<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Panritalopi's Blog &#187; Carita-carita abaut me&#8230;</title>
	<atom:link href="http://panritalopi.wordpress.com/category/carita-carita-abaut-me/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://panritalopi.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Jan 2009 06:57:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='panritalopi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/a56ea12fb2a1c49b915efc6cc17cf8de?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Panritalopi's Blog &#187; Carita-carita abaut me&#8230;</title>
		<link>http://panritalopi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://panritalopi.wordpress.com/osd.xml" title="Panritalopi&#8217;s Blog" />
		<item>
		<title>Coretan Awal Tahun 2009</title>
		<link>http://panritalopi.wordpress.com/2009/01/01/coretan-awal-tahun-2009/</link>
		<comments>http://panritalopi.wordpress.com/2009/01/01/coretan-awal-tahun-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 06:54:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>panritalopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Carita-carita abaut me...]]></category>
		<category><![CDATA[IKAMI Hendriyadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panritalopi.wordpress.com/2009/01/01/coretan-awal-tahun-2009/</guid>
		<description><![CDATA[Sambil mendengarkan lagu Daniael Powter-Bad Day, kumulai untuk menggerakkan jari-jemariku untuk mencoret-coret di atas lembaran putih ini. Walau badan masih sangat pegal karena tidur larut malam dan seharian membantu teman-teman menyiapkan penyambutan malam Tahun Baru 2009 di PB IKAMI SulSel, tempat kumpulnya Mahasiswa dan alumni yang berasal dari Sulawesi Selatan. Seluruh masyarakat di seluruh dunia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panritalopi.wordpress.com&blog=5524898&post=45&subd=panritalopi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sambil mendengarkan lagu Daniael Powter-Bad Day, kumulai untuk menggerakkan jari-jemariku untuk mencoret-coret di atas lembaran putih ini. Walau badan masih sangat pegal karena tidur larut malam dan seharian membantu teman-teman menyiapkan penyambutan malam Tahun Baru 2009 di PB IKAMI SulSel, tempat kumpulnya Mahasiswa dan alumni yang berasal dari Sulawesi Selatan. Seluruh masyarakat di seluruh dunia pastinya ikut menyambut Tahun Baru ini walaupun dengan ber beda-beda moment.</p>
<p>Magrib, 31 Desember 2008 semua teman-teman Apartemen Talang 39 telah sibuk mempersiapkan peralatan-peralatan yang diperlukan untuk penyambutan pukul 00.00. Telah ada terompet. Jagung, bahan-bahan pembuatan Sarabba (minuman khas Sulawesi Selatan) yang ditangani langsung oleh Ical. Desain panggung dan segala propertinya di bawah tanggungjawab Mubarak, seksi pengisian kampung tengah (konsumsi) diamanahkan kepada Ta’dir. Adapun amanah yang diberikan ke saya yakni seksi peralatan, katanya saya harus ngurus-ngurus panci, kompor dan lainnya. Seusai Shalat Magrib, satu per satu tamu sudah mulai berdatangan merapat di depan Apartemen Talang 39. Ada teman-teman dari Trisakti, ALTRI, STIS, STAN Bea Cukai,  kakak-kakak alumni dan lain-lain membaur menjadi satu atas nama IKAMI SulSel.</p>
<p>Tibalah di acara penampilan seni Bugis-Makassar yang berlangsung ba’da Isya. Setelah pembukaan oleh MC yang di handel langsung oleh Nenhy, salah satu mahasiswa akhir UPI-YAI. Sambutan yang diberikan oleh Kak Immank sebagai ketua Sanggar Lontara. “Penampilan pertama Rifai dari ALTRI”, kata MC. Saat itu juga Rifai dan kawannya bangkit dari dari tengah-tengah kumpulan anak ALTRI di dam pingi oleh teman band-nya yang telah mempersipkan gitar. Lagu pertama dimulai dan disambut dengan tepuk tangan dari seluruh audiens karena memang suaranya cukup bagus. Laugu demi lagu terus di dendangkan untuk menghibur kawan-kawan yang hadir di halaman. </p>
<p>Saat Rifai masih tampil, saya berdiri dari tempat duduk dan memanggil Ical untuk naik ke lantai 2. Sekedar info, malam ini saya di minta oleh ketua panitia untuk mempersembahkan sesuatu untuk menghibur para penonton. Puisi akhirnya menjadi pilihan saya, maklum untuk nyanyi sih, masih kurang percaya diri. Di lantai 2 bersama Ical saya mulai latihan puisi dadakan yang saya ambil dari Internet. Ical saya minta untuk menyanyi mengiringi lagu saya dan ternyata Ical cukup siap untuk membantu saya. Seusai latihan kami pun kembali ke halaman Apartemen Talang 39.   </p>
