalaman 6-30 kaki. Tetapi pada pengukuran Danau Sidenreng tahun 1889, tentu oleh pihak kolonial Belanda, diperkirakan luas danau tersebut 30 mil persegi dan Danau Tempe 59 mil persegi, serta kedalaman 4-5 meter pada musim hujan.  Sejak waktu itu, disebutkan danau tersebut selalu kering pada musim kemarau. Penuturan ini, masih sinkron dengan keadaaan sekarang. Menurut penduduk setempat, pada musim kemarau dari tappareng Sidenreng orang bisa berjalan kaki melalui danau itu ke Belawa kabupaten Sengkang. Sementara pada musim hujan dan bila terjadi banjir, Danau Sidenreng dan Danau Tempe menyatu kembali. Menurut penuturan lain, Danau Sidenreng  pernah berhubungan dengan Sungai Saddang yang mengalir ke Selat Makassar melalui Suppa. Sungai Saddang dulu juga melalui daerah yang  disebut Danau Alitta  ( Sawitto), tetapi kemudian danau itu menjadi rawa-rawa diawal  abad ke  20 ,  kemudian menjadi kering kerontang, tanpa bekas sekarang ini. </p>
<p>Masa itu, pernah pemerintah dan masyarakat di Sidenreng membuat sebuah rencana besar menggali terusan sepanjang 22 km guna mengalihkan aliran sungai ke Selat Makassar, agar alur perdangan dari Sidenreng bisa langsung, tidak melalui Sungai Cenrana di Teluk Bone, tetapi rencana itu gagal. </p>
<p>Dalam teks I Lagaligo, sebuah karya sastra Bugis Makassar yang bercampur mitologi, konon menyebutkan pula bahwa pada masa  lembah Danau Tempe masih digenangi air “ laut tawar” dan orang Makassar menyebut danau itu sebagai “Tapparang La’baya” dan orang Bugis menyebutnya “Tappareng Karaja”, maka pada abad ke 16 Sulawesi-Selatan diperkirakan dibelah dua oleh laut air tawar, tetapi kemudian terbagi menjadi danau-danau kecil ; Danau Tempe, Danau Sidenreng dan Danau Alitta (yang sudah kering). </p>
<p>Pada masa itu, masyarakat setempat sudah menggantungkan hidupnya pada penghasilan ikan air tawar dari danau-danau itu. Bahkan sampai sekarang dengan lebar yang makin menyempit ( Oktober) hanya sekitar selebar 30 sampai 40 meter, kedalaman sekitar satu setengah  meter, Danau Sidenreng masih berpenghasilan milyaran rupiah.  Pada musim hujan dan banjir, air danau meluap dan penduduk sekitarnya terpaksa hanya berdiam di rumah. “Belantara” enceng gondok yang sudah menciptakan “daratan” khusus, tetapi tempat sarang dan persembunyian ikan, bisa bergeser karena arus deras ke tepi danau dan menggoyangkan rumah penduduk. Rumah-rumah penduduk terpaksa dipagari dengan batangan bambu panjang sebagai penghalau. Dari jauh, terlihat seperti antene menjulang tinggi. </p>
<p>Memperhatikan perubahan geografis sungai-sungai kuno pada abad tersebut dan melihat kondisinya sekarang yang berubah drastis, menarik untuk dipelajari , bagaimana sungai-sungai itu bermuara di kawasan Ajatappareng dan khususnya di Bacukiki. Saya menduga Sungai Bacukiki dulu juga memiliki lebar dan kedalaman yang tidak seperti sekarang. Perhatikan kawasan “Sore dangkang” yang lokasinya tidak beberapa jauh dari jalan poros Makassar-Parepare, kemungkinan dulu sebagai tempat lego jangkar perahu-perahu dagang internasional. </p>
<p>Sayang  pemerintah daerah apalagi anak-anak muda, tidak tertarik dengan sejarah geografis daerah. Mereka tidak berminat melakukan rekonstruksi sejarah atau membuat tesis mengenai hal ini. Kita semua kalah dengan orang asing yang justru tidak punya kepentingan lagi dengan daerah ini, kecuali  untuk menjadi ahli khusus Bugis Makassar seperti Christian Pelras, Crawfurd, Leonard Andaya.. </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/panritalopi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/panritalopi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/panritalopi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/panritalopi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/panritalopi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/panritalopi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/panritalopi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/panritalopi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/panritalopi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/panritalopi.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panritalopi.wordpress.com&blog=5524898&post=24&subd=panritalopi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://panritalopi.wordpress.com/2008/11/19/24/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6727c7236734a0710550028f09a399c6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">panritalopi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>