<p>“Penampilan selanjutnya akan yaitu sebuah puisi yang akan dibawakan oleh Hendri”, suara itu keluar dari vivir MC dengan suara merdu. Kuraih bahu Ical dan kukatakan “Ayo kita naik”. Saya dan Ical berjalan menuju panggung mini. “Assalamu Alaikum Wr. Wb. Malam ini kami akan membawakan puisi-puisi yang pertama yakni Bangkit karya Dedy Mizwar”. Saya pun mulai membacakan puisi tersebut.<br />
	Bangkit itu susah…<br />
	Susah melihat orang lain susah<br />
	Senang melihat orang lain senang<br />
	Dst…..(sampai terakhir)<br />
Ical mengiringi puisi saya dengan lagu Indonesia Tanah Air Beta, dia menyanyikan lagu tersebut dengan penuh penghayatan. Seusai puisi Bangkit saya melanjutkan dengan sebuah puisi yang menggambarkan kondisi Bmi Makassar saat ini. Puisi itu diberi judul Kepada Karaeng dan diiringi lagu Sulawesi Parrasanganta dan Anging Mammiri yang masih di nyanyikan oleh Ical. Tanpa berlama-lama saya membuka kertas yang telah ada di tangan saya dan segera saya bacakan di hadapan kawan-kawan.<br />
	Kepada Karaeng</p>
<p>di depanku<br />
masih berdiri kokoh Lae-Lae<br />
menumbuhkan seribu  pucuk kelapa<br />
melambai, memanggil-manggil para nelayan<br />
agar bergegas melabuhkan perahu kepenatan<br />
diantara gejolak rindu pepasir menghampar.</p>
<p>depanku<br />
masih berdiri kokoh Kahyangan<br />
tersenyum diantara kepak burung camar<br />
hanya angin dan ombak kecil<br />
yang datang sesekali menampar-nampar bibir pantai<br />
lalu surut lagi ke keluasan laut biru.</p>
<p>di depanku, nun diantara kemilau<br />
kecipak air laut selat Makassar<br />
Samolana mengapung di antara senja<br />
dan bayang-bayang malam  yang hampir datang<br />
mendekat, mendekap, memeluk kita di Losari<br />
yang tak lagi berpasir kini.</p>
<p>Karaeng, hari ini, aku tiba lagi di kotamu<br />
seusai aku menuntaskan perjalanan<br />
:letih dan lesuh terus mengurungku</p>
<p>hingga segala jarak dan arah mengalah<br />
hingga rindu dendam tak jadi beku.</p>
<p>Karaeng !<br />
“Apa kareba Karaeng?”<br />
inilah Mangkasar yang dulu kau bangun dengan airmata<br />
lewat desah-resah yang tak terbalaskan.</p>
<p>Karaeng, lihatlah !<br />
aku berjalan di sepanjang pantai Losari<br />
memunguti air mataku sendiri begini<br />
: tak ada lagi pepasir yang mengurung kakiku<br />
sebagaimana dulu ketika kau memilih kota ini<br />
menjadi pusat peradaban kerajaan Gowa.</p>
<p>Lihatlah, Karaeng !<br />
senja memang masih indah<br />
tetapi kulihat, tak ada lagi burung camar yang melintas<br />
menampar dan menabrak layar para pelaut<br />
juga tak satupun kapal Pinisi yang melintas mengurai gelombang<br />
mendendangkan lagu Anging Mammiri.</p>
<p>Oh, inikah kota Mengkasar yang kini jadi Makassar?<br />
kota yang memepertaruhkan Sultan Hasanudin<br />
dan mengantarnya hingga ke batu penghabisan.</p>
<p>Karaeng !<br />
di depan Fort Roterdam<br />
hari ini aku berdiri di tanahmu, kucari lagi kau<br />
kupanjat dan kudaki lagi satu persatu<br />
setiap sudut benteng Fort Roterdam ini,<br />
dan kulihat kau datang berlayar<br />
berlayar di antara deburan putih ombak dan burung camar<br />
membelah selat Makassar diselah Lae-lae dan Kahyangan<br />
kulihat kau berdiri berjaga di ujung Pinisimu,<br />
lalu aku menyambutmu, kukatakan:<br />
“Hei, Karaeng datang…….Karaeng datang…… !” kataku<br />
kulihat wajahmu memerah darah<br />
kau cabut badik dari warangkanya di pinggang kirimu<br />
lalu kau tikam langit.<br />
Seketika itu, kulihat langit berguguran, awan berjatuhan,<br />
beberapa pohon kelapa tumbang, bersujud di pantai<br />
menyambut hadirmu, dan kukatakan padamu:<br />
“Salamakki datang Karaeng di kota Mangkasara’ !”<br />
tapi langit terus berguguran, hujan turun seketika, dan air pun datang,<br />
banjir pun tiba, kita tiba-tiba saja tenggelam, Makassar tenggelam,<br />
semua tenggelam, dan air bah pun tumpah<br />
hingga ke rongga dada kita yang hampa.</p>
<p>Karaeng, sudahlah, Karaeng !<br />
ampunkan kami, Karaeng, maafkanlah Karaeng !<br />
inilah kami anak-anakmu yang tak tahu<br />
darimana tanah Mengkasar ini dimulai<br />
sudahlah Karaeng, sudahlah, jangan marah lagi<br />
beri kami waktu untuk berbaik diri.</p>
<p>Karaeng, sungguh kami tahu<br />
inilah Makassar tanahmu<br />
tanah, dimana kami anak cucumu belajar pada waktu<br />
yang selalu kami sia-siakan.</p>
<p>Karaeng !<br />
pada hari yang kesekian ini, aku berdiri lagi ditanahmu<br />
: di depan Fort Roterdam, aku menangis, dadaku sesak<br />
dan aku muntah. “Lihatlah, Karaeng !”<br />
hutan-hutan bakau yang dulu berderet-deret manis<br />
di sepanjang pantai Tanjung Bunga, kini telah digantikan<br />
dengan pilar-pilar dan mercusuar, beton-beton yang nancap hingga perut bumi,<br />
tiang-tiang listrik, lampu-lampu taman. Tak ada lagi hutan bakau<br />
yang mampu menghalau badai dan tsunami jika sekali waktu datang<br />
menjemput Kota Makassar yang kian sesak.</p>
<p>Karaeng, lihatlah Makassar<br />
hari ini seribu bidadari melintas di depanku,<br />
di depan benteng Fort Roterdam, mereka menjajakan tubuhnya,</p>
<p>kadang bertelanjang dada, kadang juga keindahan yang semu.<br />
dan aku malu, malu pada Karaeng, sebab inilah<br />
wajah anak-anakmu kini.</p>
<p>Yah, demikianlah Karaeng<br />
bersama sisa senja dan sepotong rokokku yang hampir pupus dan habis,<br />
ingin kukenang lagi kota-kotamu, Makassar, biar esok pagi,<br />
matahari tetap cerah, Karebosi dan Lompo Battang<br />
tetap menyimpan sisa sejarah yang hampir putus, terseok-seok<br />
di sepanjang jalan kota Makassar, lantaran kutahu<br />
hidup dan cintaku pada kotamu<br />
bukan milik kita lagi, pasti.  </p>
<p>Itulah puisi yang saya bacakan di malam tanggal 31 Desember dengan berbagai bentuk ekspresi dan penghayatan dan sekaligus sebagai bentuk protes kepada kondisi Makassar saat ini. Semoga puisi yang saya bacakan tadi menjadi inspirasi untuk memulai perubahan ke arah yang lebih baik di masa mendatang. Berubah demi kebaikan kita bersama.<br />
Waktu terus berjalan dan penampilan demi penampilan silih berganti mengisi panggung dan tak lama berselang, Kak Sahar (Ketua Umum IKAMI SulSel) datang bersama Istri dan anaknya. Sambutan tepuk tangan yang meriah menyambut kedatangannya. Selanjutnya dia membacakan sebuah puisi karya Kak Komenk.</p>
<p>Pukul 00.00<br />
Suara terompet dan sirine mobil mulai berdengung-dengung seantero Jakarta, terutama di sepanjang jalan Talang. Pesta kembang api telah menebarkan pesona di langit disaksikan awan-awan. Semua mata tertuju ke sana. Suara musik juga membahana dan diringi oleh jogetan masyarakat yang larut dalam suasana gembira menyambut tahun baru 2009. </p>
<p>Namun, dari semua keceriaan yang melanda masyarakat. Timbul satu pertanyaan dalam diri saya.<br />
Mengapa orang-orang lebih gembira menyambut tahun baru Masehi daripada Hijriah?<br />
Cobalah kita jawab dengan hati kita masing-masing.</p>
<p>Keep Spirit!!!   </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/panritalopi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/panritalopi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/panritalopi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/panritalopi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/panritalopi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/panritalopi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/panritalopi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/panritalopi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/panritalopi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/panritalopi.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panritalopi.wordpress.com&blog=5524898&post=45&subd=panritalopi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://panritalopi.wordpress.com/2009/01/01/coretan-awal-tahun-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6727c7236734a0710550028f09a399c6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">panritalopi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Funny Story: Kecelakaan di Taman Safari Indonesia &#8211; Indonesia</title>
		<link>http://panritalopi.wordpress.com/2008/11/25/funny-story-kecelakaan-di-taman-safari-indonesia-indonesia/</link>
		<comments>http://panritalopi.wordpress.com/2008/11/25/funny-story-kecelakaan-di-taman-safari-indonesia-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 13:41:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>panritalopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Carita-carita abaut me...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panritalopi.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Kecelakaan di Taman Safari Indonesia  &#8211; Indonesia
Mohon untuk menyebarluaskan ke teman dan orang terdekat anda, supaya lebih berhati-hati bila berkunjung
Ke Taman safari Indonesia (TSI).
Di bawah ini adalah pengalaman kami yang tidak akan kami lupakan seumur hidup karena amat berbahaya dan menyeramkan ketika berada di TSI.
Hari Minggu lalu (bertepatan Hari Pertama bulan puasa), kami berkunjung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panritalopi.wordpress.com&blog=5524898&post=31&subd=panritalopi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kecelakaan di Taman Safari Indonesia  &#8211; Indonesia<br />
Mohon untuk menyebarluaskan ke teman dan orang terdekat anda, supaya lebih berhati-hati bila berkunjung<br />
Ke Taman safari Indonesia (TSI).</p>
<p>Di bawah ini adalah pengalaman kami yang tidak akan kami lupakan seumur hidup karena amat berbahaya dan menyeramkan ketika berada di TSI.</p>
<p>Hari Minggu lalu (bertepatan Hari Pertama bulan puasa), kami berkunjung ke TSI dengan menggunakan Mobil Keluarga, 4 orang dewasa Dan 2 anak kecil dengan tujuan refreshing, melihat binatang yang belum pernah kami lihat secara langsung dari dekat terutama yang besar dan liar atau berbahaya.</p>
<p>Belum lama kami berada di TSI, kira-kira 10 menit, mobil kami<br />
memasuki area binatang yang bukan binatang buas (kijang, banteng dll), tiba-tiba mobil kami mogok dan meski sudah mencoba untuk merestart beberapa kali, tetapi mesin sama sekali tidak bisa di hidupkan kembali.</p>
<p>Kami pikir mungkin cipratan air telah menyebabkan Mobil kami mogok saat baru saja melewati genangan air seperti sungai kecil di TSI.</p>
<p>Meskipun ragu-ragu, karena tidak terlihat Ada petugas TSI di dekat situ, akhirnya paman saya turun untuk membuka kap mesin.</p>
<p>Kami tidak membunyikan klakson karena takut mengganggu binatang di TSI.<br />
Kami pikir, area ini adalah area yang aman, bukan area binatang buas, jadi kami berusaha tenang menunggu di dalam mobil sambil ngobrol.</p>
<p>Namun tiba-tiba kami terkejut ketika melihat seekor singa yang entah dari mana datangnya sudah berada di<br />
Belakang Mobil kami Dan berjalan ke arah depan Mobil dimana paman kami berada.</p>
<p>Lalu… Entah kenapa kami semua seperti terhipnotis melihat singa itu mendekati paman kami yang asyik<br />
Mencari kerusakan Mobil Dan tidak tahu dengan kedatangan singa itu.</p>
<p>Kami benar-benar hanya terpaku melihat singa itu tanpa berusaha untuk memberitahu paman Ada bahaya yang<br />
Datang.</p>
<p>Dan..?? Bertepatan paman menutup kap mesin…. Ketika itu pula singa sudah berada tepat dibelakang tubuh paman saya, sehingga tampak sangat jelas oleh kami dari dalam mobil bagaimana sangat dekatnya singa terhadap paman,</p>
<p>Dan..<br />
Saat itu pula singa itu langsung mencolek bahu paman saya seraya berkata,<br />
“‘kagak usah takut …<br />
Gua lagi puasa …..<br />
Kenapa mobilnya …<br />
Mogok ya…..’ ???”</p>
<p>(ddeeeuuuu.. bacanya serius amat, mas, mbak, bung, cuyyyy! hahahahahahahhaa</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/panritalopi.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/panritalopi.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/panritalopi.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/panritalopi.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/panritalopi.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/panritalopi.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/panritalopi.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/panritalopi.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/panritalopi.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/panritalopi.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=panritalopi.wordpress.com&blog=5524898&post=31&subd=panritalopi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://panritalopi.wordpress.com/2008/11/25/funny-story-kecelakaan-di-taman-safari-indonesia-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6727c7236734a0710550028f09a399c6?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">panritalopi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>